KRTISISME IMMANUEL KANT
Ketegangan antara
Rasionalisme dan Empirisme yang berlangsung selama lebih dari satu setengah
abad telah mengurangi rasa hormat kita, tidak hanya kepada ajaran-ajaran
filsafat tetapi juga kepada ilmu pengetahuan pada umumnya.
Rasionalisme gagal
membangun transendensi Tuhan atas alam. Alih-alih membuktikan trasendensi Tuhan
atas alam semesta, rasionalisme justru terjerat dalam panteisme implisit ala
Descartes, Malabranca, Leibniz, dan panteisme eksplisit Spinoza. Di lain pihak,
empirisme pun gagal membuktikan eksistensi alam yang diyakini sebagai yang
berbeda dari pikiran. Empirisme justru kehilangan jati dirinya dalam
skeptisisme.
Tidak bisa dipungkiri, kegagalan rasionalisme dan empirisme adalah
konsekuensi logis dari fenomenalisme yang sebenarnya adalah fundasi dari
rasionalisme dan empirisme itu sendiri, terutama ajaran bahwa manusia tidak
bisa mengetahui benda-benda (things) atau realitas; bahwa yang diketahui
manusia hanyalah penampakan (appearance) di mana benda-benda atau kenyataan
dihasilkan atau diproduksi dalam pikiran manusia. Pemikiran Immanuel Kant dan
Kritisisme Kantian berusaha menyatukan rasionalisme dan empirisisme dalam semacam
fenomenalisme “baru” (fenomenalisme jenis unggul). Bagi Kant, manusialah aktor
yang mengkonstruksi dunianya sendiri. Melalui a priori formal, jiwa manusia
mengatur data kasar pengalaman (pengindraan) dan kemudian membangun ilmu-ilmu
matematika dan fisika. Melalui kehendak yang otonomlah jiwa membangun
moralitas. Dan melalui perasaan (sentiment) manusia menempatkan realitas dalam
hubungannya dengan tujuan tertentu yang hendak dicapai (finalitas) serta
memahami semuanya secara inheren sebagai yang memiliki tendensi kepada kesatuan
(unity). Berbagai contoh kegiatan manusia ini membentuk apa yang disebut Kant
sebagai“Revolusi Kopernican”. Gagasan seputar Revolusi Kopernican ini dapat
dirumuskan secara singkat berikut:
- Apa yang harus diketahui manusia
- Apa yang harus dilakukan, dan
- Apa yang harus percaya menemukan pembenarannya bukan dalam realitas yang ada dalam dirinya (noumenon) sebagaimana metafisika tradisional memahaminya, tetapi di dalam kemampuan teoritis, praktis dan estetika manusia.
Menurut Kant, pengetahuan tentang bagaimana kemampuan-kemampuan ini berfungsi
merupakan persiapan yang diperlukan bagi semua metafisika semua (istilah
“noumenon” susah diterjemahkan. Kata ini dimaksud untuk menyebut apa yang Kant
istilahkan sebagai “Ding-an sich”, yakni hal dalam dirinya sendiri, atau obyek,
sebagai lawan dari fenomena, pengaruh atau efek subyektif yang dihasilkan oleh
kesadaran kita). Jika secara retrospeks Kritisisme Kantian menandai
persimpangan jalan dan sublimasi rasionalisme dan empirisme, sebenarnya bisa
dikatakan bahwa Kritisisme Kantian mengandung dalam dirinya benih dari semua
pemikiran filosofis berikutnya, termasuk filsafat kontemporer.
Dua gerakan
filosofis utama abad lalu, yakni idealisme dan positivisme, memiliki sumbernya
dalam ajaran Kant. Menolak sama sekali noumenon, idealisme mereduksikan
realitas kepada sekadar fenomena dari “ego” impersonal yang menampilkan
aktivitasnya secara dialektis. Positivisme, pada gilirannya, mereduksikan
realitas kepada sekadar fenomena dari materi. Idealisme dan positivisme
kemudian melahirkan eksistensialisme kontemporer, filsafat tanpa metafisika dan
dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan tentang dunia yang diselenggarakan
oleh daya- 2 daya imanen. Sama seperti pendahulunya, eksistemsialisme tidak
mampu menawarkan jalan keluar definitif bagi masalah-masalah perennial
filsafat.
Hidup dan Karya Immannuel Kant lahir di Konigsberg di Prusia Timur
pada tanggal 22 April 1724. Memulai studinya di Fredericianum Collegium, salah
satu pusat pietisme Jerman termasyur, Kant kemudian mendaftar di sekolah
filsafat di Universitas Konigsberg, di mana dia belajar filsafat rasionalistik
Wolff serta matematika dan fisika Newton. Setelah menamatkan studi di
universitas tersebut Kant menghabiskan sembilan tahun sebagai guru bagi beberapa
keluarga terpandang sebelum kembali mengajar di almamaternya ini. Kembaliny
Immnuel Kant ke Konigsberg pada tahun 1755 ditandai dengan terbitnya salah satu
bukunya berjudul General Natural History and Theory of Heavens, di mana ia
membahas hipotesis bahwa sistem tata surya sebenarnya bersumber pada materi
asali nebulus.
