Pandangan Filsafat Pendidikan Islam Terhadap Eksistensialisme

Ada beberapa pandangan filsafat pendidikan islam terhadap aliran eksistensialisme, diantaranya adalah:

a. Dalam bidang pendidikan, aliran eksistensialisme menekankan agar masing-masing individu diberi kebebasan mengembangkan potensinya secara maksimal, tanpa ada batas (mutlak). Akibatnya kebebasan mutlak pada gilirannya telah menghilangkan eksistensi Tuhan sebagai pencipta dan pengatur kebebasan. Hal ini dapat membawa kepada atheisme.

b. Prinsip kebebasan dalam Islam justru mengantarkan mausia dekat kepada Tuhan. Manusia telah diberi kemampuan potensial untuk berpikir, berkehendak bebas dan memilih. Pada hakikatnya manusia dilahirkan sebagai seorang muslim yang segala gerak dan prilakunya cenderung berserah diri kepada Khaliknya.

c. Manusia tidak meminta tolong kepada dirinya saja tetapi juga dengan kekuasaan tertinggi (Allah).

d. Kebebasan yang diberikan Islam pada manusia bukan kebebasan yang absolute, melainkan kebebasan yang tetap berada pada koridor Ilahi dan dipimpin oleh nilai-nilai agama. Sebab, bagaimanapun juga manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Dalam hal ini, filsafat pendidikan Islam memandang manusia (peserta didik) sebagai makhluk yang memiliki kebebasan dan potensi untuk berkembang. Untuk itu kebebasan manusia tersebut hendaknya senantiasa diarahkan kepada kebaikan, yaitu kebebasan yang tetap menempatkan manusia pada posisi mulia, bukan sebaliknya.

e.  Sebagai hamba Allah, manusia dituntut untuk selalu mengarahkan aktivitas kehidupannya pada pengabdian keapada Allah SWT dan sebagai Khalifah Allah fi al-Ardh. Dalam kapasitasnya seperti yang disebutkan terakhir ini, manusia bertanggung jawab untuk mengurus, memelihara serta mengolah alam semesta ini dalam kerangka ibadah kepada Allah dan manusia harus mempertanggung jawabkan atas aktivitasnya yang dilakukan dihadapan Allah.

Berdasarkan pandangan filsafat pendidikan islam terhadap aliran filsafat eksistensialisme di atas, kesimpulannya ialah menurut Nietzsche manusia harus mengembangkan secara sempurna nafsunya, jika manusia mengekang nafsunya maka ia tidak dapat melaksanakan kebebasan hidupnya, sedangkan menurut Islam nafsu cenderung membawa manusia berbuat menyimpang dari kebenaran. Seiring dengan itu pula pendidikan harus mengarahkan dan mengingatkan manusia agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mendorong hawa nafsu dan apabila manusia dapat mengendalikan nafsunya maka manusia akan menjadi orang yang tangguh mentalnya serta tidak mudah kehilangan keseimbangan, serta ia dapat melaksanakan hidup dengan kebebasan yang terkontrol.


Komentar

Postingan Populer