Sejarah Filsafat Berdasarkan Kurun Waktu (Zaman Klasik - Zaman Kontemporer)
Perkembangan Filsafat Ilmu pada Zaman Klasik
Ionia Tempat Lahirnya Filsafat Barat
Tempat lahirnya filsafat Yunani adalah asia kecil, dan filsuf-filsuf pertama yunani berasal dari Ionia. Herodotus berpendapat bahwa agama dan kebudayaaan Yunani berasal dari Mesir. Menurut Coppleston sulitlah untuk menjelaskan bahwa para saudagar Mesir mengekspor pemikiran Mesir ke Yunani. Dan menurut Bunet, Mesir tidak memiliki filsafat, sebab itu pendapat bahwa filsafat Yunani berasal dari Mesir sulit diterima. Jadi, filsafat Yunani, berasal dari Yunani sendiri yakni Ionia.
Tapi kenyataan bajwa filsafat yunani berkaitan erat dengan matematika. Coppleston berpendapat, memang ada kemungkinan besar bahwa matematika yunani dipengaruhi Mesir dan astronomi yunani dipengaruhi Babylon, Sebab ilmu pengetahuan dan filsafat yunani mulai berkembang di daerah yang merupakan pertemuan barat dan timur. Tapi tidak tepat dikatakan bahwa matematika ilmiah.
Matematika Mesir terdiri dari metode-metode empiris, kasar dan lengkap untuk memperoleh hasil praktis. Geometri Mesir umumnya terdiri dari metode-metode praktis untuk mengukur tanah setelah meluapnya sungai Nil. Tapi Mesir tidak mengembangkan geometri ilmiah, Demikian juga astronomi Babylon, sebetulnya merupakan astrologi, yakni ilmu nujum bintang. Sebaliknya orang Yunani mengembangkannya menjadi ilmu astronomi ilmiah. Jadi, menurut Coppleston, matematika dan astronomi Yunani lahir di Yunani sendiri.
Dengan demikian Yunani adalah tempat asal para pemikir dan ilmuan asli Eropa. Orang Yunanilah yang pertama-tama mempelajari ilmu pengetahuan demi ilmu pengetahuan itu sendiri. Mereka mempelajari ilmu pengetahuan dengan semangat ilmiah, bebas dan tanpa prasangka. Hegel, filsuf terkenal Jerman, berpendapat bahwa filsafat Yunani sepenuhnya dilakukan dengan semangat kebebasan ilmiah.
1. Masa Pra-Sokrates
Filsafat di masa Pra-Sokrates merupakan
tahap pertama dalam filsafat Yunani. Meskipun bukan merupakan filsafat murni,
tetapi ia merupakan filsafat yang sesungguhnya. Sebaliknya, filsafat
Pra-Sokrates bukannya merupakan unit tertutup yang tidak berhubungan dengan
pemikiran filosofis sesudahnya, tapi merupakan persiapan bagi periode
sesudahnya. Meskipun Plato dan Aristoteles mengemukakan filsafat yang brilian,
keduanya tidak terlepas dari pengaruh filsafat pra-Sokrates. Plato misalnya, sangat
dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Heracleitos, para filsuf Elea dan
Pythagoreanisme. Adapun filsuf-filsuf yang hidup sebelum masa Sokrates adalah:
a. Thales (625-545 SM)
Dalam sejarah filsafat Thales dijuluki
sebagai filsuf Yunani pertama. Dia dalah satu dari tujuh orang bijak di
zamannya (bersama Bias dari Priene, Pittakos dari Mytilene, Soloon dari Athena,
Kleouboulous dari Lindos, Khilon dari Sparta, dan Priandros dari Korinthos).
Thales dalah filsuf dan ilmuwan praktis.
Sebagai filsuf, Thales dan Miletus berusaha
menjawab pertanyaan: apa sala usul segala sesuatu? Menurut Thales, bahan dasar
dari segala sesuatu adalah air. Itu merupakan kesimpulan setelah ia mengamati
dominasi peran air di alam dan kehidupan manusia. Seperti dikatakan
Aristoteles, Thales dari hari ke hari mengamati bahwa kabut memberi kehidupan
bagi segala sesuatu. Bahkan panas itu sendiri berasal dari kelembaban.
Dia juga mengamati bahwa segala macam
benih mempunyai kodrat kelembaban, dan air merupakan asal dari hakekat
benda-benda yang lembab. Thales mungkin juga dipengaruhi oleh teologi-teologi
kuno, di mana air merupakan obyek komando di kalangan dewa-dewi.
b. Anaximandros (611-545 SM)
Anaximander juga seorang ilmuwan. Konon,
menurut Theophrastus, dia membuat sebuah peta, yang mungkin digunakan oleh para
pelaut Milesia ke laut hitam. Menurut Theophrastus, Anaximander adalah rekan
sejawat Thales, dan nampaknya lebih muda. Di samping kegiatan ilmiahnya, dia
juga mencari jawaban atas pertanyaan sama yang menggugah Thales. Tapi menurut
dia, prinsip pertama dan utama itu tidak mungkin air seperti yang dikatakan
Thales.
Kalau perubahan, kelahiran dan kematian,
pertumbuhan dan kehancuran disebabkan oleh konflik, maka tak dapat dijelaskan
mengapa ada benda-benda lain yang tidak dapat melebur menjadi air. Maka menurut
dia, prinsip pertama dari segala benda adalah to apeiron (yang berarti
substansi yang tak terbatas). To apeiron itu kekal dan tak dimakan usia, itulah
yang merangkum seluruh jagad.
Anaximander mengajarkan bahwa bumi bukan
berbentuk piringan (disc) tapi silinder pendek. Kehidupan berasal dari laut,
dan melalui adaptasi dengan lingkungan bentuk-bentuk hewan yang sekarang
berevolusi.
Tentang asal usul manusia Anaximander
mengatakan bahwa pada mulanya manusia dilahirkan dari hewan-hewan spesies lain.
Hewan-hewan lain, katanya, cepat menemukan makanan bagi diri mereka sendiri,
tapi manusia sendiri membutuhkan waktu yang panjang untuk menjadi dewasa. Tapi
dia tak dapat menjelaskan bagaimana manusia bisa hidup dalam tahap transisi.
Jadi, doktrin Anaximander merupakan suatu
langkah maju dibandingkan Thales. Dia tidak menunjuk unsure tertentu, tapi
konsep to apeiron, yakni substansi tak terbatas.
c. Anaximenes (588-524 SM)
Menurut Anaximenes, prinsip dasar segala
sesuatu adalah udara. Kesimpulan ini mungkin sekali didasarkan pada fakta bahwa
manusia hanya bisa hidup kalau bernafas. Jadi, udara adalah prinsip kehidupan.
“Sebagaimana halnya dengan jiwa kita, yakni udara, mempersatukan kita, demikian
juga nafas dan udara merangkul seluruh dunia,” kata Anaximenes. Jadi udara
dalah prinsip dasar (urstoff) dari dunia.
Udara tak dapat dibagi, tapi dapat
kelihatan dalam proses kondensasi dan perengangan. Ketika udara menjadi
renggang (rarefaction), ia menjadi lebih panas, dan cenderung terbakar menjadi
api. Sebaliknya, kalau terjadi kondensasi, ia menjadi lebih dingin dan menjadi
keras. Maka udara berada di antara cincin nyala dan kedinginan, dengan massa
kelembaban di dalamnya.
d. Pythagoras (580-500 SM)
Tentang Pythagoras tidak banyak diketahui.
