Tiga Domain Kajian Filsafat Ilmu
TUGAS FILSAFAT PENDIDIKAN
JURUSAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS
SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015/2016
TIGA
DOMAIN KAJIAN FILSAFAT ILMU
1 ONTOLOGI
Ontology merupakan
salah satu di antara lapangan penyelidikam kefilsafatan yang paling kuno. Awal
mula alam pikiran Yunani telah menunjukan munculnya perenungan dibidang
ontologi.
Dalam
persoalan ontology orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dan segala yang ada ini?
Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang Pertama,
kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan yang kedua kenyataan yang berupa
rohani (kejiwaan).
Pembicaraan
tentang hakikat sangatlah luas sekali, yaitu segala yang ada dan yang mungkin
ada. Hakikat adalah realitas, realita adalah
ke-real-an, Rill artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi hakikat adalah
kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang
menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.
Pembahasan tentang ontology sebagai dasar ilmu
berusaha untuk menjawab “apa” yang menurut Aristoteles merupakan The First
Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda-benda.
Kata
ontology berasal dari perkataan Yunani: On = Being, Logos = Logic. Jadi
Ontologi adalah The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai
keberadaan).
Louis
O.Kattsoff dalam Elements of Filosophy mengatakan, ontologi itu mencari
ultimate reality dan menceritakan bahwa diantara contoh pemikiran ontologi
adalah pemikiran Thales, yang berpendapat bahwa airlah yang menjadi ultimate
substance yang mengeluarkan semua benda. Jadi asal semua benda hanya satu saja
yaitu air.
Noeng
Muhadir dalam bukunya Filsafat Ilmu mengatakan, ontologi membahas tentang yang
asa yang universal, menampilkan
pemikiran semesta universal.
Menurut
Jujun S. Suriasumantri dalam Pengantar
Ilmu dan Perspektif mengatakan, ontologi membahas apa yang ingin kita
ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu atau dengan perkataan lain suatu
pengkajian mengenai teori tentang “ada”.
Dari
beberapa pengetahuan diatas dapat disimpulkan bahwa:
1. Menrut
bahasa , ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu, On/Ontos = ada, dan Logos =
Ilmu. Jadi, ontology adalah ilmu tentang yang ada.
2 Menurut
istilah, ontology ialah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang
merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun
rohani/abstrak.
Didalam
pemahaman ontology dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok peikiran sebagai
berikut:
a.
Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat
yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua.
Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lainya. Istikah
monoisme oleh Thomas Davidson disebut
dengan Block Universe. Paham ini kemudian terbagi menjadi 2 aliran, antara lain:
Materialisme
Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi
bukan rohani. Aliran ini juga sering disebut dengan naturalisme, menurutnya bahwa zat
mati merupakan kenyataan dan satu-satu nya fakta.
Idealisme
Aliran idealisme yang dinamakan juga
dengan spiritualisme. Idealisme
berarti serba cinta sedangkan spiritualisme berarti serba ruh. Idealism diambil
dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan
bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma).
Materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dari pada jelmaan ruhani.
b.
Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri
dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat
ruhani, benda dan ruh, jaded dan spirit. Materi bukan muncul dari ruh dan ruh
juga bukan muncul dari benda.
Tokoh paham ini
adalah Descrates (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia
menamakan dua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia
ruang (keadaan). Descrates meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan.
Mula-mula ia mencoba meragukan semua yang dapat diindera, objek yang sebenarnya
tidak mungkin diragukan. Dia meragukan badannya sendiri. Keraguan itu menjadi
mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi dan juga pada
pengalaman dengan ruh halus ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Dalam empat
keadaan tersebutu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan
yang sesungguhnya. Menurut Descrates ia menyatakan bahwa ada satu yang tidak
dapat diragukan yaitu, saya sedang ragu. Menurutnya bahwa “saya sedang ragu”
berarti memang benar-benar tidak dapat diragukan adanya.
Aku sedang ragu ini disebabkan oleh aku
berpikir. Kalau begitu aku
berpikir pasti ada dan benar. Jika
berpikir itu ada, berarti aku ada sebab yang berpikir itu aku. Cogito Ergo Sum,
aku berpikir jadi aku ada. Paham ini kemudian terkenal dengan rasionalisme,
yaitu paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting
dalam memperoleh pengetahuan, dan mengetes pengetahuan.
