Filsafat Eksistensialisme
Eksistensialisme dipersiapkan dalam abad ke-19 oleh S. Kierkegaard
(1813-1855) dan F. Nietsche (1844-1900). Dalam abad ke-20 eksistensialisme
menjadi aliran filsafat yang sangat penting. Filsuf-filsuf paling besar dari
eksistensialisme adalah K.Jaspers, M.Heidegger, J.P.Sartre, G. Marcel dan
Marleau Ponty. (Drs. Surajiyo, 2005, hlm.161).
Kata eksistensi berasal dari kata eks (keluar)
dan sistensi, yang merupakan turunan dari kata kerja sisto (berdiri,
menempatkan) sedangkan isme dalam eksistensialisme adalah paham.
Oleh karena itulah kata eksistensi diartikan manusia berdiri sebagai diri
sendiri dengan keluar dari dirinya. Sekalipun demikian manusia tidak sama dengan
benda-benda, sebab manusia sadar akan keberadaannya itu.
Dari sekian banyak filsuf eksistensialisme atau eksistensialis yang memiliki pendapat dan pemikiran berbeda dalam ke-eksistensialimeannya, dapat kita temukan ciri-ciri yang sama, yang menjadikan sistem itu dapat di cap sebagai eksistensialisme. Menurut Harun Hadiwijono (1990) ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
Dari sekian banyak filsuf eksistensialisme atau eksistensialis yang memiliki pendapat dan pemikiran berbeda dalam ke-eksistensialimeannya, dapat kita temukan ciri-ciri yang sama, yang menjadikan sistem itu dapat di cap sebagai eksistensialisme. Menurut Harun Hadiwijono (1990) ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
- Motif pokok adalah apa yang disebut eksistensi, yaitu cara manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi adalah cara khas manusia berada. Pusat perhatian ini adalah manusia. Oleh karena itu, filsafat ini bersifat humanitis.
- Bereksistensi harus diartikan bersifat dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara aktif. Bereksistensi berarti berbuat, menjadi, merencanakan. Setiap manusia menjadi lebih atau kurang dari keadaanya.
- Di dalam eksistensialisme manusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk. Pada hakikatnya manusia terikat kepada dunia sekitarnya, terlebih lagi pada manusia sekitarnya.
- Eksistensialisme memberi tekanan kepada pengalaman yang konkret, pengalama yang eksistensial. Hanya arti pengalaman ini berbeda-beda. Heidegger memberi tekanan kepada kematian, yang menyuramkan segala sesuatu, Marcel kepada pengalaman keagamaan dan Jaspers kepada pengalaman hidup yang bermacam-macam seperti kematian, penderitaan, perjuangan dan kesalahan. (Drs. Surajiyo, 2005, hlm.161-162)
Eksistensialisme merupakan filsafat yang
secara khusus mendeskripsikan eksistensi dan pengalaman manusia dengan
metedologi fenomenologi, atau cara manusia berada. Eksistensialisme adalah
suatu reaksi terhadap materialisme dan idealisme. Pendapat materialisme bahwa
manusia adalah benda dunia, manusia itu adalah materi , manusia adalah sesuatu
yang ada tanpa menjadi Subjek. Pandangan manusia menurut idealisme adalah
manusia hanya sebagai subjek atau hanya sebagai suatu kesadaran.
Eksistensialisme berkayakinan bahwa paparan manusia harus berpangkalkan
eksistensi, sehingga aliran eksistensialisme penuh dengan lukisan-lukisan yang
kongkrit.
Gerakan eksistensialis dalam
pendidikan berangkat dari aliran filsafat yang menamakan dirinya
eksistensialisme, yang para tokohnya antara lain Kierkegaard (1813 – 1915),
Nietzsche (1811 – 1900) dan Jean Paul Sartre. Inti ajaran ini adalah respek
terhadap individu yang unik pada setiap orang. Eksistensi mendahului esensi.
Kita lahir dan eksis lalu menentukan dengan bebas esensi kita masing-masing.
Setiap individu menentukan untuk dirinya sendiri apa itu yang benar, salah,
indah dan jelek. Tidak ada bentuk universal, setiap orang memiliki keinginan
untuk bebas (free will) dan berkembang. Pendidikan seyogyanya menekankan
refleksi yang mendalam terhadap komitmen dan pilihan sendiri.
