Para Filsuf Yang Mempercayai Adanya Tuhan (2)
Schleiermacher
(1768-1834)
Schleiermacher adalah penganut Kant, namun baginya Allah
lebih baik tidak ditelusuri dengan metafisika belaka, namun perlu dihayati
kehadirannya, yaitu dengan kontemplasi. Baginya, Allah yang tidak bisa ditangkap inderawi tidak bisa juga dilacak dengan rasio
murni. Istilah yang dipakai
oleh Schleiermacher untuk Allah adalah "Sang Universum". Jika Kant
mengenal Allah sebagai pemberi hukum moral yang melampaui rasionya,
Schleimarcher
menganggap Allah yang dimaksud Kant
tidak memadai dalam kehidupan manusia, sebab Allah hanya pemberi ganjaran kepada
orang yang baik dan penghukum orang yang kurang baik.
Sebab Allah, bagi Schleiermacher tidak mungkin memberi
hukuman kekal kepada manusia lantaran ia tidak sempurna, hal ini dikarenakan
bahwa manusia diciptakan Allah bukan agar ia sempurna, melainkan agar ia
berikhtiar mencapai kesempurnaan itu.
Scleiermacher mendekati Allah bukan dari teori
spekulatif, bukan dengan pendekatan moral-praktis, melainkan pendekatan intuitif-batin,
dalam bahasanya melalui kontemplasi dan perasaan.
"Di sinilah agama merenungkan Sang Universum, di dalam caranya
mengekspresikan diri dan
tindakannya, agama ingin mendegarkan bisikan suara Sang Universum itu dengan
khidmat.
Dalam kepasifan anak-anak, agama ingin ditangkap dan
dipenuhi oleh daya pengaruhnya" Agama adalah Sang Universum sendiri. Sang Universum ditangkap darialam dunia yang mamanifestasikannya. Namun
alam dunia bukanlah Sang Universum yang berdiri sendiri, namun tetap
memanifestasikan alam. Pembedaan ini melaui dua tahap,
yaitu:
- Alam adalah wahyu Allah, dan ditangkap oleh sanubari manusia.
- Wahyu yang lebih tinggi dan lebih baik adalah manusia yang menurut Schleiermacher tidak terbagi-bagi dan tidak terbatas, namun bereksistensi. Dalam aktivitas umat manusia itulah Allah menyatakan diri, alam diresapi oleh Yang Ilahi. Namun manusia bukanlah Allah sendiri. Maka tugas agama adalah mencari menemukan Allah yang ada di luar dirinya. Agama harus tinggal dengan pengalaman-pengalaman langsung untuk mencari Allah dan mencari keterhubungannya secara menyeluruh, bukan berfilosofi.
Alfred North Whitehead (1861-1947)
Alfred North Whitehead dijuluki sebagai bapak filsafat maupun teologi proses. Pemikirannya tergolong abstrak karena pengaruh bidang yang
digelutinya, matematika dan pengetahuan empirisme mengenai alam yang
didapatkannya dari fisika terapan. Dalam bukunya tentang Bagaimana Agama Terjadi (1926) dia menyatakan; “Dogma-dogma agama adalah upaya untuk
memformulasikan secara persis kebenaran-kebenaran yang tersibak di dalam
pengalaman religius umat manusia. Dengan cara yang sama dogma-dogma fisika
merupakan upaya untuk memformulasikan secara persis kebenaran-kebenaran yang
tersingkap didalam pencerapan inderawi umat manusia”.
Filsafat
Proses Whitehe prosesnya
memakai dua pendekatan, antara lain:
- Prinsip proses
- Prinsip kreatifitas.
Dari prinsip ini maka proses dibedakan dalam dua:
1. Prinsip bagi proses yang bersifat mikrokopis (konkresi) adalah asas yang
memungkinkan lahirnya wujud aktual baru dari aktual-aktual lama yang sudah
penuh.
2. Prinsip bagi proses yang bersifat makrokopis (objektifikasi) yang memungkinkan
sesuatu yang sudah penuh berubah dan menjadi datum lagi.
Prinsip kreatifitas itu disimpulkan secara logis
berdasarkan analisisnya atas satua aktual sebagai wujud ciptaannya.
Proses kreatifitas dan pembaruan dari satuan
aktual-aktual terus terjadi, salah satu partisipannya adalah Allah, namun Dia
yang paling menonjol karena dia adalah yang awali dan yang akhiri.
