Wanita atau Perempuan?
Mengapa para aktivis
gender, termasuk Meutia Hatta, begitu tidak suka dengan istilah Wanita? Mengapa
mereka justru lebih suka dan mencintai istilah Perempuan? Alasannya adalah: Kata wanita dalam bahasa Indonesia merupakan
kata serapan dari bahasa Jawa, yaitu WANITO. Sedangkan makna Wanito itu wani
ditoto atau berani ditata. Mengesankan, wanita selalu diatur-atur, selalu
dikendalikan, selalu diperintah oleh kaum laki-laki. Ya
begitulah analoginya, yang kerap disampaikan oleh para aktivis gender dan
feminis.
Realitas di zaman
modern, penindasan wanita, pelecehan, eksploitasi, atau perbudakan, bukan tidak
ada. Hanya berubah sebutan saja. Peradaban kapitalis Barat, secara penampilan
seolah memberi memberi kebebasan wanita, padahal hakikatnya melenyapkan substansi
dan esensi kemuliaan martabat wanita itu sendiri. Nia Dinata dan kawan-kawan
pernah show of forcedengan
memakai hots pant, rok mini, dan lainnya memprotes pernyataan Gubernur DKI
tentang rok mini. Ekspresi seperti itu dan semisalnya, seperti foto dan video
pornografi yang melibatkan model utama kaum wanita, tari erotis, busana seksi,
dll. semua itu menunjukkan kerelaan wanita-wanita masa kini menjadi obyek
eksploitasi. Mereka rela dan bangga “diperbudak”. Lucunya, praktik “perbudakan”
itu diberi judul “kebebasan wanita”. Aneh sekali, wanita zaman modern ini tidak
mau diberi kehidupan nyaman, aman, terlindungi, terhormat, memiliki anak dan
keluarga, yang sesuai fitrah mereka. Malah mereka sangat nafsu dan gembul melahap satu demi satu praktik
eksplotasi. Sangat mengherankan sekali.
Dalam pandangan
penulis, pemilihan istilah Wanita, itu sudah benar dan sangat bermakna.
Sedangkan pemilihan istilah Perempuan, justru ia menghinakan harkat martabat
kaum wanita sendiri. Penulis punya banyak alasan yang bisa disebutkan disini.
Maka dari itu penulis jarang memakai istilah Perempuan, demi memuliakan
martabat kaum Wanita. Istilah Perempuan biasa kami pakai untuk menyebut
anak-anak perempuan dan remaja (belum dewasa). Berikut ini alasan-alasan
yang bisa disampaikan:
1. Kata Wanita merupakan kata yang memiliki makna,
sedangkan kata laki-laki atau pria, itu tidak jelas apa maknanya. Coba Anda
pikirkan, apa arti kata laki-laki atau pria? Tidak ada kan. Kalau wanita ada,
yaitu wanito wani ditoto atau berani ditata. Ini adalah satu
kelebihan permulaan.
2. Dulunya, kata Perempuan itu dipakai untuk menyebut dua
jenis kaum wanita. Pertama, dipakai
untuk menyebut wanita yang masih berusia anak-anak atau remaja. Misalnya ada
yang berkata, “Di kelas ada 10 anak perempuan.” Untuk orang dewasa, memakai
kata wanita. Kedua, dipakai
untuk menyebut “wanita nakal” alias pelacur. Dulu kita mendengar ada orang yang
berkata, “Dia suka main perempuan.” Maksudnya, suka mencari kesenangan dengan
wanita-wanita pelacur. Atau ada yang berkata, “Dasar perempuan murahan!” Atau
ada yang berkata, “Tenang saja, disana banyak perempuan.” Atau perkataan lain,
“Kemana-mana dia selalu membawa perempuan.” Kata-kata ini sebagian besar
mencerminkan dunia hitam (dunia amoral).
3.
Wanita-wanita yang terlibat dalam prostitusi dulu
dikenal dengan nama WTS (Wanita Tuna Susila; maksudnya, wanita
yang tidak memiliki standar moralitas). Lihatlah, meskipun posisi mereka
sebagai pelayan prostitusi, tetapi istilahnya masih sopan. Bandingkan dengan
istilah PEREK (Perempuan
Eksperimen) yang juga dipakai di masa lalu. Istilah WTS lebih sopan ketimbang
PEREK. Sedangkan istilah PSK (Pekerja Seks Komersial) adalah
istilah menyesatkan, sebab ia menyamakan dunia prostitusi seperti dunia
profesional yang halal. Dunia pelacuran yang haram di-halalisasi dengan istilah
PSK. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
4. Dari asal-usul kata, Perempuan berasal dari kata
“Empu”. Empu maksudnya milik. Misalnya ada kalimat, “Siapa empunya buku ini?”
