Bukan Manusia Cacat Apalagi Melarat
Di berbagai negara,
kita menemukan banyak pejabat politik yang terjebak korupsi. Mereka memiliki
gelar pendidikan tinggi. Mereka juga memiliki nama baik di lingkungan
sosialnya. Namun, latar belakang pendidikan tinggi, pengetahuan agama, serta
nama baik sama sekali tidak menghalangi mereka untuk mencuri dan merugikan
orang lain.
Mengapa ini bisa
terjadi? Mengapa pengetahuan yang luas tidak menjamin orang bebas dari korupsi?
Mengapa pengetahuan agama yang mendalam tidak mendorong orang menjadi lebih
baik, melainkan justru menjadi lebih bejat dengan menggunakan
pembenaran-pembenaran palsu dari pengetahuan agama yang dimilikinya?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mesti kita jawab bersama.
Akar dari gejala ini
adalah cacat di dalam paradigma pendidikan kita di Indonesia. Pendidikan kita
tak punya sayap. Di dalam tradisi Filsafat Timur, pendidikan selalu dilihat
sebagai kerja sama dari dua aspek yang tak terpisahkan, yakni pengetahuan dan
pengalaman. Ketika dua sayap ini ada, barulah pendidikan bisa mendorong orang
tidak hanya untuk cerdas, tetapi juga terbang menuju kebijaksanaan.
Pengetahuan bisa
diperoleh, ketika kita mendengar ajaran dari orang lain. Kita juga bisa
memperoleh pengetahuan dari membaca buku. Dengan pengetahuan yang ada, kita
bisa meningkatkan mutu hidup kita, sekaligus membantu orang lain. Namun,
pengetahuan semata tidaklah cukup, karena kita masih menciptakan jarak antara
diri kita dengan kenyataan melalui konsep-konsep yang kita rumuskan.
Yang lebih penting
adalah pengalaman. Pengalaman disini adalah persentuhan langsung dengan
kenyataan apa adanya, tanpa terlebih dahulu dihalangi oleh konsep. Pola semacam
ini dapat diperoleh, jika orang melakukan refleksi, yakni melihat jauh ke dalam
dirinya sendiri, guna memahami jati diri sejatinya sebagai manusia. Inilah
kiranya yang kurang di dalam paradigma pendidikan di Indonesia.
Ketika pendidikan
tidak bersayap, ia justru akan menghasilkan manusia-manusia bodoh lagi melarat. Ketika
pendidikan hanya memiliki satu sayap, ia akan rapuh dan akan menghasilkan
manusia-manusia yang cacat. Ketika pendidikan hanya berfokus pada pengetahuan,
ia akan menghasilkan manusia-manusia cerdas yang siap menipu dan korupsi,
ketika ada kesempatan. Ketika pendidikan hanya berfokus pada pengalaman, ia
akan menghasilkan manusia-manusia yang tidak terampil, dan tidak memiliki arah.
Kita tidak perlu
lagi orang pintar. Sudah banyak orang pintar di muka bumi ini. Yang kita
butuhkan adalah orang yang hidup dalam dua sayap pendidikan, yakni pengetahuan
dan pengalaman. Buat apa gelar tinggi dan pengetahuan agama yang luas, jika itu
hanya digunakan untuk membenarkan perilaku bejat di dalam kehidupan? Buat apa
gelar tinggi dan tampilan memikat, namun hatinya kosong dan menderita, sehingga
menciptakan penderitaan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk orang
lain.
Komentar
Posting Komentar