RASIONALISME

Secara etimologi, istilah Rasionalisme berasal dari bahasa Inggris yaitu “Rationalism”. Kata ini berakar dari bahasa Latin “Ratio” yang berarti akal. Sehingga dapat dikatakan bahwa Rasionalisme merupakan suatu aliran atau ajaran yang didasarkan pada ide yang dapat diterima oleh akal. Rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes yang disebut sebagai bapak filsafat modern. Ajaran ini lebih menekankan pada kekuatan akal sebagai  alat dalam menggali sumber pengetahuan.

Sejarah Rasionalisme
Aliran rasionalisme ini dirintis pertama kali oleh Heraclitus, Ia beranggapan bahwa akal melebihi panca indera dalam menggali pengetahuan. Pada zaman pertengahan rasionalisme Yunani berkembang di tangan Socratos, Plato dan Aristoteles. Rasionalisme mencapai puncaknya pada masa Aristoteles dengan berusaha menangani serangan pemikiran aliran Sufastho’iyyun yang beranggapan bahwa “Suatu perkara dianggap baik bila manusia mengira ia adalah baik”. Sebagai hasilnya, Aristoteles mengemas rasionalisme itu kedalam karyanya yang berjudul “Organaon” dengan menyusun kaedah ilmu logis secara sistematis. Akhirnya rasionalisme menguasai Tamadun Yunani sampai zaman Helenisme. Tokoh pendukung Rasionalisme lainnya adalah Rene Descartes, Spinoza dan Gottfried Eilhem von Leibniz.

Tokoh-tokoh Rasionalisme

1. Rene Descartes (1596-1650 M)
Rene Descartes berpendapat bahwa dalam memperoleh suatu pengetahuan yang dapat dipercayai sangat dibutuhkan akal. Karena sumber pengetahuan dapat dikatakan ilmiah jika diperolehnya melalui akal. Descartes ini tidak puas dengan filsafat scholastik(tradisional) karena filsafat tersebut tidak memiliki metode berpikir yang jelas dan pasti. Ketegangan dan keraguan Descartes sangat menggebu dalam filsafat tersebut. Akhirnya Descartes menciptakan metode baru yaitu metode keraguan. Ia menganggap bahwa sikap ragu itu merupakan cara berpikir karena dengan keraguan itu membuat seseorang mencari kebenaran atau kepastian tersebut.Dengan kata lain, sumber kebenaran itu berasal dari akal. Sehingga selanjutnya dapat disebut  dengan Rasionalisme.

2. Spinoza (1632-1677 M)
Spinoza melepaskan diri dari ikatan agama maupun masyarakat, ia berkeinginan untuk menciptakan suatu sistem berdasarkan rasionalisme. Menurut Spinoza, aturan atau hukum yang terdapat dalam suatu hal itu tidaklah lain dari aturan atau hukum yang terdapat pada ide.

3. Gottfried Eilhelm von Leibniz (1646-1716 M)
Pada masa mudanya Leibniz ini mempelajari scholastik(tradisioanl). Kemudian ia mengenali aliran-aliran filsafat modern.Ia menerima substansi Spinoza tetapi ia tidak menerima paham serba Tuhannya. Menurut Leibniz, dalam substansi itu terdapat segala kesanggupannya, sehingga mengandung segala kesungguhan pula. Untuk menerangkan segala macam dalam dunia ini diterima oleh Leibniz sebagai cermin yang dapat membayangkan kesempurnaan dengan cara sendiri.

Pola Pikir Rasionalisme

Aliran Rasionalisme ini mengacu pada perolehan kebenaran melalui logika, pembuktian serta analisis yang berdasarkan fakta. Aliran ini menolak terhadap suatu kepercayaan dan perasaan. Dengan kata lain, tujuan rasionalisme ini hampir mirip dengan humanisme dan atheisme, yaitu menyediakan suatu tempat bagi filsafat diluar kepercayaan atau tahayul.
Penjelasan-penjelasan diatas mampu memberikan gambaran mengenai aliran  Rasionalisme ini. Menurut saya, Rasionalisme adalah suatu aliran yang beranggapan bahwa akal merupakan alat terpenting dalam menggali pengetahuan. Yang melatarbelakangi munculnya Aliran Rasionalisme ini adalah untuk menjauhkan diri dari cara berpikir yang tradisional, yang dahulunya sempat diterima namun tidak dapat mengena pada ilmu pengetahuan yang mutlak serta tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Aliran ini lebih mengedepankan logika dengan pembuktian fakta, dan aliran ini sangat menolak dengan adanya suatu hal yang memiliki banyak arti (kebenaran yang tidak mutlak).
Contoh cara berpikir bukan rasionalisme yang ada di kalangan masyarakat Indonesia yaitu kesalahan penafsiran mengenai noda putih yang muncul di kuku. Kebanyakan orang beranggapan bahwa munculnya noda putih ini menandakan ada seseorang yang sedang merindukan kita atau bahkan mencintai kita. Penafsiran yang seperti ini hanyalah sebuah mitos yang kemudian membuat orang mempercayainya. Namun sebenarnya menurut istilah medis, noda putih pada kuku ini dinamakan Leukonychia. Penyebab munculnya noda putih di kuku adalah trauma ringan atau sedang pada kuku ketika sedang tumbuh. Trauma yang dialami kuku ini diakibatkan karena suatu cidera pada kuku itu. Dan noda putih di kuku ini tanda adanya infeksi ringan atau alergi atau efek samping dari pengobatan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang masih mempercayai hal-hal yang khayal, tidak ada kebenaran yang rasional. Sehingga sangat perlu untuk semua masyarakat menerapkan rasionalisme dengan cara seperti :

a.    Selalu menggunakan akal pikiran dalam mempercayai atau menggali sumber pengetahuan
b.   Selalu merasa tidak puas dengan sumber pengetahuan yang diperoleh, sehingga menjadikan kita selalu mencari tahu kebenaran yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan
c.    Tidak menerima begitu saja pemikiran-pemikiran yang tidak dapat diterima oleh akal

Contoh cara berpikir bukan rasionalisme yang ada pada diri sendiri yaitu mempercayai kekuatan orang pintar seperti kyai yang memberi segelas air minum yang telah diberi doa yang digunakan agar seseorang bisa menjadi pandai. Jika dipikir rasional, hal semacam ini berhubungan dengan masalah kepercayaan sehingga akal belum dapat menerimanya karena jika seseorang menginginkan untuk pandai, hendaklah ia belajar dan berusaha dengan sungguh-sungguh, bukan mengandalkan hal-hal yang belum dapat diterima kebenarannya itu oleh akal. Karena semakin kita  rajin mengasah otak kita (belajar), semakin kita menjadi pandai. Namun sebaliknya, jika kita hanya mengandalkan hal tidak rasional tersebut tanpa dibarengi usaha atau belajar, justru kita akan menjadi malas yang kemudian menjadikan kita bodoh. Oleh karena itu, sangat perlu untuk menerapkan hal-hal yang berasionalisme dengan cara seperti :
1.    Lebih bertindak menggunakan akal daripada perasaan, tahayul dan cara-cara berpikir tradisional lainnya
2.    Mendekati untuk menggali sumber-sumber pengetahuan yang benar-benar dapat diterima kebenarannya oleh akal

3.    Tidak mudah mempercayai mitos-mitos atau sugesti yang ada

Komentar

Postingan Populer