Maksudnya, siapa pemilik buku ini? Atau ada kalimat, “Tanyakan pada empunya
pekerjaan itu!” Maksudnya, tanyakan kepada pemilik pekerjaan itu. Atau misal
ada kalimat, “Barang ini sudah rusak sejak didatangkan dari si empunya.” Namun
ketika kata “empu” disambung dengan imbuhan “per-an” menjadi “per-empu-an”, ia
bisa memiliki makna negatif. Perempuan disini bermakna “permilikan”. Kata
yang semodel itu misalnya pertigaan, pertapaan, perternakan, perjudian,
pertarungan, percobaan, perzinahan, perselisihan, pertukangan, dll. Jadi kata
Perempuan bermakna “Permilikan”, atau tentang
suatu kepemilikan, atau sesuatu
yang dimiliki. Misalnya ada aktivis gender yang berkata, “Di balik kata Perempuan ada makna
yang mulia yaitu memiliki sesuatu.” Pertanyaannya,
memiliki apa? Memiliki sesuatu itu luas sifatnya; bisa apa saja, baik atau
buruk. Pengertian “memiliki sesuatu” tidak jelas apa yang dimiliki. Kalau
dikaitkan dengan penggunaan kata Perempuan di masa lalu, pada komunitas
anak-anak perempuan dan wanita-wanita nakal, maka kata Perempuan itu lebih
tepat bermakna “sesuatu
yang dimiliki“. Anak-anak
perempuan dimiliki oleh orangtua dan keluarganya, sedangkan perempuan nakal
dimiliki oleh laki-laki hidung belang. Kata Perempuan justru bisa bermakna kaum
wanita sebagai “obyek kepemilikan” orang lain (kaum laki-laki). Mereka seperti
benda, barang, atau properti. Ini adalah pemaknaan yang sangat tidak
bermartabat bagi kaum wanita. Dan sangat mudah dipahami kalau dulu, orang-orang
menggunakan kata Perempuan untuk menyebut wanita nakal. Karena sudah menjadi
kebiasaan laki-laki amoral (di Timur maupun Barat), mereka biasa memiliki
Perempuan untuk dieksploitasi dengan syahwat gelapnya.
5. Para aktivis gender marah dengan istilah Wanita. Kata
itu menurut mereka bermakna penindasan. Mereka menuduh, kata Wanita itu
dipaksakan kaum laki-laki di masa lalu untuk menindas kaum wanita. Nah,
masalahnya siapa yang tahu bahwa istilah Wanita (atau Wanito) itu dimunculkan
oleh kaum laki-laki? Siapa yang bisa memastikan hal itu? Bisa saja kan, istilah
itu dimunculkan oleh kaum Wanita sendiri, untuk memberikan makna luhur dalam
predikat mereka sebagai wanita? Selagi para aktivis itu tidak bisa membuktikan
siapa yang paling pertama meng-introdusir istilah Wanita, mereka tidak boleh
menyalahkan kaum laki-laki.
6. Andaikan pengertian Wanita kita pastikan sebagai Wanito atau wani
ditoto (berani ditata);
apakah kata-kata seperti itu buruk? Ditoto itu artinya: ditata, diatur,
dimanajemen, diurus baik-baik. Semuanya memiliki konotasi positif. Di balik
istilah Wanita terdapat makna-makna luhur, yaitu: Taat aturan, patuh pada
hukum, komitmen dengan prosedur, tidak koruptif, tidak menyeleweng.
Makna-maknanya sangat baik. Mengapa lalu malah diganti Perempuan yang bisa
bermakna “sesuatu yang dimiliki”? Aneh banget. Hal ini seperti perkataan Nabi
Musa ‘Alaihissalam kepada Bani Israil: “Atastabdiluna
alladzi huwa adna billadzi huwa khair” (apakah kalian meminta ganti
yang buruk untuk menggantikan yang baik?). [Al Baqarah: 61].
7. Kata Wanita memiliki makna berani ditata, berani
diatur, taat hukum, taat aturan main, taat regulasi, tidak korupsi, tidak
manipulasi, tidak menyalah-gunakan prosedur. Ini adalah suatu makna yang luhur.
Justru kaum laki-laki atau pria, tidak jelas apa pengertian dari kata itu. Di
balik kata Wanita tercermin suatu komitmen untuk patuh kepada aturan, baik
aturan negara, aturan organisasi, aturan perusahaan, aturan rumah-tangga,
maupun tentunya aturan Tuhan (Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Masya Allah, ini
adalah suatu performa moral yang tinggi.
8.
Mungkin sebagian aktivis gender dan feminis akan
melontarkan sanggahan. Bisa jadi mereka akan berkata, “Tetapi pengertian Wanita
(Wanito) atau berani ditata itu maksudnya tidak begitu. Maksudnya, lewat
istilah itu kaum laki-laki ingin menindas, menjajah, membelenggu kebebasan, dan
mengendalikan kaum wanita seenaknya sendiri. Begitu maksudnya.”
9. Perkara terburuk dibalik sosialisasi istilah Perempuan
secara massif dan sistematik, untuk menggantikan istilah Wanita; ia akan
menjadikan kaum Wanita sebagai obyek eksploitasi, sebagai properti yang
dimiliki, sebagai suplier kebutuhan industri, sebagai “barang dagangan”, dan
sebagainya. Mengapa demikian? Karena istilah Perempuan itu sendiri tidak
memiliki konotasi yang positif seperti istilah Wanita. Ia malah bisa bermakna
sebagai “properti yang dimiliki”. Ada kesan, dengan melegalkan istilah
Perempuan sebagai istilah umum, hal itu seperti membuka pintu-pintu
LIBERALISASI kultur kaum wanita seluas-luasnya. Kalau masih dipakai istilah
wanita, maka kemana-mana istilah itu mengandung makna moral luhur.
Sangat berbeda dengan istilah Perempuan.
10. Terakhir, dalam bahasa Inggris, istilah Wanita identik
dengan Women; sedangkan
istilah Perempuan identik dengan Girl.
Baik Women atau Girl menunjuk ke gender Wanita, tetapi rasa bahasanya berbeda.
Istilah Women lebih dewasa dan sopan.
Komentar
Posting Komentar