Yang pasti adalah bahwa Pythagoras mendirikan sebuah tarekat keagamaan di
Kroton, Italia selatan, pada paruh kedua abad 6 SM. Pythagoras sendiri
dilahirkan di Samos, masih daerah Ionia. Iamblicus, salah satu sumber untuk
mengetahui Pythagoras, menyebut Pythagoras antara lain sebagai “pemimpin dan
bapak filsafat Ilahi”. Tapi kisah kehidupan Pythagoras seperti yang ditulis
Iamblicus, porphyries, dan Diogenes Laertius dinilai sebagai roman dan bukan
catatan sejarah.
Ajaran tentang bilangan merupakan ajaran
Pythagoras yang penting. Tapi, di pihak lain filsafat methematico-metafisik ini
sangat sulit dipahami. Yang penting, Pythagoras dan para pengikutnya sangat
terobsesi dengan matematika. Sampai-sampai dikatakan bahwa Tuhan itu seorang
ahli matematika.
Menurut Pythagoras, prinsip dari
segala-galanya adalah matematika. Semua benda dapat dihitung dengan angka, dan
kita dapat mengekspresikan banyak hal dengan angka-angka. Mereka terpesona oleh
kenyataan bahwa interval-interval music antara dua not pada lyra dapat
dinyatakan secara numerik. Seperti halnya harmoni musik bergantung pada angka,
maka harmoni jagad raya juga bergantung pada angka. Bahkan menurut Pythagoras,
benda-benda adalah angka-angka (things are numbers).
Menurut Pythagoreanisme, pusat jagad raya
adalah api (hestia). Di sekeliling api itu beredar kontra bumi (antikhton),
bumi, bulan, matahari dan planet lainnya dan akhirnya langit dengan
bintang-bintang tetap. Pythagoreanisme berpandangan bahwa seluruh langit
merupakan suatu tangga nada musik serta bilangan. Ketika mengelilingi api
sentral tiap benda langit mengeluarkan bunyi yang sesuai dengan tangga nada.
Telinga kita sudah terbiasa dengan musik itu, sehinga kita tak mendengarnya
lagi. Dikisahkan bahwa Pythagoras sendiri telah mendengar music jagad raya itu.
Filsuf-filsuf lain yang hidup sebelum masa
Sokrates, di antaranya:
- Xenophanes
- Heracleitos
- Parmenides dan Melissus
- Zeno
- Empedocles
- Leocippus
- Para filsuf Atomisme
2. Masa Sokrates
Perhatian masa Pra-Sokrates adalah alam
atau kosmos. Pada masa sesudahnya, yakni sokrates, perhatian bergeser pada
manusia itu sendiri, faktor-faktor penyebabnya antara lain:
- Timbulnya sikap skeptic terhadap filsafat Yunani yang tidak dapat menjelaskan pertanyaan tentang asal usul alam semesta. Filsafat Pra-Sokrates juga tidak mampu menjelaskan fenomena kesatuan (unity) dan kejamakan (diversity)
- Semakin besar minat terhadap fenomena kebudayaan dan peradaban. Ini disebabkan pergaulan yang makin gencar antara orang Yunani dan peradaban asing seperti Persia, Babylonia dan Mesir. Menghadapi kenyataan ini, para pemikir Yunani mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah beragam kebudayaan nasional dan local, norma agama dan etis, hanyalah konvensi atau tidak?
a. Kaum Sofis
Ada
perbedaan antara filsafat Pra-Sokrates dengan filsafat sesudahnya, perbedaan
itu ialah:
- Pusat perhatian filsafat masa sokrates adalah manusia, peradaban dan kebiasaan manusia. Sofisme menaruh perhatian pada mikrokosmos, bukan makrokosmos. Manusia mencapai kesadaran diri. Seperti kata Sophocles: “Ada banyak mikjizat di dunia, tapi tak ada mukjizat yang lebih besar dari manusia”.
- Filsafat Yunani Pra-Sokrates memiliki metode deduktif, sedangkan kaum sofis menggunakan metode empirico-induktif.
- Pada masa Pra-Sokrates, filsuf menetapkan prinsip umum, kemudian menjelaskan fenomena fenomena khusus berdasarkan prinsip tersebut. Sebaliknya, kaum sofis adalah ensiklopedis karena mereka menghimpun banyak observasi dan fakta, lalu menarik kesimpulan-kesimpulan, baik teoritis maupun praktis. Kesimpulan-kesimpulan itu sangat banyak dan berbeda sehingga orang bisa jadi bingung. Atau, setelah banyak tahu tentang berbagi negara dan kebudayaan, mereka membuat teori tentang asal-usul peradaban atau asal bahasa.
- Perbedaan juga terletak pada tujuan. Filsafat Pra-Sokrates ingin mencari kebenaran objektif tentang dunia. Kaum sofis mencari kebenaran praktis, bukan kebenaran spekulatif. Tujuan utama filsafat Pra-Sokrates adalah menemukan kebenaran ,sedangkan kaum sofis justru pada mengajar. Itulah sebabnya kaum sofis mempunyai massa murid. Mereka memberikan kursus-kursus, dan latihan. Mereka adalah professor yang mengembara dari kota ke kota, mengumpulkan pengetahuan lalu mengajarkan pada orang lain (umpama tentang tata bahasa, interpretasi penyair, filsafat mitologi, agama, dll).
- Kaum sofis sangat menonjol dalam berpidato, yang merupakan faktor sangat penting dalam kehidupan politik di Yunani kala itu. Di Yunani, agar bias berkecimpung dala politik, orang harus pintar berpidato.
Adapun tokoh-tokoh kaum filsuf sofis ialah
Protagoras (481-411 SM), Prodicus, Hippias, Gorgias (480-380 atau 483-375 SM),
Thrasymachus, Chalderon, dan Anthipon.
b. Socrates
Menurut Plato, ketika dijatuhi hukuman
mati, yakni tahun 399 SM, usia Socrates sekitar 70 tahun, berdasarkan itu
diduga Socrates lahir sekitar tahun 470 SM. Ayahnya bernama Sophroniscus
seorang pemahat, dan ibunya bernama Phaenarete seorang dukun bersalin.
Sosok Socrates sebagai filsuf moral berawal dari peristiwa yang disebut pertobatan Socrates menyusul Orakel Delphic. Diceritakan bahwa Chaerephon, sobat Socrates, suatu ketika bertanya kepada ahli nujum "Apakah ada orang lain yang lebih bijaksana dari Socrates?". Jawaban yang diberikan adalah “tidak”. Ini membuat Socrates merenung-renung. Dia akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa yang dimaksudkan dewa dengan menyebutnya orang paling bijak adalah karena dia tahu bahwa dia tidak tahu apa-apa. Socrates kemudian melihat misinya yakni untuk mencari kebenaran sejati dan membantu orang yang membutuhkan bimbingannya.