Setahun kemudian Kant mulai mengajar di Universitas Konigsberg
sampai tahun 1797. Tahun 1756 menandai pembaruan minat dalam penyelidikan
filosofis. Dirangsang oleh empirisme Hume dan naturalisme Rousseau, Kant mulai
merencanakan revisi kritis terhadap rasionalisme dogmatis Leibniz dan Wolff,
pemikiran yang sangat diakrabinya selama masa “tidur dogmatis”. Seluruh
keraguan yang menumpuk dalam pikiran Kant menemukan ekspresinya dalam karya berjudul
The Dreams of a Visionary Illustrated with the Dreams of Metaphysics. Buku ini
ditulis Kant pada tahun 1766. Pandangan visioner yang didiskusikan Kant dalam
buku ini terutama berpusat pada karya Swedenborg, seorang metafisikawan Swedia
yang waktu itu ajarannya menjadi topik yang hangat didiskusikan. Diangkat
menduduki kursi Logika dan Metafisika di Universitas Konigsberg pada tahun
1779, resmilah Kant menyelesaikan studinya dengan disertasi De Mundi sensibilis
atque intelligibilis formis et principiis, di mana untuk pertama kalinya dia
menunjukkan kecenderungan mengadopsi sistem independen filsafat. Tidak sampai
sepuluh tahun ketika periode “pra-kritis” Kant berakhir. Pada tahun 1781 Kant
muncul sebagai pelopor kritik transendental dengan penerbitan karya Critique
yang pertama. Demikianlah, dimulai “periode kritis” yang bertahan sampai tahun
1794. Setelah beberapa publikasi tentang agama yang bertentangan dengan
prinsip-prinsip Kekristenan tradisional, Kant mentaati perintah Raja Frederick
William II untuk tidak membicarakan masalah agama dalam ajaran dan
tulisan-tulisannya.
Pensiun dari mengajar karena usia dan sakit, Kant
menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dengan mengedit ulang
karya-karyanya. Dia meninggal di kota kelahirannya pada tanggal 28 Februari
1804. Karya utama Kant selama periode kritis meliputi Critique of Pure Reason,
di mana dia menguji akal manusia dan menyimpulkan bahwa manusia mampu membangun
ilmu pengetahuan, dan bukan metafisika. Pada tahun 1783 ia menerbitkan
Prolegomena atau Prologues to any Future Metaphysics, di mana dia menguji hal
yang sama dari sudut pandang yang berbeda.
Pada 1785 terbitlah karyanya
berjudul Foundation for the Metaphysics of Ethics, dimana ia mendiskusikan
masalah moral berdasarkan prinsip-prinsip kritik transendental. Dalam bukunya
Critique of Judgment, ia menguji finalitas dalam alam dan masalah estetika.
Ketiga Critique inilah yang menjadi maha karya serta eksposisi definitif
pemikiran seorang Immanuel Kant. Kritik atas Rasio Murni Rasionalisme dan Empirisisme mengambil alih penyelesaian problem: “Nilai apa yang dikandung oleh
pengetahuan (ide atau impresi) yang aku dapatkan tentang dunia fisikal
(material) dan hubungannya dengan apa yang harus aku lakukan?” Pertanyaan ini
mengandung sekaligus masalah epistemologis dan etis. Untuk mengatasi kesulitan,
rasionalisme dari Descartes sampai Leibniz telah mulai dengan asumsi bahwa
pikiran manusia dianugerahi dengan ide-ide bawaan. Memulainya dengan melakukan
deduksi dari ide-ide bawaan ini, rasionalisme membangun pengetahuan yang
dilengkapi dengan universalitas (karena ide-ide bawaan bersifat umum bagi semua
pikiran) dan sesuatu yang dibutuhkan (kualitas yang harus dimiliki semua
pengetahuan ilmiah dan filsafat). Tetapi rasionalisme gagal menunjukkan keabsahan
atau validitas jenis pengetahuan ini dalam rujukannya kepada dunia alam tanpa
jatuh ke panteisme. Selanjutnya, dalam setiap pertimbangan mengenai Allah yang
transenden, orde atau susunan ide-ide tetap terpisah dan berbeda dari orde atau
susunan benda-benda.
Di lain pihak, empirisme berusaha menjawab pertanyaan yang
sama dan memulainya dengan impresi inderawi. Dengan cara ini empirisme
mengklaim telah “menemukan” salinan atau kopi objek yang ditangkap melalui
impresi indrawi tersebut. Meskipun demikian, cara ini tidak mampu menunjukkan
aspek universalitas dari dan keniscayaan pengetahuan tersebut. Empirisme lupa
bahwa setiap persepsi, meskipun bersifat tak-terbatas (ad infinitum), tetap
saja partikular. Kritisisme semacam ini tentu telah terlebih dahulu digagas dan
dikemukakan David Hume dan tak-terbantahkan. Untuk menghindari kesulitan
sebagaimana dihadapi empirisme ini, Hume mengemukakan unsure psikologis yang
lain yang disebut sebagai kebiasaan mengasosiasi (the habit of association)
yang menghubungkan impresi yang satu dengan impresi lainnya dan kemudian
memberikan mereka unsur universalitas dan keniscayaan. Apakah jalan keluar ini
memuaskan? Harus diingat di sini, jika intelek bisa menghubungkan fenomena yang
satu dengan fenomena lainnya dan kemudian menegaskan dimensi universalitas dan
keniscayaan mereka, intelek semacam itu tentu bukanlah “tabula rasa”. Intelek
dengan kemampuan semacam ini pasti memiliki konsep-konsep tertentu dalam
dirinya (innate concept) mengenai universalitas dan keniscayaan, yang kemudian
mengatributkannya kepada fenomena partikular ketika fenomena-fenomena itu
dihubungkan satu sama lain dalam kelompok atau kelas tertentu. Lihatlah bahwa
gagasan yang sangat tidak memuaskan yang ditawarkan empirisme maupun jalan
keluar yang disodorkan Hume sungguh-sungguh “memaksa” Kant untuk memikirkan
cara terbaik memahami realitas. Kant tertantang untuk menemukan unsur objektif
dan nilai etis dari pengetahuan kita [dua pertanyaan penting yang dijawab Kant
adalah (1) what can I know? yang berhubungan dengan teori pengetahuan dan (2)
what should I do? yang berhubungan dengan masalah etika]. Dalam usahanya
menawarkan sebuah solusi yang konklusif, Kant menulis karya Critiques (disebut
demikian karena dimaksudkan untuk mengkritik dalam pengertian mendiskusikan dan
menimbang). Demikianlah, seluruh karya Immanuel Kant dapat disebut sebagai usaha
serius menguji secara saksama rasionalisme dan empirisme, tentu bukan untuk
memberangus sama sekali keduanya, tetapi untuk menemukan kelemahan-kelemahan
mereka seraya tetap mempertahankan hal-hal esensial dari keduanya. Menurut
Kant, rasionalisme termasuk jenis “putusan analitis. Disebut demikian karena
jenis putusan ini mengkonstruksi sebuah sistem pengetahuan yang dilengkapi
dengan aspek atau dimensi universalitas dan keniscayaan, tetapi bagi Kant,
jenis pengetahuan semacam ini bersifat tautologis. Jenis pengetahuan ini tidak
mampu membantu kita memahami realitas. Pengetahuan jenis ini tentu tidak andal,
karena itu pengetahuan harus maju selangkah lagi, dan menurut Kant, pengetahuan
harus bersifat “sintetis”. Yang dimaksud adalah jenis pengetahuan yang
predikatnya memperluas pengetahuan kita mengenai subjek.