- Yang awali : Allah memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai dasar awali yangyk adanya tatanan dalam seluruh jagat raya dan sebagai dasar munculnya kebaruan dalam perwujudan suatu peristiwa aktual.
- Yang akhiri: Allah sebagai penyerta yang tanggap dan menyelamatkan. Jadi Tuhan (Allah) bagi Whitehead memiliki peran seperti yang telah disebutkan diatas, dengan begitu dia bisa mengendalikan setiap perubahan yang terjadi atas aktual-aktual lain dan mengakhirinya dengan baik.
Ludwig Feuerbach
Ateisme menurut Feuerbach (1804-1872) adalah memandang Tuhan
dalam
agama hanya sebagai proyeksi dari kehendak manusia saja. Dia menolak pandangan
Hegel yang menyatakan Tuhan mengungkapkan diri dalam kesadaran manusia.
Baginya, yang nyata bukan lah Tuhan, yang nyata adalah manusia. Tuhan hanyalah
proyeksi manusia yang mendamba sifat-sifat yang tidak dapat dicapainya.
Kehendak manusia untuk berkuasa, serba tahu, ada di
mana-mana, dan tidak terikat waktu itu kemudian dilemparkannya pada "hal
lain" yang adalah Tuhan. Sebab kepastian yang nyata adalah yang dapat di
tangkap inderawi, yaitu realitas manusia. Pandangan seperti ini nanti akan
masuk dalam filsafat meterialisme. Kebaikan pandangan Feuerbach ini adalah
menyatakan hakekat manusia untuk kreatif, berbelas kasih, baik, saling
menyelamatkan dsb. Aneh bila manusia menyembah Tuhan yang adalah dirinya
sendiri, maka manusia seharusnya menarik agama ke dalam dirinya sendiri supaya
ia menjadi kuat, baik, adil dana maha tahu.
Karl Marx
Menurut Karl Marx, agama adalah candu masyarakat,
karena agama, masyarakat menjadi tidak maju dan bersikap rasional. Agama yang dimaksud Marx
adalah agama KristenAteisme
yang diajarkan Marx adalah ateisme modern.Agama yang mengajarkan Tuhan yang
serba bisa hanya menipu dan menyesatkan masyarakat. Marx mengkritik Feuerbach
yang hanya menyatakan bahwa Tuhan adalah khayalan, namun tidak mencari
sebabnya. Bagi Marx sebab yang diberikan adalah manusia lari kepada Tuhan
karena penindasan yang mereka terima dari masyarakat kelas yang dikritiknya.
Menurutnya agama hanya menjadi penghalang manusia
untuk menyangkal dan memperbaiki hidupnya yang sedang ditindas, seandainya
Tuhan dan agama tidak ada, maka manusia bisa hidup bebas dan bermartabat. Di
sinilah Tuhan sekiranya dicoret karena tidak diperlukan. Manusia seharusnya
menolak kapitalisme yang sedang menindas mereka.
Sigmund Freud
Filsafat Ketuhanan dalam pandangan Sigmund Freud dengan terori psikoanalisnya dimulai
denan pertanyaan, "Apakah kepercayaan akan Allah dapat
dipertanggungjawabkan?" Hal ini berawal dari analisanya tentang
perkembangan manusia yang mempercayai agama yang terkadang tidak mencari
kebenaran-kebenaran di dalamnya. Manusia yang hanya menerima begitu saja
agama-agama yang diajarkan kepadanya. Ide Allah hanyalah ilusi, namun begitu
dibutuhkan manusia seperti seorang manusia yang membutuhkan seorang bapak yang
melindunginya.
Namun Freud mengajukan pertanyaan selanjutnya,
“Apakah agama benar-benar baik bagi manusia?” Jawabannya adalah ambigu. Yang ditekankan olehnya
adalah seharusnya manusia bertanya akan imannya sehingga dia tidak terjebak
dalam bentuk-bentuk infantil dan neurotis. Pendk kata, Freud tidak memperdebatkan
realitas Allah, namun lebih mengupas ilusi palsu kesadaran manusia. Karena
bertanya, maka sesungguhnya penjelasan yang dikemukakan agama tidaklah memadai,
Allah tidak bisa dijelaskan dalam intelektual, sehingga perlu ditolak juga.
Terlebih lagi jika dicari manfaatnya, agama hanya sebagai penghambat
perkembangan pribadi, maka harus pula ditolak.