Umumnya manusia
tidak akan mengalami kesulitan untuk menerima prinsip dualism, karena setiap
kenyatan lahir dapat segera ditangkap oleh pancaindra kita, sedangkan kenyataan
batin dapat segera diakui adanya oleh akal dan perasaan hidup.
c.
Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam
bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan yang mengakui
bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata.
Pluralism dalam
Dictionary of Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa
kenyataan alam ini
tersusun atas banyak unsure, lebih dari satu atau dua entitas. Tokoh aliran ini
pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa
subtansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api
dan udara.
Tokoh modern ini adalah Wiliam James (
1842-1910 M ), kelahiran New York dan terkenal sebagai seorang psikologi dan
filosof Amerika. Dalam bukunya The Meaning of Truth , James mengemukakan bahwa,
tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang
mengenal. Sebab
pengalaman kita berjalan terus, dan segala yang kita anggap benar dalam
perkembangan pengalaman dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.
Oleh
karena itu, tiada
kebenaran yang mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran yaitu apa yang benar
dalam pengalaman-pengalaman
khusus yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman-pengalaman berikutnya.
Dunia bukanlah
suatu Universum melainkan Multiversum, dunia adalah sesuatu yang terdiri dari
banyak hal yang beraneka ragam atau pluralis.
d.
Nihilisme
Nihilism berasal dari Bahasa Latin yang
berarti nothing atau tidak ada. Istilah nihilism diperkenalkan oleh Ivan
Turgeniev dalam novelnya Fathers and Childern yang ditulisnya pada tahun 1862
di Rusia. Dalam novel itu Bazarov sebagai tokoh sentral mengatakan lemahnya
kutukan ketika ia menerima ide nihilisme.
Doktrin tentang nihilism sebenarnya sudah
ada sejak zaman Yunani Kuno, yaitu pada pandangan Gorgias (483-360 SM) yang
memberikan 3 proposisi tentang realitas.
Pertama
tidak ada sesuatu pun yang eksis
Kedua
bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat
diketahui
Ketiga
, sekalipun realitas itu dapat diketahui,
ia tidak akan dapat diberitahukan kepada orang lain.
Tokoh lain aliran ini adalah Friedrich
Nietzche (1844-1900 M), dilahirkan dari keluarga pendeta. Dalam
pandanganya bahwa “Allah sudah mati”, Allah Kristiani dengan segala perintah
dan laranganya sudah tidak merupakan rintangan lagi. Dunia terbuka untuk
kebebasan dan kreativitas manusia. Maka, dengan sendirinya manusia modern akan
terancam nihilism, yang menyebabkan nilai-nilai
kristiani akan lenyap.
e.
Agnotisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk
mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi ataupun rohani.
Kata Agnotisisme
berasal dari bahasa Grik Agnostos yang berarti unknown. A artinya not dan Gno
artinya know. Timbulnya aliran
ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara
konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran
ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan yang bersifat
transenden.
Menurut Martin
Heidegger (1889-1976 M), seorang filosof Jerman, mengatakan satu-satunya yang
ada itu ialah Manusia.
Sedangkan
pemahaman lainya oleh, Jean Paul Sartre (1905-1980 M) seorang filosof dan sastrawan
Perancis yang atheis sangat terpengaruh
dengan pikiran atheisnya, yang mengatakan bahwa manusia selalu menyangkal.
Hakikat beradanya manusia bukan etre (ada) melainkan a etre (akan atau
sedang).
Karl Jaspers
(1833-1969 M) menyangkal adanya sesuatu kenyataan yang transenden. Yang mungkin
itu hanyalah manusia berusaha mengatasi dirinya sendiri dengan membawakan dirinya yang
belum sadar kepada kesadaran
yang sejati.
Jadi agnotisisme adalah paham pengingkaran
atau penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengtahui hakikat benda baik
materi maupun rohani. Aliran
ini mirip aliran skeptisisme yang berpendapat bahwa manusia diragukan
kemampuannya mengetahui hakikat.
2.
EPISTOMOLOGI
Epistomologi atau teori pengetahuan ialah
cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan,
pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas
pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Pada abad ke-5
SM, muncul keraguan terhadap kemungkinan kemampuan manusia mengetahui realitas.
Mereka adalah kaum sophis. Sikap kaum sophis yang skeptis inilah yang mengawali
munculnya epistomologi.