Sosok Socrates sebagai filsuf moral berawal dari peristiwa yang disebut pertobatan Socrates menyusul Orakel Delphic. Diceritakan bahwa Chaerephon, sobat Socrates, suatu ketika bertanya kepada ahli nujum "Apakah ada orang lain yang lebih bijaksana dari Socrates?". Jawaban yang diberikan adalah “tidak”. Ini membuat Socrates merenung-renung. Dia akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa yang dimaksudkan dewa dengan menyebutnya orang paling bijak adalah karena dia tahu bahwa dia tidak tahu apa-apa. Socrates kemudian melihat misinya yakni untuk mencari kebenaran sejati dan membantu orang yang membutuhkan bimbingannya.
Adapun
ajaran-ajaran Socrates adalah sebagai berikut:
- Socrates mengajarkan tentang definisi atau hal-hal yang umum (universals) yng bersifat tetap. Menurut Socrates konsep universal tetap sama. Hanya hal-hal partikular dapat beragam, tapi defenisi tetap sama.
- Socrates mengajarkan tentang argumen-argumen induktif. Argumen induktif yang dikembangkan Socrates bukan diperoleh melalui logika, melainkan melalui wawancara atau dialektik. Untuk membuat definisi tentang sesuatu, Socrates bertanya pada orang lain, sementara ia sendiri memperlihatkan ketaktahuan. Dialektik Socrates dimulai dari defenisi-definisi kurang lengkap sampai akhirnya mencapai definisi yang lebih lengkap.
- Tujuan dialektik bukan untuk mempermalukan orang, tapi untuk memperoleh kebenaran. Kebenaran itu bukan sekedar spekulasi murni, melainkan dalam kehidupan yang baik. Menurut Socrates, agar bertindak dengan benar, orang harus tahu apakah kehidupan yang baik itu. Socrates percaya akan jiwa yang hanya dapat dipelihara semestinya lewat pengetahuan, yakni kebijaksanaan yang benar. Pengetahuan yang jelas akan kebenaran sangat penting bagi kehidupan yang benar. Untuk ini adalah tugasnya untuk membidani lahirnya ide-ide yang benar dalam bentuk definisi yang jelas. Metode ini dinamakan mayetika.
- Socrates menaruh perhatian besar pada etika. Dia menganggap misi yang ditetapkan dewa padanya adalah menyadarkan orang-orang agar memelihara harta paling agung yakni jiwa lewat upaya memperoleh kebijaksanaan dan kabajikan. Kehidupan politikpun tak dapat dilepaskan dari etika.
- Etika Socrates memilki ciri pengetahuan dan kebajikan. Menurut dia, pengetahuan dan kebajikan adalah satu, dalam arti bahwa seorang bijaksana, yakni orang yang tahu apa yang baik, juga akan melakukan apa yang benar.
- Socrates mengajarkan bahwa hanya ada satu kebajikan, yakni pengetahuan akan apa yang betul-betuk baik bagi manusia, apa yang betul-betul dapat menghasilkan kesehatan dan harmoni jiwa.
- Dalam ajaran tentang agama, Socrates mengakui adanya Allah-allah, pengetahuan akan Allah-allah tidak terbatas. Terkadang Socrates memang percaya akan adanya Allah yang tunggal, tapi nampaknya Socrates tidak memberi perhatian besar untuk masalah monoteisme dan polyteisme. Menurut Socrates sebagaimana tubuh manusia berasal dari bahan-bahan yang dikumpulkan dari dunia materi, akal budinya juga merupakan bagian dari akal budi universal.
c. Plato
Plato adalah salah satu filsuf terbesar di
dunia. Lahir di Athena dari keluarga terpandang, ayahnya Arston dan ibunya
Perictione. Menurut sejumlah sumber, nama aslinya adalah Aristocles. Nama Plato
baru diberikan sesudahnya karena ia memiliki sosok fisik yang kokoh kuat. Plato menjadi murid Socrates ketika ia berusia 20 tahun. Tapi
perkenalan Socrates pasti lebih awal. Plato pernah mengunjungi Italia dan
Sisilia ketika berusia 40 tahun. Konon ia juga pernah mengunjungi Mesir, tapi
cerita ini belum bisa diterima oleh sebagian pengamat. Plato pernah dijual
sebagai budak kepada Aegina atas perintah Dionysius I, Tiran dari Syracuse.
Adapun
ajaran-ajaran terpenting dari Plato adalah:
a. Dua Dunia
Plato mengajarkan tentang dua dunia, yakni
dunia idea dan dunia materi. Dunia idea bersifat tunggal, permanen/tidak
berubah, kekal. Dunia jasmani bersifat jamak, berubah-ubah dan tidak kekal.
b. Jiwa
Jiwa adalah suatu adikodrati, berasal dari
dunia idea, tidak dapat mati, kekal. Jiwa terdiri dari tiga bagian (fungsi),
yakni rasional (dihubungkan dengan kebijaksaan), kehendak (dihubungkan dengan keberanian), dan bagian keinginan atau nafsu (dihubungkan dengan bagian
pengendalian diri).
c. Negara
Ajaran tentang negara merupakan puncak
filsafat Plato. Menurut Plato tujuan hidup manusia adalah eudaemonia (hidup yang
baik). Agar supaya hidup baik, orang harus mendapatkan pendidikan. Pendidikan
itu bukan soal akal semata-mata, tapi seluruh diri manusia. Akal harus mengatur
nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya dan harus didukung perasaan-perasaan
yang lebih tinggi. Jalan kearah sini adalah kesenian, sajak, music dan
sebagainya. Tujuan pendidikan tercapai kalau ada negara yang baik. Sebab
manusia adalah makhluk social yang memerlukan negara.
Dalam
satu negara ada tiga golongan, yakni:
- Para penjaga, yakni orang bijak (filsuf) yang mengetahui apa yang baik. Kebajikan mereka adalah kebijaksanaan.
- Para prajurit yang menjamin keamanan. Kebajikan mereka adalah keberanian.
- Rakyat jelata seperti petani, tukang dan pedagang. Kebajikan mereka adalah pengendalian diri.
d. Aristoteles
Aristoteles lahir di Stageira, Yunani
Utara. Ayahnya seorang dokter pribadi raja Mcedonia. Ketika berusia 18 tahun ia
belejar filsafat pada Plato di Athena. Setelah Plato meninggal, ia mendirikan
sekolah Assos. Ia kemudian kembali ke Macedonia dan menjadi pendidik pangeran
Alexander Agung. Ketika Alexander Agung meninggal pada thun 323, timbullah huru
hara. Aristoteles dituduh sebagai penghianat. Dia lari ke Khalkes dan meninggal
dunia di situ pada tahun 322.
3. Masa hellenisme dan Romawi
Di masa ini muncul beberapa aliran, terpenting
di antaranya adalah:
- Stoisisme, didirikan oleh Zeno dari Kition. Menurut Stoisisme, jagad raya ditentukan oleh logos atau rasio. Maka segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berlangsung menurut ketetapan yang tak dapat dihindarkan. Etika Stoisisme bersifat kejam, karena manusia tidak dapat menghindarkan segala malapetaka.
- Epikurisme, didirikan oleh Epikuros. Inti ajarannya adalah bahwa manusia harus menggunakan kehendak bebas dengan mencari kesenangan sedapat mungkin. Tapi agar keadaan batin seimbang dan tenang, orang harus menjadi bijaksana. Bersikap bijaksana adalah bersikap membatasi diri dan mengusahakan kesenangan rohani.
- Skeptisisme, dipelopori oleh Pyrrho. Tapi ini bukan suatu aliran dengan pengikut-pengikut tertentu, melainkan hanya merupakan tendensi umum dalam masyarakat.
