Filsafat Kenabian menurut Pemikiran Ibnu Sina
Ibnu Sina menafsrikan teori kenabian secara psikologis
dan mengeksplanasikan sebagian teks-teks agama dengan penakwilan-penakwilan
yang sesuai dengan teori-teori filosofisnya.Pendapat Ibnu Sina, hampir sama
dengan pendapat Al-Farabi, yaitu memulai kemudian menjelaskan mimpi secara ilmiah.
Menurutnya, bahwa eksperimen dan pembuktian dapat menyaksikan bahwa jiwa
manusia dapat mengetahui Al-Majhul (hal-hal yang tak tampak)
di saat sedang tidur, sehingga tidak sukar baginya untuk menyingkapkan kembali
kedalam kondisi dengan berjaga. Kenabian bersifat fitri bukan merupakan hasil
pencarian.
Kenabian menurut Ibnu Sina merupakan
jiwa (roh) yang tinggi. Nabi merupakan manusia pilihan yang memiliki kelebihan
dari manusia lainnya. Memiliki mukjizat yang bertujuan mengajak manusia untuk
meninggalkan kemusyrikan, menetapkan peraturan untuk kebahagiaan umat manusia,
mengantar manusia untuk memahami sitem kebaikan.
Dalam filsafat
kenabian dipahami bahwa Nabi atau rasul hanya menyampaikan
perintah Allah secara umum dan membawa berita yang belum pernah didengar dan
dilihat. Perintah beribadah kepada Allah bertujuan agar manusia mampu
melepaskan dirinya dari keterikatan dunia materi, berpaling dari selain Allah
dengan iman kuat, memahami kewajiban dengan mengikuti hikmah ilahiyah dalam
pengutusan seorang nabi dan rasul. sehingga berakhir menjadi suatu kekuatan
pendorong untuk mencapai kebahagian sesudah roh terpisah dengan tubuh.
Nabi memiliki kemampuan jiwa mendengar kalam ilahi,
melihat malaikat-malaikat, demikian seluruh mahluk-mahluk. Nabi dengan jiwa
kenabiannya berusaha mengantarkan species manusia agar manusia menjadi mahluk
paling mulia.
Pentingnya gejala kenabian dan wahyu ilahi merupakan
sesuatu yang oleh Ibnu Sina telah diusahakan untuk dibangun dalam empat
tingkatan: intelektual, “imajinatif”, keajaiban, dan sosio politis. Totalitas
keempat tingkatan ini memberi kita petunjuk jelas tentang motivasi, watak dan
arah pemikiran keagamaan.Akal manusia terdiri empat macam yaitu akal materil,
akal intelektual, akal aktuil, dan akal mustafad. Dari keempat akal tersebut
tingkatan akal yang terendah adalah akal materiil. Ada kalanya Tuhan
menganugerahkan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, untuk hal
ini, Ibnu Sina diberi nama al-hads yaitu intuisi.
Menurut filsafat
kenabian Ibnu Sina, daya pada akal materiil begitu besar, sehingga
tanpa melalui latihan dengan mudah berhubungan dengan akal aktif dan menerima
cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal serupa ini mempunyai daya suci. Inilah
bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia dan terdapat hanya pada
nabi-nabi. Jadi wahyu dalam pengertian teknis inilah kemudian mendorong manusia
untuk beramal dan menjadi orang baik, tidak hanya murni sebagai wawasan
intelektual dan ilham belaka. Maka tak ada agama yang hanya berdasarkan akal
murni. Namun demikian, wahyu teknis ini, dalam rangka mencapai kualitas potensi
yang diperlukan, juga tak pelak lagi menderita karena dalam kenyataannya wahyu
tersebut tidak memberikan kebenaran yang sebenarnya, tetapi kebenaran dalam
selubung simbol-simbol.
Komentar
Posting Komentar