Empirisme tentu
bukanlah jenis putusan “sintetis”, tetapi lebih merupakan putusan a posteriori,
di mana predikatnya tidak lebih dari fakta pengalaman, dan tentu saja
mengakibatkan putusan ini kehilangan unsur universalitas dan keniscayaannya.
Jenis putusan apapun yang tidak memiliki unsur universalitas dan keniscayaan
tentu bukanlah jenis pengetahuan filosofis yang cukup meyakinkan.
Kant
mengajarkan bahwa ada jenis putusan lain yang disebut putusan sintetis apriori.
Bagi Kant, jenis putusan ini akan mengarah kepada pengetahuan ilmiah yang
benar. Jenis putusan ini disebut sintetis karena memiliki karakter universalitas
dan memenuhi criteria keniscayaan (necessity) tanpa menjadi tautologis. Selain
itu, jenis putusan ini pun memiliki fekunditas putusan aposteriori tanpa
dibatasi pada pengada tertentu yang ada di dunia empiris. Syarat pembentukan
setiap putusan sintetis apriori adalah perlunya putusan memiliki forma (form)
dan materi (matter).
- Forma diberikan oleh intelek, independen dari semua pengalaman, a priori, dan menandakan fungsi, cara dan hukum mengetahui dan bertindak yang eksistensinya mendahului seluruh pengalaman.
- Materi tidak lain adalah sensasi subjektif yang kita terima dari dunia luar. Melalui kedua unsur inilah manfaat dari rasionalisme dan empirisme dipersatukan dalam putusan yang sama: forma mewakili unsur universal dan niscaya, sedangkan materi mewakili data empiris.
Pengetahuan diperoleh melalui putusan apriorinya Kant adalah jenis
pengetahuan yang memiliki hanya nilai fenomenal. Jenis pengetahuan ini tidak
memberikan pemahaman yang valid mengenai obyek “in se” atau sebagaimana merekaa
eksis di alam (noumena), tetapi hanya sejauh mereka dipikirkan oleh subjek. Ego
berpikir Kant tidak mengasimilasi obyek, sebagaimana dipertahankan filsafat
tradisional, tetapi konstruksinya. Kenyataannya, baik materi dan bentuk
(sensasi) adalah elemen subjektif dan tidak memperlihatkan kenyataan; bahkan
tetap terpisah dan berbeda dari subjek.
Kant menyajikan studinya mengenai
putusan sintetis apriori dalam Critique of Pure Reason. Karya ini dibagi
menjadi tiga bagian:
- Dalam Transcendental Aesthetic (Estetika Transendental), Kant menyelidiki unsurunsur pengetahuan yang masuk akal mengacu pada suatu bentuk apriori ruang dan waktu. Objek penelitian ini adalah untuk membuktikan matematika sebagai ilmu yang sempurna.
- Karya Transcendental Analytic (Analitika Transendental) adalah sebuah penyelidikan ke dalam pengetahuan intelektual. Obyeknya adalah dunia fisik, dan ruang lingkupnya adalah membuktikan “fisika murni” (mekanik) sebagai ilmu yang sempurna.
- Objek penelitian dari Transcendental Dialectic (Dialektika Transendental) adalah realitas yang melampaui pengalaman kita; yaitu esensi Allah, manusia dan dunia.
Kant mereduksikan objek-objek dari metafisika tradisional ini kepada “ide-ide,”
yang tentangnya berputar-putar secara sia-sia, tanpa harapan untuk bisa tiba
pada sebuah hasil yang pasti.
1. Estetika Transendental Awal pengetahuan adalah
sensibilitas. Artinya pengetahuan berawal dari proses sensasi atau pengindraan.
Supaya pengetahuan bisa dihasilkan, sensasi harus dilokasikan dalam ruang (in
space), jika pengetahuan tersebut dihasilkan melalui indera eksternal.
