Kematian sebagai Tujuan Hidup
Berpijak pada
beragam pandangan tentang kematian, kita tak mungkin bisa memastikan, apa yang terjadi
setelah kematian. Semua pandangan hanya bisa berperan sebagai kemungkinan,
namun bukan kebenaran. Kita bisa saja bilang, berarti kita harus percaya, dan
itulah inti iman. Namun, jika dipikirkan kembali, bagaimana kita bisa percaya
pada sesuatu yang bersifat kemungkinan, atau yang belum pasti.
Kita perlu menggeser
pertanyaannya, bukan lagi “adakah hidup setelah kematian”, melainkan,
“bagaimana kita memaknai kematian itu sendiri, kematian kita, dan kematian
orang-orang yang kita sayangi.” Pertanyaan tentang “makna dari peristiwa” adalah
pertanyaan terpenting dalam hidup manusia, terutama ketika ia menghadapi
peristiwa maut yang menyakiti hatinya.
Tidak ada rumusan
mutlak untuk menjawab pertanyaan ini. Setiap orang harus berusaha secara
pribadi memberikan makna pada kematian, baik kematiannya sendiri, maupun
kematian orang-orang yang disayanginya. Makna itu harus diciptakan, dan
dikembangkan sejalan dengan berjalannya waktu. Ia bukan sesuatu yang tetap dan
stabil, melainkan dinamis, dan perlu untuk ditafsirkan ulang sejalan dengan
perkembangan waktu dan peristiwa.
Kematian itu
mengubah, baik mengubah keadaan, maupun mengubah jiwa manusia itu sendiri.
Titik ubah lalu dimaknai sebagai kemungkinan dan kesempatan, guna menentukan
arah yang baru, termasuk arah dan cara bagaimana kita menjalani hidup. Titik
ubah ini mengejutkan sekaligus membuka peluang-peluang, yang sebelumnya
tersembunyi.
Kematian sebagai
tujuan hidup (Sein zum Tod), sebagaimana
saya tafsirkan dari pemikiran Martin Heidegger. Namun, bukan sembarang
kematian, melainkan kematian yang bermartabat (würdevoller Tod). Artinya, kematian sebagai
pengorbanan untuk orang lain. Mati demi orang lain. Tak ada yang lebih sempurna
dari ini.
Komentar
Posting Komentar