Filsafat Kenabian menurut Pemikiran Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd adalah seorang filosof yang beraliran rasional. Ia menjunjung tinggi akal fikiran dan menghargai peranan akal, karena dengan akal pikiran itulah manusia dapat menafsirkan alam wujud. Sebagai orang yang berfikir rasional, ia meafsirkan agama dengan penafsiran rasional, namun dia tetap berpegang teguh pada sumber agama itu sendiri yaitu Al-Qur'an. Menurutnya, bahwa meskipun teori kenabian dibuat oleh filosof-filosof Islam sendiri, namun dapat diterima keseluruhanya dan bagi al-Ghazali tidak ada alasan untuk menolaknya. Selama kita mengakui bahwa kesempurnaan-rohani tidak dapat terjadi kecuali dengan adanya hubungan antara manusia dengan Tuhannya, maka tidak aneh jika soal kenabian ditafsirkan dengan hubungan tersebut. Hanya saja tafsiran-tafsiran ilmiah semacam ini harus terbatas pada filosof-filosof dan orang-orang pandai saja karena orang-orang awam tidak dapat mengetahui hakekat persoalan. Kita berbicara dengan orang lain menurut kesanggupannya, karena untuk tiap-tiap orang ada hidangannya sendiri.
Dilain pihak, adanya para Nabi merupakan perkara yang untuk mengetahuinya tidak membutuhkan argumen teoritis. Keberadaan para Nabi merupakan peristiwa kesejarahan: informasi mengenai adanya Nabi telah ada sejak dulu secara mutawatir. Seorang Nabi adalah manusia yang mempunyai karakter cerdas, mulia dan mendapatkan wahyu (syari’at-syariat dari Tuhannya), tidak mungkin setiap orang membawa syari’at sebagaimana syari’at yang dibawa oleh para Nabi. Dengan demikian, setiap orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi dan Rasul dari Allah dan dia membawa syari’at sebagaimana syari’at yang dibawa para Nabi, maka dia adalah Nabi.


Komentar

Postingan Populer