- Klektisisme, adalah kecenderungan mendamaikan berbagi unsure yang berbeda. Ini juga merupakan kecenderungan umum pada masyarakat, khususnya kaum elit. Seorang yang dikenal denagn eklektis adalah ahli pidato Cicero dan Philo.
Perkembangan Filsafat Barat Abad Pertengahan
Abad pertengahan
merupakan kurun waktu yang khas. Secara singkat dapat
dikatakan bahwa dominansi agama Kristen sangat menonjol. Perkembangan
alam pikiran harus disesuaikan dengan ajaran agama. Demikian pula
filsafat, harus diuji apakah tidak bertentangan dengan ajaran agama. Jelas
teologi lebih tinggi dibandingkan dengan filsafat. Filsafat berfungsi melayani
Teologi. Tapi bukan berarti bahwa pengembangan nalar dilarang.
Dalam sejarah filsafat barat, abad pertengahan dibagi menjadi dua periode yakni masa patristik dan masa skolastik. Baik di Yunani maupun Latin, masa patristik mencatat masa keemasan dengan tokoh dan karya-karya penting. Dibawah ini diuraikan masing-masing tentang Zaman Patristik dan Zaman Skolastik, serta tokoh-tokoh terpentingnya.
Dalam sejarah filsafat barat, abad pertengahan dibagi menjadi dua periode yakni masa patristik dan masa skolastik. Baik di Yunani maupun Latin, masa patristik mencatat masa keemasan dengan tokoh dan karya-karya penting. Dibawah ini diuraikan masing-masing tentang Zaman Patristik dan Zaman Skolastik, serta tokoh-tokoh terpentingnya.
a. Masa Patritistik
Patristik berasal dari kata Patres (bentuk jamak dari Pater) yang berarti bapak-bapak. Yang dimaksudkan adalah para pujangga gereja dan tokoh-tokoh gereja yang sangat berperan sebagai peletak dasar intelektual kekristenan. Mereka fokus pada pengembangan teologi tetapi tidak lepas dari wilayah kefilsafatan.
Patristik berasal dari kata Patres (bentuk jamak dari Pater) yang berarti bapak-bapak. Yang dimaksudkan adalah para pujangga gereja dan tokoh-tokoh gereja yang sangat berperan sebagai peletak dasar intelektual kekristenan. Mereka fokus pada pengembangan teologi tetapi tidak lepas dari wilayah kefilsafatan.
Bapak Gereja terpenting pada masa itu antara
lain Tertullianus (160-222), Justinus, Clemens dari Alexandria (150-251),
Origenes (185-254), Gregorius dari Nazianza (330-390), Basilus Agung (330-379),
Gregorius dari Nyssa (335-394), Dionysius Areopagita, Johanes Damascenus,
Ambrosius, Hyeronimus, dan Agustinus (354-430).
Tertullianus, Justinus, Clemens dari
Alexandria, dan Origenes adalah pemikir-pemikir pada masa awal patristik.
Gregorius dari Nazianza, Basilus Agung, Gregorius dari Nyssa, Dionysius
Areopagita,dan Johanes Damascenus adalah tokoh-tokoh pada masa patristik
Yunani. Sedangkan Ambrosius, Hyeronimus, dan Agustinus adalah pemikir-pemikir
yang menandai masa keemasan patristik Latin.
Masa keemasan patristik Yunani didorong
oleh Edik Milan yang dikeluarkan Kaisar Constatinus Agung tahin 313 yang
menjamin kebebasan beragama bagi umat Kristen. Agustinus adalah seorang
pujangga gereja dan filsuf besar. Setelah melewati kehidupan masa muda yang
hedonistis, Agustinus kemudian memeluk agama Kristen dan menciptakan sebuah
tradisi filsafat Kristen yang berpengaruh besar pada abad pertengahan. Karyanya
yang terpenting adalah Confessiones (pengakuan-pengakuan) dan De Civitate Dei
(tentang kota Allah).
Agustinus menentang aliran skeptisisme
(aliran yang meragukan kebenaran). Menurut Agustinus skeptisisme itu sebetulnya
merupakan bukti bahwa ada kebenaran. Orang ragu-ragu itu sebenarnya bukti bahwa
dia tidak ragu-ragu tehadap satu hal yaitu bahwa ia ragu-ragu. Orang yang
ragu-ragu itu sebetulnya berpikir, dan siapa yang harus berpikir harus ada. Aku
ragu-ragu maka aku berpikir, aku berpikir maka aku berada. Menurut Agustinus,
Allah menciptakan dunia ex nihilo (konsep yang kemudian juga diikuti oleh
Thomas Aquinos). Artinya, dalam menciptakan dunia dan isinya, Allah tidak
menggunakan bahan. Jadi, berbeda dengan konsep yang diajarkan Plato bahwa me on
merupakan dasar atau materi segala sesuatu.
Filsafat patristik mengalami kemunduran
sejak abad V hingga abad VIII. Di barat dan timur tokoh-tokoh dan
pemikir-pemikir baru dengan corak pemikiran yang berbeda dengan masa patristik.
b. Masa Skolatistik
Nama skolastik menunjukan besarnya peranan sekolah-sekolah dan biara-biara dalam pengembangan pemikiran-pemikiran filsafat. Masa skolastik dimulai setelah filsafat mengalami masa kevakuman karena situasi politik yang tidak stabil.
Nama skolastik menunjukan besarnya peranan sekolah-sekolah dan biara-biara dalam pengembangan pemikiran-pemikiran filsafat. Masa skolastik dimulai setelah filsafat mengalami masa kevakuman karena situasi politik yang tidak stabil.
Sejak pemerintahan Karel Agung (742-814),
keadaan mulai pulih, Kegiatan intelektual mulai bersemi kembali. Ilmu
pengetahuan, kesenian, dan filsafat mendapat angin segar.
Masa Skolastik mencapai puncak kejayaannya
pada abad XIII. Di masa ini filsafat dikaitkan dengan teologi, tetapi sudah
menemukan tingkat kemandirian tertentu. Patut diberi catatan khusus tentang
penyebaran karya-karya filsafat Yunani, karena inilah faktor terpenting bagi
perkembangan intelektual dan filsafat.
Masuknya filsafat Aristoteles ke barat
dimungkinkan lewat filsuf-filsuf arab yaitu Ibnu Sina atau Avicenna (980-1037),
dan Ibnu Rusyd (1126-1198) alias Averroes. Avicenna berusaha menggabungkan
filsafat Aristoteles dan Neoplatonisme sedangkan Averroes merupakan pengagum
Aristoteles dan menulis komentar tentang pemikiran-pemikiran Aristotelian.
Sebab itu ia dijuluki Sang Komentator.
Kehadiran
karya-karya Aristoteles itu memberikan nuansa baru. Orang yang berhadapan
dengan karya-karya nonkristen. Tugas filsafat dan teologi adalah mendamaikan
alam pikiran baru itu dengan ajaran Kristen, khususnya alam pemikiran Agustinus
yang mendominasi masa-masa sebelumnya.
