Filsafat Kenabian menurut Pemikiran Al-Afghani

Dalam hal ini dia memberikan suatu perumpamaan, bahwa masyarakat adalah badan, di mana anggota-anggotanya saling berhubungan dan mempunyai tugas dan fungsinya sendiri-sendiri. Kalau badan tidak bisa hidup tanpa roh, maka demikian pula masyarakat. Roh masyarakat adalah kenabian atau hikmah (filsafat). Jadi Nabi dan filosof (Al-Hakim) bagi masyarakat sama kedudukannya dengan roh bagi badan. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa kenabian adalah anugerah Tuhan yang tidak bisa dicari, melainkan dikhususkan oleh Tuhan untuk hamba-hamba yang disukai-Nya, karena Tuhan lebih mengetahui dimana Ia akan meletakkan risalah-Nya, sedang filsafat bisa diperoleh dengan jalan renungan, kajian dan pemikiran atau analisa. Selain itu, Nabi adalah terjaga dari kekeliruan, sedang filosof bisa salah dan terjatuh kedalam noda dan kesalahan.
Secara inti ada dua hal yang harus diketahui dari pemikiran Al-Afghani, yaitu: Pertama, ia menjelaskan tugas Nabi yang bersifat social-politik. Tugas semacam ini untuk pertama kalinya diuraikan secara ilmiah oleh al-Farabi. Al-Afghani sebagai seorang penganjur agama dan politikus tertentu tidak akan melupakan cara penguraian tersebut. Kedua, baik Al-Farabi maupun al-Afghani, Nabi dan filosof mirip sekali satu sama lain, karena kedua-duanya adalah roh (jiwa) masyarakat dan sumber kehidupan serta perbaikan.
Memang Al-Afghani mengatakan adanya perbedaan antara seorang Nabi dengan filosof dari segi terhindar atau tidaknya dari kekeliruan, sedang Al-Farabi tidak menjelaskan masalah ini, seolah-olah Nabi dengan filosof sama dari semua seginya.


Komentar

Postingan Populer