Metode empiris
yang telah dibuka oleh Aristoteles
mendapat sambutan yang baik pada
zaman Renaisans dengan tokoh utamanya Francis Bacon (1561–1626). Dua diantara
karya-karyanya adalah The Advancement of Learning (1606) dan Novum Organum
(Organum baru).
Filsafat Bacon
mempunyai peran
penting dalam induksi
dan sistematisasi prosedur ilmiah menurut Russel, dasar filsafatnya sepenuhnya
bersifat praktis, yaitu untuk memberi kekuasaan kepada manusia atas alam
melalui penyelidikan ilmiah. Bacon melakukan usahanya dengan menegaskan tujuan
pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan tidak akan mengalami perkembangan dan
tidak akan bermakna kecuali ia mempunyai kekuatan yang dapat membantu manusia meraih kehidupan yang
lebih baik. “Knowledge is power, it is not opinion to be held , but a work to
be done, I am laboring to lay the foundation not of any sectore of doctrine,
but of utility and power”.
Sementara menurut Descrates (1596-1650 M),
persoalan dasar dalam filsafat pengetahuan bukan bagaimana kita tahu, tetapi
mengapa kita dapat membuat kekeliruan? Prosedur yang disarankan oleh Descrates untuk mencapai kepastian
adalah keraguan metodis universal, keraguan ini bersifat universal karena
direntang tanpa batas, atau sampai keraguan ini membatasi dirinya. Artinya
usaha meragukan itu akan berhenti bila ada sesuatu yang tidak dapat diragukan
lagi.
Pengetahuan yang
diperoleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode
tersendiri dalam teori pengetahuan, diantaranya adalah:
a.
Metode
Induktif
Induksi yaitu suatu metode yang
menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu
pernyataan yang lebih umum. Suatu inferensi bisa disebut induktif bila bertolak dari
pernyataan-pernyataan tunggal, seperti gambaran mengenai hasil pengamatan dan
penelitian orang sampai pada pernyataan-pernyataan
universal.
David Hume (1711-1716), menurutnya
penyataan yang berdasarkan observasi tunggal betapapun besar jumlahnya secara
logis tak dapat menghasilkan suatu pernyataan umum yang tak terbatas.
Dalam induksi,
setelah diperoleh pengetahuan
maka akan dipergunakan hal-hal lain, seperti ilmu mengajarkan kita bahwa logam
dipanasi juga akan mengembang, bertolak
dari teori ini kita akan tahu bahwa logam
lain kalau dipanasi juga akan mengembang. Contoh tersebut menunjukan bahwa
induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan yang disebut juga dengan
pengetahuan saintek.
b.
Metode
Deduktif
Deduksi ialah suatu metode yang
menyimpulkan bahwa data-data empiric diolah lebih lanjut dalam suatu sistem
pernyataan yang runtut. Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif adalah
adanya perbandingan logis antara
kesimpulan-kesimpulan itu sendiri. Hal ini bertujuan apakah teori tersebut
mempunyai sifat empiris atau ilmiah.
c. Metode Positivisme
Metode ini dikeluarkan oleh August Comte
(1798-1857) metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang factual,
yang positif. Ia menyampingkan segala uraian/persoalan diluar yang ada sebagai
fakta. Apa yang diketahui secara positif
adalah segala yang tampak dan segala gejala. Dengan demikian metode ini dalam
bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada gejala-gejala saja.
Menurut Comte perkembangan pemikiran
manusia berlangsung dalam 3 tahap: teologis, metafisis, dan positif pada tahap
teologis orang berkeyakinan bahwa dibalik segala sesuatu tersirat pernyataan
kehendak khusus.
Pada tahap metafisik, kekuatan adikodrati
itu diubah nenjadi kekuatan yang abstrak yang kemudian dipersatukan dalam
pengertian yang bersifat umum yang disebut dengan asal dari segala gejala.
Dan tahap positif disini ialah menemukan
hukum-hukum kesamaan dan urutan yang
terdapat pada fakta-fakta dengan pengamatan
dan penggunaan akal.
d.
Metode
Kontemplatif
Metode ini mengatakan adanya keterbatasan
indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang
dihasilkan pun akan berbeda-beda
seharusnya dikembangkan suatu kemapuan akal yang disebut dengan intuisi.