Sementara itu, sensasi dilokasikan dalam waktu (in time) jika pengetahuan
dihasilkan satu melampaui lainnya, tidak peduli dari mana asal pengetahuan
tersebut, bahkan ketika pengetahuan tersebut hanyalah keadaan kesadaran yang
sederhana, misalnya kenikmatan dan rasa sakit. Bagi Kant, ruang dan waktu
bukanlah realitas yang eksis dalam dirinya sendiri, sebagaimana dipercaya
Newton. Ruang dan waktu juga bukan realitas yang dihasilkan oleh pengalaman,
sebagaimana dipertahankan Aristoteles. Ruang dan waktu lebih merupakan
bentuk-bentuk a priori, Pengetahuan pada tingkat pengindraan (intuisi murni)
membawa dalam dirinya semacam kegentingan (exigencies), bahwa setiap pengindraan
(sensation) harus dilokasikan dalam ruang, entah itu di atas, di bawah, di
sebelah kiri atau kanan, dan dalam waktu, yakni sebelumnya, sesudahnya, atau
yang bersamaan dengan pengindraan lainnya. Demikianlah, ruang dan waktu adalah
kondisi-kondisi, bukanlah eksistensi dari sesuatu tetapi posibilitas dari
keberadaannya yang termanifestasi di dalam diri kita. Singkatnya, ruang dan
waktu adalah bentuk-bentuk subjektif. Aritmatika dan geometri kemudian
didasarkan pada ruang dan waktu. Akibatnya, mereka didasarkan pada
bentuk-bentuk subyektif, serta aspek keseluruhan (universalitas) dan kondisi
yang harus ada (necessity) yang kita temukan di dalam mereka muncul atau
dihasilkan dari bentuk-bentuk subyektif ini. Dengan kata lain, aritmatika dan
geometri adalah ilmu mutlak, bukan karena mereka mewakili sebuah aspek
universal dan keniscayaan dari dunia fisik tetapi karena mereka adalah
konstruksi apriori jiwa manusia dan menerima darinya universalitas dan
keniscayaan.
2. Analitik Transendental Intuisi murni tentang ruang dan waktu
menyajikan kepada kita spektrum pengetahuan (dalam epistemologi Kant digunakan
istilah manifold, dimaksud sebagai “the totality of discrete items of
experience as presented to the mind; the constituents of a sensory
experience”), tetapi sebenarnya merupakan pengetahuan yang tidak tertata. Jiwa
manusia, yang cenderung ke arah penyatuan pengetahuan, tidak bisa berhenti pada
intuisi yang membingungkan ini. Roh atau jiwa manusia selalu ingin bergerak
maju ke pengetahuan pada tingkat yang lebih tinggi yang berpusat di kecerdasan
(intellect) dan yang kegiatannya adalah mengatur data yang diinderai yang
tersebar dalam ruang dan waktu. Aktivitas ini dimungkinkan melalui
bentuk-bentuk (forms) apriori atau atau kategori-kategori yang dengannya
intelek mendapatkan bentuknya. Bentuk-bentuk atau kategori-kategori semacam ini
berfungsi sebagai berikut: Pada intuisi, misalnya, intuisi mengenai
“pohon”. Saya punya data tertentu yang diindrai (warna, daun, cabang, dll) yang
eksis dalam ruang dan dalam perubahan yang sifatnya temporal.
Intelek
mengolah data-data ini (data-data pohon) sesuai keadaan alamiahnya yakni sesuai
bentuk atau forma apriorinya dan menggunakan substansi untuk memantapkan atau
menstabilkan data-data pengindraan yang masih berubah-ubah ini. Pada
gilirannya, substansi lalu menjadi salah satu dari kategori intelek. Meskipun
demikian, intelek tidak berdiam diri di dalam substansi.
Proses ini akan
terus berlanjut di mana data yang dikelola intelek kemudian diletakkan dalam
hubungannya dengan data yang mendahului “pohon” itu. Intelek kemudian
mengasosiasikan data-data tersebut dengan konsep kedua, yakni “penyebab”
(cause). Ini adalah kategori kedua, yang karenanya fenomena terikat atau
tergantung satu sama lain berkat bantuan suatu koneksi yang sifatnya universal
dan perlu. Hubungan atau koneksi ini terjadi sedemikian rupa sehingga pada saat
fenomena ada atau terjadi (penyebab), pada saat itu pula fenomena lainnya
(efek) harus terjadi, selalu dan dimana-mana.
Ada 12 kategori intelek, dan
dibagi oleh Kant menjadi empat kelas, yakni kuantitas, kualitas, hubungan, dan
moda. Keduabelas kategori berfungsi sebagai kerangka acuan di mana hukum-hukum
mekanis alam bisa dipahami. Perlu dicatat bahwa unifikasi permanen dari data
yang diinderai ini hanya mungkin dengan syarat bahwa intelek pemersatu (yang
dimaksud adalah intelek) tetap identik dengan dirinya sendiri. Jika intelek
berubah-ubah di hadapan data yang diinderai, mustahil mencapai suatu unifikasi
permanen. Demikianlah universalitas dan objektivitas ilmu pengetahuan
menyiratkan keabadian intelek dalam identitasnya.
3. Dialektika Transendental
Klasifikasi yang dilakukan intelek atas data-data yang ditangkap intuisi ke
dalam kategorikategori tidak pernah mencapai suatu penyatuan sempurna. Dalam
dunia fenomenal selalu ada serangkaian fenomenal yang memperpanjang sendiri
tanpa batas dalam ruang dan waktu. Dalam diri kita, bagaimanapun, ada
kecenderungan untuk mencapai penyatuan fenomena secara tetap, dan sebagai
akibatnya timbul dalam diri kita “ide-ide” tertentu yang berfungsi sebagai
titik acuan dan pengatur bagi fenomena secara keseluruhan. “Ide-ide” dimaksud
ada tiga, yakni:
- Ego personal, prinsip pemersatu atas semua fenomena internal;
- Dunia eksternal, prinsip pemersatu dari semua fenomena yang datang dari luar, dan
- Allah, prinsip pemersatu dari semua fenomena, terlepas dari asal-usul mereka. Ego personal, dunia eksternal, dan Allah (realitas tertinggi dari metafisika tradisional), disebut numena, yaitu, realitas dalam dirinya, pengada yang melampau realitas yang diindrai dan dan tak-terkondisikan.