Tokoh-tokoh terpenting pada masa skolastik
adalah Boethius (480-524), Johanes Scotus Eurigena (810-877), Anselmus dari
Canterbury (1033-1109), Petrus Abelardus (1079-1142), Bonaventura (1221-1274),
Siger dari Brabant (1240-1281), Albertus Agung (1205-1280), Thomas Aquinos
(1225-1274), Johanes Duns Scotus (1226-1308), Guliemus dari Ockham (1285-1349),
dan Nicholaus Cusanus (1401-1464).
Boethius adalah seorang menteri pada
pemerintahan Raja Theodorik Agung di Italia. Namun, ia dijebloskan ke penjara
karena dianggap sebagai komplotan. Dipenjara ia menulis buku yang berjudul De
Consolatione Philosophiae.
Johanes Scotus Eurigena mengajar di
sekolah istana yang didirikan oleh Karel Agung. Anselmus adalah seorang uskup
yang terkenal dengan semboyan Credo Ut Intelligam (saya percaya agar saya
mengerti). Artinya, dengan percaya orang akan mendapatkan pemahaman lebih dalam
tentang Allah.
Petrus Abelardus mempunyai jasa besar
dalam etika dan logika. Dia ikut memberikan pendapat yang sangat berharga
menyangkut perdebatan di masa itu tentang Universalia (konsep-konsep umum),
antara kelompok penganut Realisme dan Nominalisme.
Ibnu Sina (Avicenna) berusaha menggabungkan
filsafat Aristoteles dan Neoplatonisme. Dia menganut ajaran manansi plotinos,
dan mengatakan Allah menyelenggarakan dunia secara tidak langsung melalui intelek
aktif yang berasal dari intelek pertama.
Ibnu Rushd (Averroes) ia dijuluki Sang
Komentator. Dia mengajarkan monopsikisme yaitu pandangan bahwa jiwa adalah
milik bersama umat manusia.
Bonaventura adalah biarawan ordo
fransiskan yang menjadi professor di Paris, dan pernah dipercaya memimpin ordo
tersebut. Siger dari Brabant adalah mahaguru di fakultas sastra di Paris.
Albertus Agung adalah seorang biarawan
ordo dominikan, dan pernah menjadi mahaguru di sejumlah universitas di Jerman
dan Paris.
Thomas Aquinos dijuluki pangeran masa
skolastik. Ia adalah seorang biarawan ordo dominikan, mengajar di Paris,
Jerman, dan Italia. Thomas Aquinos berpendapat bahwa filsafat harus mengabdi
teologi, waktu itu dikenal ungkapan Philosophia Est Ancilla Theologiae.
Manusia dapat mengenal Allah dengan menggunakan rasio. Tetapi, pengenalan itu
hanya melalui ciptaan-ciptaan. Thomas membuktikan adanya Allah melalui
rangkaian argumentasi yang dikenal dengan Quinqae Viae (Lima Jalan) yaitu:
- Gejala adanya perubahan atau gerak
- Gejala sebab dan akibat
- Gejala kontingensi
- Adanya hierarki kesempurnaan
- Finalitas dunia
Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Jiwa
merupakan forma dan tubuh merupakan materinya. Keduannya tidak dapat dipisahkan
dan merupakan satu substansi.
Johanes Duns Scotus adalah seorang
biarawan ordo fransiskan. Ia mengikuti ajaran Aristoteles dan Bonaventura.
William Ockham adalah seorang biarawan
ordo fransiskan. Ia dianggap pemikir bermasalah di gereja, di bidang filsafat
ajarannya bercorak empiristis.
Nicholaus Cusanus adalah uskup dan
kardinal. Meskipun dipercaya mampu memangku tugas kegerejaan, Nicholaus dikenal
sebagai ilmuwan.
Perkembangan Filsafat Modern
Filsafat klasik bersifat kosmosentris, filsafat abad pertengahan bersifat teosentris, sedangkan filsafat modern bersifat antroposentris. Di zaman Yunani klasik, pusat perhatian filsafat adalah pertanyaan: apa yang merupakan unsur pertama dari kosmos. Pada abad pertengahan Allah diakui sebagai pencipta alam semesta. Sedangkan pada zaman modern, yang menjadi pusat pergulatan filosofis adalah manusia itu sendiri.
Renaissance
Kata ini berasal dari bahasa Prancis dan
berarti kelahiran kembali. Maksudnya, usaha untuk menghidupkan kembali
kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Dalam sastra lahirlah humanisme,
yang juga mencari inspirasinya pada sastra Yunani dan Romawi. Renaissance
ditandai oleh kelahiran kembali di berbagai ilmu, seperti ilmu sastra,
kesenian, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan alam berkembang
pesat berdasarkan metode eksperimental.
Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler, dan
Galileo Galilei adalah contoh ilmuwan yang membawakan wawasan baru dengan
penemuan-penemuan yang penting. Copernikus, berdasarkan penyelidikannya,
mengemukakan bahwa pandangan geosentris yang dianggap benar selama berabad-abad
sebelumnya ternyata salah. Menurut Copernicus, bukan bumi yang menjadi pusat,
melainkan matahari adalah pusat jagad raya. Galileo Galilei kemudian memperkuat
teori Copernikus tentang heliosentrisme.
Di bidang filsafat, peletak dasar filsafat
zaman renaissance adalah Francis Bacon (1561-1623), seorang filsuf dari
Inggris.
1. Filsafat Abad XVII
Tiga aliran besar filsafat yang muncul dan
berkembang pada abad XVII adalah rasionalisme, empirisme, dan idealisme.
Berikut dibicarakan tentang ketiga aliran tersebut.
a. Rasionalisme
Rasionalisme adalah paham yang mengajarkan
bahwa sumber pengetahuan satu-satunya yang benar adalah rasio (akal budi).
Tokoh-tokoh terpenting aliran rasionalisme adalah Blaise Pascal, Baruch
Spinoza, G.W.Leibnitz, Christian Wolff, dan Rene Descartes (1596-1650).
Rene Descartes dijuluki Bapak Filsafat
Modern. Ucapannya yang terkenal adalah Coglto Ergo Sum (Aku berpikir maka aku
ada). Ungkapan ini mempunyai makna lebih dalam dari sekedar pengertian
harafiah. Dengan ungkapan itu hendak dinyatakan metode yang dianut Descartes
yakni metode kesangsian. Descartes mengatakan bahwa segalanya harus disangsikan
secara radikal, dan tidak boleh diterima begitu saja. Kalau suatu kebenaran
tahan terhadap kesangsian (artinya tidak disanksikan lagi), itulah kebenaran
yang sesungguhnya dan harus menjadi fondamen bagi ilmu pengetahuan.
Itulah sebabnya Cogito Ergo Sum harus
diartikan sebagai: saya yang sedang sanksi, ada. Bagi Descartes, berpikir
berarti menyadari. Jika saya menyanksikan, maka saya menyadari sungguh-sungguh
bahwa saya menyanksikan. Kebenaran itu pasti sebab saya mengerti dengan jelas
dan terpilah-pilah (c/ear/y and dis- tinctly).
Menurut Descartes, dalam diri manusia
terdapat tiga ide bawaan sejak lahir, dan itulah yang merupakan kebenaran.
Ketiga ide bawaan itu adalah pikiran, Allah, dan keluasan.
Mengapa pikiran? Karena kalau saya
memahami diri sebagai makluk yang berpikir, maka hakekat saya adalah pemikiran.
Mengapa Allah? Kalau saya mempunyai idea "sempurna", harus ada
penyebab sempurna idea itu, karena akibat tidak pernah melebihi penyebabnya. Dan mengapa pula keluasan? Karena saya
mengerti materi sebagai keluasan (ekstensi).