Intuisi atau
tasawuf disebut dengan ma’rifah yaitu pengetahuan yang datang dari Tuhan
melalui pencerahan dan penyinaran. Menurut
Al-Ghazali pengetahuan yang diperoleh
melalui intuisi ini
adalah pengetahuan yang paling benar yang bersifat individual.
e.
Metode
Dialektis
Dalam filsafat, dialektik mula-mula
berarti metode tanya jawab untuk ntuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini
diajarkan oleh Socrates, namun Plato mengartikanya diskusi logika. Kini
dialektika berarti tahap lgika yang mengajarkan
kaidah-kaidah dan metode-meode penuturan, juga analisis sistematik terhadap
ide-ide. Dalam teori
pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tersusun dari satu pikiran yang
seperti dalam percakapan.
3.
AKSIOLOGI
Aksiologi berasal dari perkataan axios
(Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi
merupakan teori tentang nilai.
Menurut Jujun
S.Suriasumantri arti aksiologi yang terdapat dalam bukunya yang berjudul
Filsafat Sebuah Pengantar Populer bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai
yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Sedangkan,
menurut Bramel aksiologi terbagi dalam tiga bagian, yaitu:
Pertama, moral conduct yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan
disiplin khusus yakni etika.
Kedua , esthetic
expression, yaitu ekspresi keindahan, bidang ini melahirkan keindahan.
Ketiga, yaitu kehidupan sosial politik,
yang akan melahirkan filsafat sosial politik.
Didalam Encyclopedia of Philosophy
dijelaskan, aksiologi disamakan dengan Value and Valuation. Ada tiga bentuk
Value and Valuation.
a. Nilai,
digunakan sebagai kata benda abstrak. Dalam pengertian yang lebih sempit
seperti, baik, menarik, dan bagus. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas
mencangkupi sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran, dan kesucian.
b. Nilai
sebagai kata benda konkret. Contohnya ketika kita sebuah nilai atau
nilai-nilai, ia seringkali dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai,
seperti nilainya, nilai dia. Kemudian dipakai untuk apa-apa yang memiliki nilai.
c. Nilai
digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai, dan dinilai.
Menilai umumnya sinonim dari evaluasi.
Dari definisi-definisi mengenai aksiologi
diatas, terlihat bahwa aksiologi membahas tentang nilai. Nilai yang dimaksud
adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk
melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang
nilai yang dalam filsafat mengacu pada etika dan estetika. Makna etika dipakai
dalam dua bentuk arti, pertama, etika
merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap
perbuatan-perbuatan manusia. Seperti ungkapan “saya pernah belajar etika”. Arti
kedua, merupakan suatu predikat yang
dipakai untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusia-manusia
yang lain. Seperti ungkapan “ia bersifat etis atau ia seorang yang jujur atau
pembunuhan merupakan sesuatu yang tidak asusila”.
Etika
menilai perbuatan manusia, maka objek formal etika adalah norma-norma
kesusilaan manusia. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang
pengalaman keindahan yang dimiliki manusia terhadap lingkungan dan fenomena
disekelilingnya.
Nilai itu objektik atau subjektif adalah
sangat tergantung dari hasil pandangan yang muncul dari filsafat. Nilai akan
menjadi subjektif apabila subjek sangat berperan dalam segala hal. Nilai itu
objektif, jika ia tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai.
Kemudian bagaimana dengan nilai dalam ilmu
pengetahuan. Nilai objektif hanya menjadi tujuan utamanya seorang ilmuwan dalam
melakukan penelitian, dan ia tidak mau terikat denga nilai-nilai subjektif,
seperti nilai-nilai masyarakat, nilai agama, nilai adat, dan sebagainya. Bagi
seorang ilmuwan kegiatan ilmiahnya dengan kebenaran ilmiah adalah yang sangat penting.
Kemudian
bagaimana solusi bagi ilmu yang terkait dengan nilai-nilai? Ilmu pengetahuan
harus terbuka pada konteksnya, dan agamalah yang menjadi konteks itu. Solusi
yang diberikan oleh Alquran terhadap ilmu pengetahuan yang terikat dengan nilai
adalah dengan cara mengembalikan ilmu pengetahuan pada jalur semestinya,
sehingga ia menjadi berkah dan rahmat kepada manusia dan alam bukan
sebaik-baiknya membawa mudharat.
Komentar
Posting Komentar