Filsafat Kenabian menurut Pemikiran Muhammad Abduh
Abduh banyak membaca karangan Ibnu Sina dan bertekad
untuk menghidupkan kembali kajian-kajian terhadap filsafat klasik yang
terbengkalai. Manusia adalah mahluk budaya yang menurut tabiatnya memerlukan
pergaulan. Mereka mempunyai hak dan kewajibannya, tetapi adakalanya mereka
mencampur adukkan antara hak dan kewajiban, bahkan sampai terjadi kekacauan,
untuk menghindari hal tersebut, maka diperlukan sebagian anggitanya sebagai
penunjuk jalan, memisahkan antara yang baik dan yang buruk, mengajarkan apa
yang dikehendaki oleh Tuhan untuk memperbaiki kehidupan mereka didunia dan di
akhirat, dan mengajarkan apa yang hendak diberuitahukan kepada mereka tentang
urusan zat-Nya dan kesempurnaan sifat-Nya.
Mereka itu adalah para Nabi dan Rasul, kedatangan
mereka sangat diperlukan bagi keberlangsungan kehidupan. Kedudukan mereka
seperti kedudukan akal dalam diri manusia. Tidak heran kalau Tuhan menghususkan
sebagian mahluk dengan wahyu dan ilham, karena jiwa mereka telah tinggi dan
dapat menerima limpahan Tuhan dan rahasia-Nya. Tingkatan akal manusia antara
yang satu dengan yang lain berbeda-beda, yang lebih rendah tidak bisa
mempersepsi yang lebih tinggi kecuali secara global saja. perbedaan tersebut
bukanlah akibat pengajaran semata,
tetapi sering merupakan salah satu akibat perbedaan kejadian (fitrah) yang
tidak tunduk pada hukum kasab dan ikhtiar. Seseorang selalu meningkat didalam
kesempurnaan sehingga yang jauh nampak dekat baginya, dan terbukalah
dinding-dinding alam ghaib yang ada didepannya.
Komentar
Posting Komentar