Satu-satunya alasan untuk menerima dunia
materi adalah bahwa Allah akan menipuku jika Ia memberikan idea keluasan
padahal tidak ada suatu pun yang mempunyai luas. Tapi, menurut pengamatan, di
luarku ada dunia materi. Jadi, Allah itu ada.
Menurut Descartes, manusia terdiri dari
jiwa (pemikiran) dan tubuh (keluasan). Tubuh adalah mesin yang dijalankan jiwa.
Dengan pandangan seperti ini, Descartes mengakui dualisme dalam manusia.
b. Empirisme
Empirisme adalah aliran yang mengajarkan
bahwa hanya pengalaman (lewat indra) merupakan sumber pengetahuan yang benar.
Jadi, empirisme bertolak belakang dengan pandangan rasionalisme. Immanuel Kant
kemudian mendamaikan kedua pandangan yang sangat ekstrim tersebut.
Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah
Thomas Hobbes dan John Locke, keduanya dari Inggris.
2. Filsafat Abad XVIII (Aufklaerung)
Aufklaerung berarti pencerahan (istilah
bahasa Inggris untuk ini adalah enlightment). Dinamakan demikian karena pada
periode ini manusia mencari cahaya baru dalam rasionya. Keadaan periode sebelum
ini sering diumpamakan dengan keadaan belum akil baligh, dimana manusia kurang
menggunakan kemampuan akal budinya.
Salah satu ciri terpenting zaman Aufklaerung adalah perkembangan pesat ilmu pengetahuan. Dalam fisika kita kenal ilmuwan besar seperti Isaac Newton. Karena rasio mendapat tempat terhormat dan menjadi pusat perhatian, maka orang mulai meragukan wahyu dan otoritas agama. Mudah dimengerti, mengapa di Prancis muncul sikap antikristianisme dan antiklerikalisme. Agama kristen, sebelum periode ini, memainkan peranan sangat menentukan.
Salah satu ciri terpenting zaman Aufklaerung adalah perkembangan pesat ilmu pengetahuan. Dalam fisika kita kenal ilmuwan besar seperti Isaac Newton. Karena rasio mendapat tempat terhormat dan menjadi pusat perhatian, maka orang mulai meragukan wahyu dan otoritas agama. Mudah dimengerti, mengapa di Prancis muncul sikap antikristianisme dan antiklerikalisme. Agama kristen, sebelum periode ini, memainkan peranan sangat menentukan.
Akal budi tidak diingkari, tetapi
diletakkan pada fungsinya sebagai pendukung iman dan wahyu. Penjelasan apapun
yang tidak sesuai dengan iman dianggap tidak benar.
Tempat para klerus dalam lingkungan yang
memberi tempat penting kepada agama memang sangat istimewa. Oleh sebab
itu, pada masa pencerahan, orang tak mau tunduk lagi kepada otoritas agama.
Mulai berkembang pemikiran. pemikiran bebas. Aufklaerung merintis jalan menuju
revolusi Prancis tahun 1789.
Tokoh-tokoh terpenting filsafat masa pencerahan
antara lain George Berkeley dan David Hume (Inggris), Voltaire dan Jean-Jacques
Rousseau (Prancis), dan Immanuel Kant (Jerman). Filsuf paling penting untuk
periode ini adalah Immanuel Kant.
Seperti dikatakan di atas, Kant berusaha
mendamaikan pandangan rasionalisme dan empirisme. Menurut Kant, peran rasio dan
pengalaman sama pentingnya dalam proses mengetahui. Pengalaman indra
dinamakannya unsur aposteriori, sedangkan akal budi dinamakannya unsur apriori.
Kant berpendapat bahwa pengetahuan selalu merupakan hasil sintese unsur akal
budi dan pengalaman. Akal budi sendiri tidak dapat dipercaya begitu saja,
demikian pula pengalaman indera. Kita mengalami bahwa indra banyak kali menipu.
Kita melihat mentari sebagai sebuah benda langit bercahaya yang kecil, padahal
dalam kenyataannya matahari adalah badan angkasa yang sangat besar. Oleh sebab
itu hasil pengamatan indra harus diteguhkan oleh akal budi.
3. Filsafat Abad XIX
Aliran-aliran besar yang muncul sepanjang abad XIX adalah idealisme Jerman, positivisme, dan materialisme. Berikut diuraikan secara singkat aliran- aliran tersebut serta sejumlah tokohnya.
Aliran-aliran besar yang muncul sepanjang abad XIX adalah idealisme Jerman, positivisme, dan materialisme. Berikut diuraikan secara singkat aliran- aliran tersebut serta sejumlah tokohnya.
a. Idealisme Jerman
Idealisme adalah aliran yang berpandangan
bahwa tidak ada realitas objektif dari dirinya sendiri. Realitas seluruhnya,
menurut aliran ini, bersifat subjektif. Seluruh realitas merupakan hasil
aktivitas Subjek Absolut (yang dalam agama dinamakan Allah).
Jadi, menurut idealisme rasio atau roh (idea) mengendalikan realitas seluruhnya. Segala sesuatu merupakan tampakan-tampakan atau momen-momen yang berkembang sendiri. Idealisme pada dasarnya bertentangan dengan Platonisme.
Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah tiga filsuf Jerman yakni J.G.Fichte ( 1762- 1814), F.W J.Schelling ( 1775- 1854), dan G.W.F. Hegel (1770-1831). Filsuf paling penting di antara ketiganya adalah Hegel.
Jadi, menurut idealisme rasio atau roh (idea) mengendalikan realitas seluruhnya. Segala sesuatu merupakan tampakan-tampakan atau momen-momen yang berkembang sendiri. Idealisme pada dasarnya bertentangan dengan Platonisme.
Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah tiga filsuf Jerman yakni J.G.Fichte ( 1762- 1814), F.W J.Schelling ( 1775- 1854), dan G.W.F. Hegel (1770-1831). Filsuf paling penting di antara ketiganya adalah Hegel.
b. Positivisme
Aliran ini berpandangan bahwa manusia
tidak pernah mengetahui lebih dari fakta-fakta, atau apa yang nampak. Manusia
tidak pernah mengetahui sesuatu di balik fakta-fakta.
Oleh sebab itu, menurut positivisme, tugas ilmu pengetahuan dan filsafat adalah menyelidiki fakta-fakta, bukan menyelidiki sebab-sebab terdalam realitas. Dengan demikian, positivisme menolak metafisika.
Oleh sebab itu, menurut positivisme, tugas ilmu pengetahuan dan filsafat adalah menyelidiki fakta-fakta, bukan menyelidiki sebab-sebab terdalam realitas. Dengan demikian, positivisme menolak metafisika.
Positivisme mempunyai persamaan dan
perbedaan dengan empirisme.Persamaan pada keduanya adalah bahwa keduanya
mengutamakan pengalaman indra. Akan tetapi positivisme hanya menerima
pengalaman obyektif, sedangkan empirisme menerima juga pengalaman
batiniah/subyektif.
