Ketika Pendidikan Tidak Bisa Dipercaya
Untuk kesekian kalinya,
seorang yang dikenal saleh di lingkungannya, seorang Ustadz, melakukan
pemerkosaan. Kali ini, korbannya adalah anak perempuan berusia 6 tahun.
Pemerkosaan ini telah berlangsung berulang kali dalam jangka waktu setahun. Ini
merupakan kejadian terakhir dari rangkaian kejahatan bejat yang dilakukan oleh
orang-orang yang mengaku saleh dan bahkan menjadi pemimpin agama di
masyarakatnya.
Kisah pelecehan seksual
terhadap perempuan banyak terjadi di komunitas-komunitas Buddhis di Amerika
Serikat. Walaupun kita harus ingat, para guru Zen ini bukanlah Pastur atau
Ustadz yang berkhotbah soal kesucian diri dalam bentuk penolakan pada seks.
Yang menjadi korban juga perempuan dewasa, dan bukan anak kecil. Kita juga
harus tetap kritis pada berita-berita semacam ini, tanpa menyudutkan para
korban yang telah mengalami banyak penderitaan.
Di Indonesia, kasus
korupsi di kalangan politikus bukanlah sesuatu yang mengagetkan. Orang-orang
yang terkenal saleh dan dipercaya oleh rakyat justru menipu rakyat. Akibatnya,
banyak program politik tidak berjalan, karena dananya dicuri oleh para
politikus. Rakyat pun tak mendapatkan hak-hak mereka sebagai warga negara.
Katanya, Indonesia
negara yang beragama dan beriman. Katanya, kita hidup dengan moralitas dan
nilai-nilai yang luhur. Namun, yang justru melanggar moralitas dan nilai-nilai
luhur ini justru adalah para pemuka agama yang gemar berbicara moral dan
orang-orang yang dipercaya rakyat untuk memperjuangkan keadilan dan kemakmuran
bersama.
Kesalahan terbesar kita sebagai
bangsa, sehingga melahirkan begitu banyak kemunafikan (pemuka agama bejat,
politikus busuk), adalah kesalahan pada pola didik kita sebagai manusia, sedari
kita kecil. Sejak kecil, kita diajarkan hal-hal yang salah, sehingga kita hidup
dengan cara yang salah. Apa tandanya, bahwa itu semua salah? Kita menderita,
dan akibatnya, kita membuat orang lain menderita dengan perbuatan kita. Dengan
kata lain, Indonesia telah mengalami kesalahan pola asuh. Sejak kecil, kita
diajar untuk menjadi manusia yang baik dan sukses. Baik dan sukses disini
berarti, kita mendapatkan hal-hal di luar diri kita, yang kita tambahan ke
dalam diri kita. Agama menyebutnya pahala atau rahmat. Sejak kecil, kita
diajarkan untuk mencari pengakuan, kebahagiaan dan kepenuhan diri di luar diri
kita, yakni dari orang lain.
Ketika gagal
mendapatkan pengakuan dari orang lain, atau misalnya dihina, kita lalu sedih
dan menderita. Ketika gagal mendapatkan tujuan di luar diri kita, kita lalu
merasa rendah dan bodoh. Dalam keadaan sedih dan menderita, kita terus mencari
di luar diri kita sesuatu untuk menghilangkan penderitaan kita. Alhasil, kita
tidak akan pernah mendapatkannya, dan hidup kita semakin menderita.
Padahal, sejatinya,
kita tidak memerlukan pengakuan dari siapapun. Kepenuhan diri sudah ada di
dalam diri kita, dan tidak tidak perlu mencarinya di luar. Kebahagiaan sudah
selalu ada di dalam diri kita. Kita tinggal hanya perlu melihat ke dalam hati,
dan tidak lagi sibuk mencari di luar diri kita.
Segala kesedihan
hidup bisa dilampaui dengan mudah, ketika kita belajar untuk menemukan
kedamaian dan kebahagiaan tidak dari orang lain atau dari benda-benda di luar
diri kita, tetapi melihat ke dalam hati dan diri kita sendiri. Kesulitan boleh
datang bertubi-tubi. Akan tetapi, kita tidak akan takut dan cemas, karena kita
bisa dengan mudah menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati. Namun,
kita tidak pernah diajarkan soal ini, bukan?
Komentar
Posting Komentar