Friedrich Nietzsche (1844-1899)
Friedrich Nietzsche sangat terkenal dengan Sabda Zarathustra (1883) bahwa "Tuhan telah
mati". Inilah awal mula penolakannya terhadap Tuhan. Penolakannya terhadap
Tuhan sebenarnya berasal dari kebenciannya melihat orang Kristen yang tidak
menunjukkan kekristenan yang seharusnya menampilkan kasih. Kebenaran bagi dia
sangat subyektif, dipikirkan manusia yang sangat super kekuasaannya terhadap dirinya sendiri.
Subyektivitas itu juga dalam hal kebenaran agama,
apa yang disebut baik bisa saja sebenarnya sangat buruk, apa yang disebut buruk
bisa saja sebenarnya sangat baik.Agama Kristen dianggap oleh Nietzsche sebagai
bentuk Platonisme baru yang memisahkan antara dunia, kosmologi, materi dan apa
yang dapat ditangkap oleh pancaindera. Dari sini keburukan Kristen kata
Nietzsche dipandang meremehkan hal-hal duniawi, tampak seperti gnosis yang
meremehkan hidup (tubuh, dunia, hawa nafsu) sehingga merupakan hasrat akan
kehampaan, kehendak akan dekadensi, sebagai penyakit, kelesuah dan kepayahan
hidup. Hal ini ditujukan kepada agama [Kristen]
yang memiliki label baik,
sebenarnya sangatlah buruk, yaitu dengan ajaran-ajarannya yang sebenarnya
membelenggu manusia untuk berkembang. Bagi dia, manusia adalah ukuran segala
sesuatu, bukan Tuhan yang disebut agama Kristen. Manusialah tuhan atas ciptaan
ini dan yang mampu mengerjakan apa yang diinginkannya.
Maka penolakan akan Tuhan adalah hal yang paling baik,
sebab manusia menjadi tidak bergantung pada Allah (Kristen) yang hanya
membelenggu manusia itu, katanya.
J. Paul Sartre (1905-1980)
Tuhan di mata Sartre kecil adalah sosok penghukum yang
mengawasinya di manapun dia berada, oleh karenanya dia tidak suka kehadiran
Tuhan. Tuhan juga tidak hadir ketika dia ingin menemuinya. Oleh karena itu
Sartre sudah menolak Tuhan yang tidak nyata semenjak umur 12 tahun.[ Sartre yang tadi dididik secara
Katolik berpindah kepada kesusastraan, yang disebut sebagai agama baru baginya.
Namun secara sistematis, dan khas eksistesialis,
penolakan atas Tuhan ini dilakukannya karena pemisahan radikal dalam tulisannya Ada dan Ketiadaan terjemahan dari Being and Nothingness. Baginya, di dunia ini tidak ada grand
design yang mutlak, manusialah yang bisa mengatur dirinya sendiri dengan
eksistensinya. Eksistensi manusia mendahului esensinya; manusia ada dan
kemudian menentukan "siapa dirinya". Dia menyangkal Descartes tentang Aku berpikir, maka aku ada,
yang benar adalah Aku ada lalu
aku berpikir. Dari sinilah dia meneruskannya dalam teori eksistensial
fenomenologisnya, bahwa segala sesuatu harus dipisahkan dalam dua bagian; etre en soi / ada dalam dirinya
sendiri atau etre-pour soi / ada untuk dirinya
sendiri.
Segala sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri berarti
tidak pasif, tidak aktif, tidak afirmatif juga tidak negatif,
ada begitu saja, tanpa fundamen, tanpa dapat dirutunkan dari sesuatu lain,
tidak berkembang. Sedangkan ada
untuk dirinya sendiri adalah
sebuah kesadaran], dan ini khas manusia. Dari pemisahan inilah, dia melabel
Tuhan orang Kristen yang tidak berubah itu masuk dalam golongan ada dalam dirinya sendiri, maka
dari itu dia tidak lebih besar dari manusia yang memiliki kesadaran untuk memilih
esensinya sendiri. Di sinilah penyangkalan Tuhan itu terjadi, dia tidak
mengakui Tuhan lebih tinggi dari manusia, maka Tuhan tidak diperlukan lagi.
Karena Tuhan tidak lagi ada, maka manusia menjadi bebasdan
bisa menentukan kondisi bangsanya.
Komentar
Posting Komentar