Tokoh-tokoh terpenting positivisme antara
lain Auguste Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873), dan Herbert
Spencer (1820-1903).
c. Materialisme
Aliran ini berpandangan bahwa seluruh
realitas terdiri dari materi. Artinya, tiap benda atau peristiwa dapat
dijabarkan kepada materi atau salah satu proses materiil. Materialisme
merupakan aliran terpenting dan sangat berpengaruh sepanjang abad XIX, bahkan
sampai dewasa ini. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap idealisme Jerman.
Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah
Ludwig Feuerbach (1804-1872), Kari Marx (1818-1883), dan Friedrich Engels
(1820-1895).
Pikiran-pikiran Kari Marx sering muncul
dalam nama materialisme dialektis dan materialisme historis. Nama-nama itu
bukan berasal dari Mara sendiri.Materialisme historis digunakan oleh Engels
sesudah kematian Marx. Sedangkan materialisme dialektis digunakan tahun 1891
oleh filsuf Russia, G.Plekhanov.
Materialisme dialektis beranggapan bahwa
perubahan kuantitas dapat mengakibatkan perubahan kualitas. Perapatan materi
dapat menghasilkan suatu yang sama sekali baru. Dengan cara demikian, kehidupan
berasal dari materi mati, dan kesadaran manusia berasal dari kehidupan organisme. Materialisme historis berpandangan bahwa arah yang ditempuh sejarah ditentukan
oleh perkembangan sarana-sarana produksi materiil. Menurut Mara, titik akhir
sejarah adalah keadaan ekonomi tertentu, yakni komunisme, di mana milik pribadi
diganti milik bersama. Baru pada kondisi seperti itulah manusia mencapai
kebahagiaannya. Arah ini adalah suatu keharusan, suatu yang mutlak, tak dapat
diubah dengan cara apapun. Dan manusia dapat mempercepat proses itu dengan
melakukan revolusi.
Perkembangan Filsafat Kontemporer
Filsafat Barat kontemporer (abad XX)
sangat heterogen. Hal ini disebabkan antara lain karena
profesionalisme yang semakin besar. Banyak filsuf adalah spesialis bidang
khusus seperti matematika, fisika, psikologi, sosiologi, atau ekonomi.
Hal penting yang patut dicatat adalah
bahwa pada abad XX pemikiran - pemikiran lama dihidupkan kembali. Misalnya,
Neotomisme, Neokantianisme, Neopositivisme, dan sebagainya. Di masa ini
Prancis, Inggris, dan Jerman tetap merupakan negara-negara yang paling depan
dalam filsafat. Umumnya, orang membagikan filsafat pada periode ini menjadi
filsafat kontinental (Prancis dan Jerman), dan filsafat Anglosakson (Inggris).
Aliran-aliran
terpenting yang berkembang dan berpengaruh pada abad XX adalah pragmatisme,
vitalisme, fenomenologi, eksistensialisme, filsafat analitis (filsafat bahasa),
strukturalisme, dan postmodernisme.
2 1. PRAGMATISME
Pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar
adalah apa yang akibat-akibatnya bermanfat secara praktis. Jadi, patokan
pragmatisme adalah manfaat bagi kehidupan praktis. Kebenaran mistis diterima,
asal bermanfaat praktis. Pengalaman pribadi yang benar adalah pengalaman yang
bermanfaat praktis. Aliran ini sangat populer di Amerika Serikat.
Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah William James (1842-1910) dan John Dewey
(1859-1952).
2. VITALISME
Vitalisme berpandangan bahwa kegiatan
organisme hidup digerakkan oleh daya atau prinsip vital yang berbeda dengan
daya-daya fisik. Aliran ini timbul sebagai reaksi terhadap perkembangan ilmu
dan teknologi serta industrialisasi, di mana segala sesuatu dapat dianalisa
secara matematis. Tokoh terpenting vitalisme adalah filsuf Prancis, Henri
Bergson (1859- 1941).
3. FENOMENOLOGI
Fenomenologi berasal dari kata fenomenon
yang berarti gejala atau apa yang tampak. Jadi, fenomenologi adalah aliran yang
membicarakan fenomena atau segalanya sejauh mereka tampak. Fenomenologi
dirintis oleh Edmund HusserI (1859-1938). Seorang fenomenolog lainnya adalah
Max Scheler (1874 - 1928).
4. EKSISTENSIALISME
Eksistensialisme adalah aliran filsafat
yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. Eksistensi
adalah cara berada di dunia. Cara berada manusia di dunia berbeda dengan cara
berada makluk-makluk lain. Benda mati dan hewan tidak menyadari keberadaannya,
tapi manusia sadar bahwa dia berada di dunia. Manusia sadar bahwa ia
bereksistensi. Itulah sebabnya, segalanya mempunyai arti sejauh berkaitan
dengan manusia. Dengan kata lain, manusia memberi arti kepada segalanya.
Manusia menentukan perbuatannya sendiri. Ia memahami diri sebagai pribadi yang
bereksistensi.
Jadi, eksistensialisme berpandangan bahwa
pada manusia eksistensi mendahului esensi (hakekat), sebaliknya pada
benda-benda lain esensi mendahului eksistensi. Manusia berada lalu menentukan
diri sendiri menurut proyeksinya sendiri. Hidupnya tidak ditentukan lebih dulu.
Sebaliknya, benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang
tak dapat dielakkan.
Tokoh-tokoh terpenting eksistensialisme
adalah Martin Heidegger (1883- 1976), Jean-Paul Sartre (1905-1980), Kari
Jaspers (1883-1969), dan Gabriel Marcel (1889-1973). Soren Kierkegaard
(1813-1855), Friedrich Nietzsche (1844- 1900), Nicolas Alexandrovitch Berdyaev
(1874-1948) juga sering dimasukkan ke dalam kelompok filsuf-filsuf
eksistensialis.
Patut dicatat bahwa sebetulnya di antara
para filsuf eksistensialis terdapat perbedaan. Sebagian mereka bahkan tidak mau
dikelompokkan sebagai filsuf eksistensialis. Akan tetapi mereka semua mempunyai
kesamaan pandangan bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkret,
manusia yang bereksistensi. Dalam kaitan dengan ini mereka berpendapat bahwa
pada manusia eksistensi mendahului esensi (Fuad Hassan, 1985: 7-8). Sebagian filsuf eksistensialis adalah ateis, seperti
Jean-Paul Sartre, tetapi ada yang tetap mengakui Allah, seperti Gabriel Marcel.
Jean-Paul
Sartre adalah satu-satunya filsuf kontemporer yang menempatkan kebebasan pada
titik yang sangat ekstrim. Dia berpendapat bahwa manusia itu bebas atau sama
sekali tidak bebas. Tentang kebebasan, Sartre mengatakan: "Manusia bebas.
Manusia adalah kebebasan." Dalam sejarah filsafat tidak pernah ada
ungkapan begitu ekstrim tentang kebebasan. Sartre tidak memandang kebebasan
sebagai salah satu ciri manusia, tapi menganggap manusia sebagai kebebasan. Ini
ada kaitan dengan pandanganaya tentang eksistensi (cara berada). Sartre membedakan dua macam cara berada, yakni etre-en-soi (berada dalam
diri sendiri) dan etre-pour-soi (berada untuk diri).
Etre-en-soi adalah cara
berada yang deterministik. Itu merupakan cara berada benda-benda mati, hewan,
dan tumbuhan. Pohon, misalnya, tumbuh sebagai pohon jenis tertentu, dengan
bakat tertentu. Sampai kapan dan dimana pun pohon itu akan tetap yang sama,
tidak akan meninggalkan kodrat. Batu, dari kodratnya telah ditentukan sebagai
benda yang keras, dan sebab itu ia akan tetap seperti itu sampai kapanpun.
