Filsafat Kenabian menurut Pemikiran Al-Farabi

Al-Farabi merupakan orang yang pertama-tama membahas kenabian secara lengkap, sehingga penambahan dari orang lain hampir tidak ada. Total kenabian al-Farabi yang merupakan bagian terpenting dalam filsafat, ditegakkan atas dasar-dasar psikologi dan metafisika, dan erat hubungannya dengan lapangan akhlak dan politik.
Al-Farabi melihat bahwa manusia dapat berhubungan dengan akal-faal, meskipun hanya terbatas pada orang tertentu. Hubungan tersebut dapat ditempuh dengan dua jalan, yaitu jalan pikiran dan jalan imajinasi, atau dengan perkataan lain, melalui renungan pikiran dan inspirasi (ilham). Akan tetapi, tidak semua orang dapat mengadakan hubungan dengan akal-faal, melainkan hanya orang yang mempunyai jiwa suci yang dapat memembus dinding-dinding alam gaib dan dapat mencapai alam cahaya. Dengan melalui renungan-renungan pikiran yang banyak, seorang hakim (bijaksana) dapat mengalahkan hubungan tersebut, dan orang semacam inilah yang dapat diserahi Al-Farabi untuk mengurusi negeri-utama yang dikonsepsikannya. Akan tetapi disamping melalui pemikiran hubungan dengan akal-faal, dapat pula terjadi dengan jalan imajinasi dan keadaan ini berlaku bagi Nabi-Nabi. Semua ilham dan wahyu yang disampaikan kepada kita merupakan salah satu bekas dan pengaruh imajinasi tersebut.
Pada pembahasan psikologi dari Al-Farabi, diketahui bahwa imanjinasi memainkan peranan yang penting dan memasuki segi-segi, gejala-gejala psikologis yang bermacam-macam. Imajinasi tersebut erat hubungannya dengan kecondongan dan perasaan, dan ada pengaruhnya pada gerak pikiran dan kemauan, serta mengarahkannya kepada arah tertentu. Di samping ini, imajinasi menyimpan obyek-obyek inderawi dan gambaran-gambaran alam luar yang masuk pada otak melalui indera-indera. Malah kadang-kadang tidak hanya menyimpan gambar-gambar pikiran, tetapi juga membuat gambaran baru yang sama sekali tidak ada miripnya dengan obyek-obyek inderawi. Di antara gambaran yang baru samasekali yang diciptakan oleh imajinasi ialah impian-impian. Dengan demikian, maka al-Farabi telah menyebutkan dua macam imajinasi, sepeti yang telah disebutkan oleh sarjana-sarjana psikologi modern, yaitu imagination creative (imajinasi pencipta) danimagination consevatrice (imajinasi penyimpang).
Yang penting dalam hubungannya dengan kenabian ialah bagaimana pengaruh imajinasi terhadap impian dan pembentukannya, sebab apabila soal impian ini dapat ditafsirkan secara ilmiah, maka soal kenabian dan kelanjutan-kelanjutannya dapat ditafsirkan pula. Sebagaimana dimaklumi, ilham-ilham kenabian adakalannya terjadi pada waktu tidur atau waktu jaga, atau dengan kata lain, dalam bentuk impian yang benar atau wahyu.
Perbedaan antara yang kedua ini bersifat relatif dan hanya mengenai tingkatannya, tetapi tidak mengenai esensinya (hakikatnya). Impian yang benar tidak lain adalah salah satu cabang kenabian yang erat hubungannya dengan wahyu dan tujuannya juga sama, meskipun berbeda caranya. Jadi apabila kita dapat menerangkan salah satunya, maka dapat pula menerangkan lainnya.
Keterangan al-Farabi tentang impian mendekati teori ilmu modern seperti yang dikemukakan oleh Freud, Harvy, dan moory, serta tokoh-tokoh psikologi modern yang menganalisa impian. Al-Farabi mengatakan bahwa apabila imajinasi telah bebas dari pekerjaan-pekerjaan diwaktu jaga, maka pada waktu sedang tidur ia bisa melayani dengan sepenuhnya terhadap gejala-gejala psikologi, kemudian ia membuat gambaran-gambaran baru atau mengumpulkan gambaran pikiran yang lama menurut bentuknya yang bermacam-macam, dengan terpengaruh perasaan-perasaan badan atau perasaan-perasaan jiwa atau pemikiran-pemikiran yang sedang dihadapinya waktu jaga. Jadi imajinasi tersebut adalah suatu kekuatan pencipta yang dapat menciptakan, membuat gambaran atau susunan baru, dapat meniru, dan mempunyai kesanggupan untuk menerima pengaruh.
Kalau imajinasi dapat mengadakan gambaran-gambaran tersebut, maka ia dapat pula membentuk gambaran-gambaran tersebut dengan bentuk alam rohani. Di samping itu, imajinasi kadang-kadang naik ke alam langit dan berhubungan dengan akal-faal untuk menerima hal-hal yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa khusus atau perorangan, dari sini maka terjadilah peramalan (tanabbu). Hubungan tersebut dapat terjadi di siang atau malam hari, dengan adanya hubungan ini, maka kita dapat menafsirkan kenabian, karena hubungan tersebut merupakan sumber impian yang benar dan wahyu.
Keistimewaan utama seoarang Nabi adalh karena Nabi mempunyai imajinasi yang kuat yang memungkinkannya berhubungan dengan akal-faal baik sedang jaga atau tidur. Dengan imajinasi tersebut, Nabi sampai pada persepsi dan realitas ayang dapat diraihnya yang nampak dalam bentuk wahyu atau mimpi yang benar, wahyu adalah pancaran dari Allah melalui akal-faal. Ada orang-orang yang mempunyai imajinasi yang kuat, tetapi mereka bukan Nabi, maka mereka tidak dapat berhubungan dengan akal-faal kecuali dalam keadaan tidur, dan kadang-kadang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan apa yang mereka ketahui.


Komentar

Postingan Populer