Kant menyajikan ketiga entitas ini dalam karyanya berjudul
Dialektika Transendental, bagian ketiga dari Critique of Pure Reason.
Demikianlah, Dialektika Transendental membawa kita ke tingkat ketiga dari
pengetahuan manusia. Inilah bagian dari pengetahuan manusia yang menyibukkan
diri dengan “ide-ide” yang oleh Kant sendiri disebut sebagai rasio.
Bagian
ketiga dari Critique of Pure Reason bertujuan untuk melihat apakah ide-ide
mengenai “ego”, “dunia”, dan “Allah” memungkinkan kita untuk mengetahui
kenyataan sebagaimana mereka representasikan, atau apakah pengetahuan tersebut
tidak mungkin. Ide-ide ini pada gilirannya akan menjadi semacam wadah subjektif
tanpa makna. Jelas bahwa kritisisme Kant berakhir dalam 7 skeptisisme. Rasio
murni selalu terhubung dengan intuisi yang bisa diindrai, dan karena itu tidak
dapat sampai pada pengetahuan tentang ego personal, dunia, dan Allah. Ketiga
realitas ini melampaui data-data intuisi. Sehubungan dengan “ego personal”
(substansi) objek dari psikologi rasional dalam filsafat tradisional Kant
mengamati bahwa hal itu lenyap dalam paralogisme-paralogisme, yaitu di dalam
sofisme, penalaran palsu. Jadi, bertentangan dengan Descartes, Kant percaya
bahwa substansi spiritual tidak dapat diketahui secara langsung. Apa yang dapat
kita ketahui secara langsung adalah tindakan mengetahui (fenomena). Serangkaian
tindakan ini, bahkan jika diekstensi secara tak-terhingga, tidak akan pernah
memberikan kita pengetahuan tentang kenyataan seperti ego personal, yang
seharusnya berada melampau rangkaian pengetahuan ini.
Selain itu, bagi Kant,
substansi adalah kategori intelek yang memiliki hubungan hanya kepada data-data
yang bisa diindrai, dan akibatnya tidak berguna dalam upaya menemukan
pengetahuan tentang realitas yang melampaui pengindraan. Kant pada titik ini
diarahkan langsung kepada Descartes yang berpendapat bahwa objek pertama
pengetahuan adalah jiwa (substansi spiritual). Dengan mengacu pada dunia
eksternal, yang mengenainya studi filsafat tradisional mempelajarinya secara
khusus dalam kosmologi, Kant mengatakan bahwa itu hilang dalam
antinomi-antinomi, yaitu dalam proposisi kontradiktoris, dan bahwa intelek
tidak mampu membedakan manakah dari proposisi yang bertentangan adalah benar.
Antinomi-antinomi ini berjumlah empat, masing-masingnya dibentuk dari sebuah
tesis dan antitesis yang sesuai. Keempat antinomi tersebut adalah berikut:
- Tesis: Dunia harus memiliki awal dalam waktu dan tertutup dalam dalam ruang yang terbatas. Antitesis: Dunia ini kekal dan tak-terbatas.
- Tesis: Materi pada akhirnya dapat dibagi menjadi bagian-bagian sederhana (atom atau monad-monad) yang pada dirinya tidak bisa lagi dibagi menjadi bagian yang lebih kecil lagi. Antitesis: Setiap benda material dapat dibagi, bahwa ada sesuatu yang sederhana yang sedang berada atau eksis di satu tempat tertentu di dunia ini.
- Tesis: Selain kausalitas yang sesuai dengan hukum alam (dan karena itu perlu), ada kausalitas yang bebas. Antitesis: Tidak ada kebebasan; segala sesuatu di dunia ini terjadi sepenuhnya sesuai hukum alam.
- Tesis: Terdapat eksistensi pengada absolute tertentu yang perlu yang menjadi bagian dari dunia, entah sebagai bagian atau sebagai penyebabnya. Antitesis:Pengada absolute tertentu yang perlu itu tidak eksis, entah di dalam dunia ini atau di luarnya.
Dua antinomi pertama (pertentangan berada di antara semesta yang
terbatas dan yang takterbatas dan diantara materi dapat dibagi dan
tak-dapat-dibagi) adalah bagian dari dunia fisik. Menurut Kant, mereka tidak
berkorespondensi dengan “benda dalam dirinya sendiri” (noumenon), karena mereka
adalah aplikasi tidak sah dari kategori ruang dan waktu terhadap “benda dalam
dirinya sendiri”. Dengan kata lain, dalam dua antinomi ini dunia fisik dianggap
sekaligus sebagai “benda di dalam dirinya” yang terlepas dari keniscayaan
mekanistik alam (ruang dan waktu) dan sebagai subjek dari keniscayaan
mekanistik yang sama. Oposisi apapun yang diturunkan dari posisi kontradiktoris
ini niscaya palsu.
Dua antinomi lainnya berhubungan dengan yang pertama adalah
roh (kebebasan) dan yang kedua berhubungan dengan Allah. Keduanya bisa menjadi
benar dari sudut pandang noumenikal dan dari titik pandang fenomenal. Memang,
akan ada kontradiksi yang sama seperti disebutkan di atas, jika kebebasan dan
Allah dipahami sebagai pengada yang tunduk pada kausalitas mekanis. Tetapi roh
dan Allah dapat diafirmasi tanpa mempertimbangkan ruang dan waktu, dan dalam
kasus ini tesis dari dua antinomi tersebut tidak menyiratkan adanya kontradiksi.