Jadi, cara berada ini sudah ditentukan kodrat.
Sebaliknya, Etre-pour-soi adalah
cara berada khas manusia. Artinya, manusia ada dulu baru menentukan diri
sendiri. Dirinya tidak pernah ditentukan lebih dulu. Manusia ada begitu saja,
dan baru sesudah itu manusia menentukan apa yang harus dilakukannya. Hanya
manusia dapat mengatakan "tidak", benda- benda lain selalu berada
menurut esensi atau kodrat yang telah ditentukan. Karena tidak ditentukan
sebelumnya, maka manusia bertanggungjawab terhadap keberadaannya.
Konsep
kebebasan seperti ini membawa Sartre kepada penolakan akan adanya Allah.
Menurut Sartre, jika ada Allah maka manusia tidak bebas lagi, sebab Allah sudah
menentukan esensi manusia. Pisau yang dibuat tukang, kata Sartre, sudah ada
dalam konsep tukang yang membuatnya sebelum pisau itu hadir dalam bentuk
tertentu. Dalam pikirannya, tukang sudah memikirkan bahwa pisau
itu terbuat dari baja atau besi, tajam, berujung runcing, diberi gagang tanduk
rusa, digunakan untuk memotong daging atau mencukur rambut, dan ciri-ciri
lainnya. Itulah esensi pisau yang sudah ada di kepala tukang sebelum pisau itu
betul-betul hadir dalam wujudnya yang tertentu.
Kalau
ada Allah, kata Sartre, maka Allah pasti sudah mengetahui esensi manusia. Itu
berarti, manusia tidak bebas lagi. Manusia akan melakukan apa yang sudah
ditentukan Allah itu. Tapi itu tidak mungkin sebab pada manusia eksistensi
mendahului esensi. Sebab itu tidak ada Allah.
Menurut
Sartre, manusia tidak mempunyai kodrat. Ia ada begitu saja, baru sesudahnya ia
membuat kodratnya sendiri. Mengapa? Karena memang tidak ada Allah yang
mengkonsepkan kodrat itu. Manusia
tidak mempunyai kewajiban terhadap suatu yang lain, kecuali dirinya sendiri.
Seandainya Allah ada, manusia kehilangan martabat manusianya. Maka mustahil
bahwa Allah dan manusia ada berdampingan. Manusia yang hanya merupakan alat di
tangan Allah, kata Sartre, bukan manusia bebas.
Dalam
bukunya Existentialism and Humanism Sartre memberikan tanggapan kepada
orang-orang yang mengatakan bahwa eksistensialisme adalah atheisme. Sartre
mengatakan bahwa eksistensialisme sama sekali bukan atheisme yang menolak adanya
Allah. Seandainya Allah ada, itu samasekali tidak bakal mengubah apa-apa, kata
Sartre.
5. FILSAFAT ANALITIS
Aliran
ini muncul di Inggris dan Amerika Serikat sejak sekitar tahun 1950. Filsafat
analitis disebut juga filsafat bahasa. Filsafat ini merupakan reaksi terhadap
idealisme, khususnya Neohegelianisme di lnggris. Para penganutnya menyibukkan
diri dengan analisa bahasa dan konsep-konsep. Tokoh-tokohnya yang terpenting
adalah Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Gilbert Ryle, dan John
Langshaw Austin.
6. STRUKTURALISME
Strukturalisme
muncul di Prancis tahun 1960, dan dikenal pula dalam linguistik, psikiatri, dan
sosiologi. Strukturalisme pada dasarnya menegaskan bahwa masyarakat dan
kebudayaan memiliki struktur yang sama dan tetap. Maka kaum strukturalis
menyibukkan diri dengan menyelidiki struktur-struktur tersebut. Tokoh-tokoh
terpenting strukturalisme adalah Levi Strauss, Jacques Lacan, dan Michel
Foucoult.
7. POSTMODERNISME
Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap
modernisme dengan segala dampaknya. Seperti diketahui, modernisme dimulai oleh
Rene Descartes, dikokohkan oleh zaman pencerahan (Aufklaerung), dan kemudian
mengabadikan diri melalui dominasi sains dan kapitalisme. Tokoh yang dianggap
memperkenalkan istilah postmodern (isme) adalah Francois Lyotard, lewat bukunya
The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984).
Modernisme mempunyai gambaran dunia
sendiri yang ternyata melahirkan berbagai dampak buruk, yakni Pertama,
obyektifikasi alam secara berlebihan dan pengurasan alam semena-mena yang
mengakibatkan krisis ekologi. Dampak ini disebabkan oleh pandangan dualistiknya
yang membagi kenyataan menjadi subyek-obyek, spiritual-material, manusia-dunia,
dsb. Kedua, manusia cenderung menjadi objek karena pandangan modern yang
obyektivistis dan positivistis. Ketiga, ilmu-ilmu
positif-empiris menjadi standar kebenaran tertinggi. Keempat, materialisme.
Kelima, militerisme. Keenam, kebangkitan kembali tribalisme (mentalitas yang
mengunggulkan kelompok sendiri.
Istilah postmodern di luar bidang filsafat
muncul lebih dulu. Rudolf Pannwitz, dalam bukunya tentang krisis kebudayaan
Eropa tahun 1947 menggunakan istilah manusia postmodern yang ciri-cirinya sehat,
kuat, nasionalistis, religius, yang muncul dari nihilisme dan dekadensi
nihilisme Eropa. Ia merupakan cermin kemenangan atas kekacauan yang menjadi
ciri khas modernitas.
Dalam perspektif filosofis istilah
postmodern baru digunakan tahun 1979, dan bukan didorong oleh postmodern di
Eropa yang berlatarbelakang arsitektur, melainkan dirangsang oleh diskusi
tentang problem sosiologis masyarakat postindustri di Amerika Utara. Dalam
konteks ini Jean-Francois Lyotard membuat laporan untuk Dewan Universitas Quebec
tentang perubahan-perubahan di bidang pengetahuan pada masyarakat industri maju
karena kemajuan teknologi informasi baru. Laporan itu terbit dalam bukunya yang
disebut di atas tahun 1979. Laporan inilah yang menjadi titik tolak
diskusi-diskusi filosofis tentang postmodernisme (Jurnal Filsafat, 1990: 9-10).
Ciri-ciri terpenting postmodernisme adalah relativisme dan mengakui pluralitas. Pada modernisme, pengetahuan
merupakan suatu kesatuan yang didasarkan pada cerita-cerita besar (grand
narratives) yang menjadi ide penuntun sampai ke penelitian-penelitian paling
mendetail. Tapi postmodernisme merelatifkan semuanya. Menurut para postmodernis,
tidak ada suatu norma yang berlaku umum. Tiap bagian mempunyai keunikan
sehingga tak dapat menerima pemaksaan ke arah penyeragaman. Dengan demikian,
postmodernisme mengakui pluralitas dan hak hidup individu atau unsur lokal
(Sugiharto: 1996, 30-33)
Tokoh-tokoh postmodernisme terpenting,
selain Lyotard, adalah Jacques Derrida, Richard Rorty, dan Michel Forcou.
Komentar
Posting Komentar