Tokoh-Tohoh Aliran Empirisme
Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon
(1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada
dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume.
a. Jonh
Locke (1673-1704)
Ia lahir tahun 1632 di Bristol Inggris dan wafat tahun
1704 di Oates Inggris. Ia juga ahli politik, ilmu alam, dan kedokteran.
Pemikiran John termuat dalam tiga buku pentingnya yaitu essay concerning human
understanding, terbit tahun 1600; letters on tolerantion terbit tahun
1689-1692; dan two treatises on government, terbit tahun 1690. Aliran ini
muncul sebagai reaksi terhadap aliran rasionalisme. Bila rasionalisme
mengatakan bahwa kebenaran adalah rasio, maka menurut empiris, dasarnya ialah
pengalaman manusia yang diperoleh melalui panca indera. Dengan ungkapan singkat
Locke :
Segala sesuatu berasal dari pengalaman inderawi, bukan
budi (otak). Otak tak lebih dari sehelai kertas yang masih putih, baru melalui
pengalamanlah kertas itu terisi.
Dengan demikian dia menyamakan pengalaman batiniah
(yang bersumber dari akal budi) dengan pengalaman lahiriah (yang bersumber dari
empiri).
b. David
Hume (1711-1776).
David Hume lahir di Edinburg Scotland tahun 1711 dan
wafat tahun 1776 di kota yang sama. Hume seorang nyang menguasai hukum, sastra
dan juga filsafat. Karya tepentingnya ialah an encuiry concercing humen
understanding, terbit tahun 1748 dan an encuiry into the principles of moral
yang terbit tahun 1751.
Pemikiran empirisnya terakumulasi dalam ungkapannya
yang singkat yaitu I never catch my self at any time with out a
perception (saya selalu memiliki persepsi pada setiap pengalaman
saya). Dari ungkapan ini Hume menyampaikan bahwa seluruh pemikiran dan
pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression). Pemikiran ini
lebih maju selangkah dalam merumuskan bagaimana sesuatu pengetahuan terangkai
dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi dalam diri manusia (impression,
atau kesan yang disistematiskan ) dan kemudian menjadi pengetahuan. Di samping
itu pemikiran Hume ini merupakan usaha analisias agar empirisme dapat di
rasionalkan teutama dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang di dasarkan pada
pengamatan “(observasi ) dan uji coba (eksperimentasi), kemudian menimbulkan
kesan-kesan, kemudian pengertian-pengertian dan akhirnya pengetahuan.
Empirisme menganjurkan agar kita kembali kepada
kenyataan yang sebenarnya (alam) untuk mendapatkan pengetahuan, karena
kebenaran tidak ada secara apriori di benak kita melainkan harus diperoleh dari
pengalaman. Melalui pandangannya, pengetahuan yang hanya dianggap valid adalah
bentuk yang dihasilkan oleh fungsi pancaindra selain daripadanya adalah bukan
kebenaran (baca omong kosong). Dan mereka berpendapat bahwa tidak dapat dibuat
sebuah klaim (pengetahuan) atas perkara dibalik penampakan (noumena) baik
melalui pengalaman faktual maupun prinsip-prinsip keniscayaan. Artinya dimensi
pengetahuan hanya sebatas persentuhan alam dengan pancaindra, diluar
perkara-perkara pengalaman yang dapat tercerap secara fisik adalah tidak valid
dan tidak dapat diketahui dan tidak dianggap keabsahan sumbernya.
Usaha manusia untuk mencari pengetahuan yang bersifat,
mutlak dan pasti telah berlangsung dengan penuh semangat dan terus-menerus.
Walaupun begitu, paling tidak sejak zaman Aristoteles, terdapat tradisi
epistemologi yang kuat untuk mendasarkan din kepada pengalaman manusia, dan
meninggalkan cita-cita untuk mencari pengetahuan yang mutlak tersebut. Doktrin
empirisme merupakan contoh dan tradisi ini. Kaum empiris berdalil bahwa adalah
tidak beralasan untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi,
apalagi bila di dekat kita, terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk
rneningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun
lebih dapat diandalkan. Kaum empiris cukup puas dengan mengembangkan sebuah
sistern pengetahuan yang rnempunyai peluang yang besar untuk benar, meskipun
kepastian mutlak takkan pernah dapat dijamin.
Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan
manusia dapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk
meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata “Tunjukkan
hal itu kepada saya”. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan
oleh pengalamannya sendiri. Jika kita meng takan kepada dia bahwa ada seekor
harimau di kamar mandinya, pertama dia minta kita untuk menceriterakan
bagairnana kita sampai pada kesimpulan itu. Jika kemudian kita terangkan bahwa
kita melihat harimau itu dalam kamar mandi, baru kaum empiris akan mau
mendengar laporan mengenai pengalaman kita itu, namun dia hanya akan menerima
hal tersebutjika dia atau orang lain dapat memeriksa kebenaran yang kita
ajukan, denganjalan melihat harimau itu dengan mata kepalanya sendiri.
Dua aspek dan teori empiris terdapat dalam contoh di
atas tadi. Pertama adalah perbedaan antara yang mengetahui dan yang diketahui.
Yang mengetahui adalah subyek dan benda yang diketahui adalah obyek. Terdapat
alam nyata yang terdiri dan fakta atau obyek yang dapat ditangkap oleh
seseorang. Kedua, kebenaran atau pengujian kebenaran dan fakta atau obyek
didasarkan kepada pengalaman manusia. Agar berarti bagi kaum empiris, maka
pernyataan tentang ada atau tidak adanya sesuatu haruslah memenuhi
persyaratan pengujian publik.
Komentar
Posting Komentar