Manusia adalah pencipta esensi
dirinya. Dalam kelas guru berperan sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa
berkembang menjadi dirinya dengan membiarkan berbagai bentuk pajanan (exposure)
dan jalan untuk dilalui. Karena perasaan tidak terlepas dari nalar, maka kaum
eksistensialis menganjurkan pendidikan sebagai cara membentuk manusia secara
utuh, bukan hanya sebagai pembangunan nalar. Sejalan dengan tujuan itu,
kurikulum menjadi fleksibel dengan menyajikan sejumlah pilihan untuk dipilih
siswa. Kelas mesti kaya dengan materi ajar yang memungkinkan siswa melakukan
ekspresi diri, antara lain dalam bentuk karya sastra film, dan drama. Semua itu
merupakan alat untuk memungkinkan siswa ‘berfilsafat’ ihwal makna dari
pengalaman hidup, cinta dan kematian.
Eksistensialisme biasa
dialamatkan sebagai salah satu reaksi dari sebagian terbesar reaksi terhadap
peradaban manusia yang hampir punah akibat perang dunia kedua. Dengan demikian
Eksistensialisme pada hakikatnya adalah merupakan aliran filsafat yang
bertujuan mengembalikan keberadaan umat manusia sesuai dengan keadaan hidup
asasi yang dimiliki dan dihadapinya.
Sebagai aliran filsafat,
eksistensialisme berbeda dengan filsafat eksistensi. Paham Eksistensialisme
secara radikal menghadapkan manusia pada dirinya sendiri, sedangkan filsafat
eksistensi adalah benar-benar sebagai arti katanya, yaitu: “filsafat yang
menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral.”
Secara singkat Kierkegaard
memberikan pengertian eksistensialisme adalah suatu penolakan terhadap suatu
pemikiran abstrak, tidak logis atau tidak ilmiah. Eksistensialisme menolak segala
bentuk kemutkan rasional. Dengan demikian aliran ini hendak memadukan hidup
yang dimiliki dengan pengalaman, dan situasi sejarah yang ia alami, dan tidak
mau terikat oleh hal-hal yang sifatnya abstrak serta spekulatif. Baginya,
segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari
dirinya dan kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya.
Atas dasar pandangannya itu,
sikap di kalangan kaum Eksistensialisme atau penganut aliran ini seringkali
Nampak aneh atau lepas dari norma-norma umum. Kebebasan untuk freedom to adalah
lebih banyak menjadi ukuran dalam sikap dan perbuatannya.
Pandangannya tentang
prendidikan, disimpulkan oleh Van Cleve Morris dalam Existentialism and
Education, bahwa “Eksistensialisme tidak menghendaki adanya aturan-aturan pendidikan
dalam segala bentuk”. Oleh sebab itu Eksistensialisme dalam hal ini menolak
bentuk-bentuk pendidikan sebagaimana yang ada sekarang. Namun bagaimana konsep
pendidikan eksistensialisme yang diajukan oleh Morris sebagai
“Eksistensialisme’s concept of freedom in education”, menurut Bruce F. Baker,
tidak memberikan kejelasan. Barangkali Ivan Illich dengan Deschooling Society,
yang banyak mengundang reaksi di kalangan ahli pendidikan, merupakan salah satu
model pendidikan yang dikehendikan aliran Eksistensialisme tidak banyak
dibicarakan dalam filsafat pendidikan.
Pandangan eksistensialisme adalah:
- Menurut metafisika: (hakekat kenyataan) pribadi manusia tak sempurna, dapat diperbaiki melalui penyadaran diri dengan menerapkan prinsip & standar pengembangan ke pribadian
- Epistimologi: (hakekat pengetahuan), data-internal–pribadi, acuannya kebebasan individu memilih
- Logika: (hakekat penalaran), mencari pemahaman tentang kebutuhan & dorongan internal melaui analis & intropeksi diri .
- Aksiologi (hakekat nilai), Standar dan prinsip yang bervariasi pada tiap individu bebas untuk dipilih-diambil
- Etika (hakekat kebaikan), tuntutan moral bagi kepentingan pribadi tanpa menyakiti yang lain
- Estetika (hakekat keindahan), keindahan ditentukan secara individual pada tiap orang oleh dirinya.
Komentar
Posting Komentar