Kematian Jadi Bisnis Amat Ironis...
Apa yang membuat
kematian menjadi suatu “masalah”? Jika dilihat dengan kepala dingin, kematian
adalah proses yang alami. Ia telah berlangsung selama puluhan juta tahun di
berbagai jenis kehidupan, dan dapat dipastikan akan terus berlangsung, sampai
waktu yang tak dapat ditebak. Seperti dinyatakan oleh Steve Jobs pada pidatonya
di Universitas Standford, kematian membuka peluang bagi yang baru untuk
berkembang, dan yang lama untuk pergi. Kematian memastikan, bahwa roda dunia
tetap berputar, dan dunia terus diperbarui oleh wajah-wajah baru yang
sebelumnya tak ada.
Kematian
sebagai “Masalah”
Jadi,
apa yang membuat kematian menjadi suatu “masalah”? Jika salah seorang anggota
keluarga meninggal (dilahap kematian), orang otomatis kehilangan kepala
dinginnya. Emosi, kesedihan dan ketakutan menikam jiwanya. Daya analisis dan
kemampuan nalar langsung meredup.
Kemampuan kematian
untuk menghancurkan nalar dan membangkitkan ketakutan amatlah besar. Kematian
menyergap langsung. Ia tak dapat ditebak. Ia merusak harmoni di dalam keluarga
dan di dalam hubungan antar manusia, yang telah diusahakan dengan segala daya
sebelumnya. Inilah alasan, mengapa kematian menjadi suatu “masalah”.
Kematian juga
menciptakan rasa takut. Namun, jika diteliti lebih dalam, seperti dinyatakan
oleh Budi Hardiman, yang menakutkan bukanlah kematian, melainkan mati, yakni
proses menuju kematian. Orang, pada dasarnya, tidak takut akan kematian. Namun,
semua orang, bahkan para penganut agama yang merindukan surga, tidak mau
menjalani proses “mati” menuju kematian. Proses tersebut memang kerap kali
tragis, seperti kecelakaan berdarah, penyakit yang menyiksa dan sebagainya.
Kematian bisa
menjadi masalah, karena ia bisa memecah keluarga. Kematian satu orang bisa
melahirkan perang, seperti yang memicu perang dunia pertama pada awal abad
lalu. Dampak sebaliknya juga benar, bahwa kematian bisa juga menyatukan
keluarga. Orang-orang yang sebelumnya tak akrab lalu menjadi dekat, karena
mengalami kesedihan dan kehilangan yang sama. Kesamaan nasib dan kesedihan melampaui
segala perbedaan, lalu mengikat orang yang sebelumnya bermusuhan.
Bagi keluarga yang
ditinggalkan, kematian meninggalkan luka dalam di hati. Kata “patah hati”
disini berperan tidak hanya sebagai lukisan, tetapi nyaris mendekati kenyataan.
Luka yang timbul dari kematian sungguh mematahkan hati sanak saudara yang
ditinggalkan. Pada beberapa peristiwa yang ekstrem, kematian satu orang bisa
mendorong kematian orang lainnya, persis karena patah hati yang dirasakannya.
Di Indonesia,
kematian sering menjadi ladang bisnis. Dalam situasi duka, orang sulit berpikir
jernih. Akibatnya, ia lalu menjadi lengah, dan mudah ditipu oleh para pengeruk
uang. Harga makanan berlipat, ketika keluarga yang berkabung hendak
menyelenggarakan doa bersama. Segalanya menjadi lebih mahal, dan keluarga yang
berkabung tak lagi punya tenaga maupun akal sehat untuk menolak. Kematian satu
orang juga bisa berarti kematian ekonomi satu keluarga.
Di Indonesia,
kematian menjadi peristiwa sosial; peristiwa bersama. Keluarga yang berkabung
nyaris tak punya pilihan, apa yang akan dilakukannya. Semuanya sudah ada
tradisi dan prosedur yang mesti diikuti, demi memenuhi tuntutan sosial. Mungkin
saja, niat dibaliknya baik. Namun, proses yang harus dijalankan amatlah
menindas, karena keluarga harus tunduk pada norma sosial yang ada yang
seringkali melelahkan dan menguras uang, walaupun ia sedang berduka berat.
Komentar
Posting Komentar