Dengan demikian tesis-tesis tersebut hanya benar jika mereka diafirmasi hanya
dari sudut pandang numenal, sama halnya dengan antitesis adalah benar jika
mereka diafirmasi hanya dari sudut pandang fenomenal.
Demikianlah Kant
menyimpulkan kritisismenya, membiarkan pintu terbuka bagi afirmasi akan
eksistensi roh dan Allah. Meskipun demikian, harus dicatat bahwa kesimpulan
semacam itu tidak dapat disebut sebagai pengetahuan yang benar, karena tidak
didasarkan pada intuisi apapun. Bagi Kant, intuisi sendiri menyingkapkan
asal-muasal pengetahuan sejati. Akhirnya, mengacu pada gagasan tentang Allah,
Kant mereduksikan argumen yang oleh teologi rasional justru sangat ditonjolkan
dalam membuktikan eksistensi Allah berikut: Argumen Ontologis (St. Anselmus, Descartes).
Kant menyatakan bahwa pembuktian ini tidaklah
memadai bukan hanya karena Allah bukanlah objek intuisi, tetapi juga karena
peralihan dari dunia fenomenal (pemikiran) ke dunia numenal (realitas) tidaklah
sah. Argumen kosmologis. Kant menyatakan
bahwa argumen ini tidak memadai karena mendasarkan
dirinya pada prinsip kausalitas, dan bagi Kant, kausalitas adalah salah satu
kategori yang hanya berlaku dalam dunia pengalaman dan bukan untuk apa yang ada
di luar pengalaman.
Argumen teleologis, argumen ini menunjukkan kepada kita bahwa di mana ada finalitas atau tujuan di situ ada Intelijensi, yakni seorang perancang. Namun,
seperti Kant mengamatinya secara benar, argumen ini tidak menunjukkan
Inteligensi itu sebagai pengada yang paling sempurna, yaitu Allah.
Demikianlah,
Critique of Pure Reason menyimpulkan bahwa pengetahuan kita tidak mencapai
realitas metafisik (numena). Kant tidak menyangkal eksistensi Allah dan dunia
eksternal. Dia juga tidak menyangkal keabadian jiwa, tetapi ia mengatakan bahwa
entitasentitas semacam itu tertutup bagi penyelidikan ilmiah. Penyelidikan
ilmiah sendiri memiliki dunia fenomenal sebagai objek, dan sama sekali tidak
mampu menembus dunia suprafenomenal, yaitu dunia numena, yang tidak berkondisi.
Menurut Kant, Allah, dunia dan jiwa dapat dipahami melalui kegiatan lain, yakni
rasio praktis. Apakah yang dimaksud dengan rasio praktis? Kritik Nalar Praktis
Dalam Kritik Atas Rasio Murni (Critique of Pure Reason), Kant menjadikan
unsur-unsur penting dari semua pengetahuan (universalitas dan keniscayaan)
tergantung (dependent), bukan pada isi pengalaman, tetapi pada bentuk-bentuk
apriori. Demikian juga dalam Kritis Atas Rasio Praktis (Critique of Practical
Reason), Kant membuat universalitas dan hukum moral menjadi tergantung, bukan
pada tindakan empiris dan tujuan yang kita niatkan dalam tindakan kita, tetapi
pada imperatif kategoris, yakni dalam kehendak (will) itu sendiri. Sebuah
tindakan akan menjadi tindakan yang baik secara moral jika kehendak (will)
adalah otonom. Tindakan dilakukan bukan berdasarkan pertimbangan pada hasil
akhir yang akan dicapai tetapi hanya pada ketaatan pada kewajiban. “Kewajiban
demi kewajiban itu sendiri”: inilah 9 rigiditas kewajiban moral Kantian. Ini
artinya di antara semua imperatif yang dapat menentukan kehendak (will) dalam
sebuah tindakan perlu membedakan yang hipotesis dari yang kategoris. Imperatif
hipotetis menetapkan sebuah perintah demi mencapai sebuah tujuan dan dengan
demikian sangat dikondisikan oleh hasil akhir yang hendak dicapai tersebut.
Misalnya, Anda harus mengkonsumsi obat yang diperlukan jika Anda ingin sembuh.
Sementara itu, imperatif kategoris mendesakkan dirinya secara otomatis, yakni
berdasarkan kekuatan kewajiban, tanpa memperhatikan hal baik atau atau buruk
yang mungkin timbul karena tindakan tersebut. Msalnya, “Kerjakan ini karena
itulah kewajibanmu.” Hanya imperatif kategoris menikmati universalitas dan
keharusan, dan karenanya hanya mereka dapat menjadi dasar moralitas. Perbedaan
mendasar harus dikemukakan antara bentuk a priori intelek (kategori-kategori)
dan bentuk-bentuk a priori dari kehendak (imperatif kategoris). Yang pertama,
akan menjadi takbermakna (void) jika kehilangan unsur material. Bentuk-bentuk a
priori intelek membutuhkan unsur empiris agar bisa dipahami. Sebaliknya,
bentuk-bentuk a priori dari kehendak tidaklah kosong. Bentuk-bentuk ini
memiliki elemen-elemen penentu dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain, hal
sebaliknya harus dikatakan di sini: Bukanlah unsur-unsur empiris yang
menentukan bentuk (imperatif), tetapi justru bentuk-bentuklah yang menentukan
unsur empiris dan menjadikannya mengandung tuntutan moral. Misalnya, perintah
“Jangan berbohong” menjadi kewajiban bukan karena orang tidak berbohong (unsur
empiris), tetapi karena perintah ini berasal dari kehendak (will) selaku
pengatur unsur-unsur empiris. Kehendak adalah legislator otonom dalam ranah
tindakan. “Jadi bertindaklah sedemikian rupa sehingga kehendakmu dapat
diperhitungkan sebagai yang menetapkan kewajiban-kewajiban moral,” demikianlah
salah satu imperatif kategoris Kantian. Tetapi jika kita bertindak demikian,
kita sudah berada dalam dunia yang melampaui pengindraan dan tak-terkondisikan.
Menurut Critique of Pure Reason kita tidak dapat mencapai realitas yang
melampaui pengindraa (noumenon) karena bentuk-bentuk pengetahuan kita
(kategori-kategori) adalah kosong. Isi dari kategori-kategori itu tidak bisa
tidak bersifat fenomenal, hal yang terkondisikan. Sebaliknya, bentuk-bentuk
kehendak (imperatif kategoris) memiliki isi yang sifatnya independen dalam
dirinya, tidak dikondisikan oleh unsur material. Adalah kehendak itu sendiri
yang membuat tindakan manusia bersifat baik secara moral, dan tidak sebaliknya.
Bahkan, menurut Kant, tindakan empiris akan baik hanya dengan syarat bahwa itu
dilakukan demi kewajiban. Demikianlah, kehendak tetaplah melampaui dunia
fenomenal nan mekanik. Kehendak adalah bagian dari dunia numenal, yakni yang
tidak-berkondisikan. Begitu telah mencapai realitas yang melampaui pengindraan
(ingat baik-baik: melalui rasio praktis, dan bukan melalui rasio kognitif),
Kant memutuskan untuk menguji apa yang mungkin menjadi postulat (kondisi yang
niscaya) yang membuat moralitas menjadi mungkin. Dalam investigasi ini Kant
berpendapat bahwa ada tiga postulat yang membangun moralitas, yaitu, kebebasan,
keabadian jiwa, dan Allah. Inilah tiga realitas tertinggi dari filsafat
tradisional, dan Kant, yang telah menyangkal kemampuan kita untuk mencapai
mereka melalui pengetahuan teoritis, percaya bahwa ia bisa menegaskan
eksistensi mereka melalui akal budi praktis.
Pertama, Kant mengamati bahwa
kehendak bersifat independen dari semua daya pikat yang berasal dari dunia
fenomenal. Alasannya karena kehendak bersifat otonom. Kehendak tidak bisa
bersifat demikian jika dia ditentukan atau dikondisikan oleh mekanisme kausal.
Oleh karena itu, kehendak adalah bebas (postulat pertama).
Kedua, Kant
mengamati bahwa kebajikan adalah kebaikan tertinggi. Tapi keinginan (desire)
kita tidak akan sepenuhnya terpuaskan kecuali jika kebahagiaan selalu menjadi akibat
dari setiap kebajikan. Dalam dunia fenomenal ini, adalah mustahil mencapai
kebahagiaan melalui kebajikan. Dari fakta inibahwa kebahagiaan berada di luar
pencapaian dalam kehidupan sekarang muncul keyakinan akan keabadian jiwa
(postulat kedua).
Ketiga, karena kita yakin bahwa kebahagiaan mengikuti
kebajikan tentu, keyakinan ini melahirkan kepercayaan akan eksistensi Allah
(postulat ketiga). Demikianlah, Kant yakin bahwa dia tidak hanya telah
merekonstruksi dunia metafisika tradisional, tetapi juga yakin bahwa dirinya
telah meletakkan dasar yang lebih solid bagi metafisika, pendasaran metafisika
yang melampaui berbagai keraguan apa pun mengenainya.
Bagi Kant, kehendak
memiliki keunggulan melampaui intelek. Kritik atas Putusan Critique of Pure
Reason dan Critique of Practical Reason sama-sama membentuk dualisme fenomena
dan noumenon, yakni yang dapat diinderai dan melampaui pengindraan, yang
terkondisikan dan tak-terkondisikan, keniscayaan mekanis dan kebebasan. Tidak
ada filsafat lain yang sanggup menyimpulkan dualism semacam itu, karena ego
pada saat yang sama adalah subjek baik bagi dunia teoritis maupun dunia
praktis.
Oleh karena itu perlu bahwa kedua aspek teoritis dan
praktis melaluinya realitas ditampakkan, disintesakan dalam sebuah kesatuan yang
berpusat pada ego. Kant mempertahankan pandangan bahwa sintesis semacam itu
adalah mungkin melalui putusan atas perasaan (judgement of sentiment), yakni
studi yang mengenainya disajikan Kant dalam Kritik atas Putusan (Critique of
Judgment). Putusan atas perasaan janganlah dicampur aduk dengan putusan
sintetis a priori yang sudah didiskusikan dalam Critique of Pure Reason. Hal
yang terakhir ini mengandaikan suatu bentuk kosong atau forma kosong intelek
(kategori), yang ditentukan oleh elemen tertentu yang ditangkap melalui
pengindraan. Kant menyebut putusan sintetik a priori sebagai jenis putusan yang
penting (determining judgement), dan inilah yang kemudian pengetahuan yang
benar dan tepat yang dinamakan pengetahuan fenomenal. Di lain pihak, putusan
atas perasaan terbentuk dengan merujuk objek yang dipahami kepada sebuah bentuk
yang tidak ada dalam intelek, tetapi dalam kekuatan afektif dari kehendak
(emosi). Bentuk yang muncul dalam sentimen adalah penengah antara yang teoritis
dan yang praktis. Putusan atas perasaan semacam ini adalah mungkin karena
subjek (ego), dengan merefleksikan data yang ditangkap, memutuskan data-data
tersebut sebagai yang disesuaikan dengan kegiatan-kegiatan merasa (sentimental
activities) si subjek. Kant menyebut kegiatan ini sebagai putusan hasil
refleksi (reflecting judgment). Perlu dicatat, putusan sebagai hasil refleksi
ini memiliki asal muasal di luar bentuk a priori intelek. Akibatnya, putusan
semacam ini tidak memberikan kita pengetahuan yang benar dan tepat, tapi hanya
memanifestasikan kemendesakkan (exigency) ego. 11 Dalam Kritik atas Putusan
(Critique of Judgment), Kant menyajikan hanya dua putusan sebagai hasil
refleksi (reflecting judgment) yang timbul dari finalitas alam (finality of
nature) yang disebutnya dengan nama estetika.
1. Putusan teleologis Kegiatan
kreatif alam mengembangkan dirinya dalam serangkaian fenomena yang berubungan
satu sama lain secara mekanis, yaitu melalui hukum kausalitas. Merefleksikan
suksesi mekanistis ini seseorang segera menyadari bahwa unsur-unsur individual
dari rangkaian fenomena itu dikoordinasikan secara harmonis menuju sebuah akhir
yang sama, seolah-olah masing-masing bagian dikendalikan oleh sebuah Akal
Absolute demi mengaktualisasikan tujuan akhir tertentu yang telah ditentukan
sebelumnya (finalitas). Finalitas semacam ini dapat diamati terutama dalam
organisme hidup, di mana mudah untuk memperhatikan bagaimana bagian-bagian
berkembang ke arah menghasilkan organisme hidup yang sempurna. Kant memperluas
pandangan ini meliputi seluruh alam dan melihatnya berpuncak pada lahirnya
spiritualitas, yang akan dicapai melalui budaya dan peradaban, kemampuan teknis
dan pendidikan moral. Pandangan teleologis ini, dalam mana kita menganggap
dunia pengada-pengada dan peristiwa sebagai yang dibaktikan (ordained) bagi
sebuah tujuan akhir dan pada akhirnya bagi kemendesakan (exigency)
spiritualitas kita, menemukan alasannya dalam perasaan dan bukan dalam intelek.
Seperti terdapat dalamCritique of Practical Reason, solusinya ditemukan dalam
kemendesakan dari yang tidak berkondisi, dan bukan dalam pengetahuan yang tidak
berkondisi.
2. Putusan estetis Putusan estetis, melaluinya kita menilai sebuah
objek sebagai yang menyenangkan, dimulai dengan kita memisahkan objek dari
setiap konsep khusus (determined concept) dan dari setiap kepentingan praktis,
dan dengan mereferensi objek yang telah dibebaskan itu kepada subjek. Subyek
kemudian menemukan kepuasan fakultas rohaninya dalam obyek yang dirujuk
kepadanya dan menyatakan kepuasannya ini dalam putusan estetis: “Lahan ini
indah!” Hal yang kurang dalam putusan estetis adalah (1) semua putusan
pengetahuan (misalnya: “Lahan ini luas”), dan (2) semua putusan dari
kepentingan (misalnya: “Lahan ini berguna untuk penggembalaan ternak”). Objek
dari sebuah putusan estetis adalah adalah “bentuk” dari objek yang ditentukan
dalam dirinya sendiri (considered in itself) (misalnya: komposisi warna dalam
sebuah lanskap) dan diarahkan kepada subjek. Subyek dengan demikian menemukan
kepuasan bagi fakultas rohaninya. Dalam menyadari kenikmatan estetis, subjek
(ego) merasa dirinyabebas dari kepentingan teoritis atau praktis apapun; ia
merasa dirinya sebagai satu,seorang pribadi, subjek dari kegiatan rohani.
Demikianlah kita berada dalam ranah yang tidak berkondisi. Perlu dicatat bahwa putusan
estetis bukanlah pengetahuan sejati. Ini adalah urgensi atau kemendesakan dari
subjek dalam mengekspresikan perasaan estetisnya dalam cara sebagaimana
dijelaskan. Kesimpulan Bagi Kant, satu-satunya pengetahuan yang benar dan tepat
adalah pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui
kategori-kategori intelek, yang tugasnya adalah 12 mengatur data-data
pengindraan yang masuk sesuai suksesi mekanik mereka. Ideal realitas
(noumenon), Allah, keabadian jiwa, dan dunia eksternal bukanlah objek dari
intuisi yang masuk akal (sensible intuiton), dan karenanya bukan obyek dari
pengetahuan yang adalah lazim bagi intelek. Tanpa ragu, bagi Kant, keberadaan
dari yang melampaui pengindraan, Allah dan keabadian jiwa sungguh-sungguh
pasti; itu adalah determinasi konseptual (conceptual determination) mereka yang
adalah mustahil. Untuk alasan ini, Kant dipaksa menunjukkan keberadaan mereka
sebagai yang dipostulatkan oleh rasio praktis dan sebagaikemendesakan dari
fakultas yang beroperasi di ranah finalitas dan estetika. Tetapi begitu
pemahaman yang benar dan tepat dari keberadaan Allah dan jiwa ditolak, siapa
yang dapat meyakinkan kita bahwa postulat-postulat dan
kemendesakan-kemendesakan yang dibicarakan Kant dengan begitu fasih bukanlah
semata-mata ilusi si subjek? Bukankah akan tampak lebih logis untuk menyajikan
subjek, jiwa manusia, sebagai pencipta dan pengatur mutlak, dan kemudian
menurunkan seluruh realitas dari manusia melalui deduksi logis? Inilah
kecenderungan yang perlahan-lahan menyertai seluruh Kritisisme Kantian, dan
untuk alasan ini tanpa keraguan apapun Kant adalah Bapak Idealisme modern.
Komentar
Posting Komentar