Jalan Berliku Menuju Sukses
Apakah untuk sukses
kita perlu untuk menjadi orang jahat? Banyak orang dibungungkan dengan
pertanyaan ini. Pandangan umum mengatakan untuk menjadi sukses, kita perlu
sedikit menipu dan mengintimidasi kompetitor kita. Itulah tips untuk sukses.
Hmm.. apakah begitu?
Bagi Jeffrey Pfeffer
yang menghabiskan hidupnya sebagai professor dalam bidang perilaku organisasi
di Stanford University, Amerika Serikat, anggapan itu salah. (Pfeffer, 2010)
Namun tunggu dulu. Coba kita simak pendapat beberapa ahli lain soal pertanyaan
ini.
Di dalam bukunya
yang berjudul The No Asshole Rule, Robert Sutton mengajukan
bukti-bukti konkret, bahwa sikap jahat dan brutal dapat membantu orang
memperoleh kekuasaan atas orang lain, serta menciptakan ketakutan bagi para
kompetitornya. (dalam Pfeffer, 2010) Juga dalam organisasi sikap jahat dan
brutal dapat memotivasi bawahan untuk melampaui ketidakmampuan mereka, dan
mencapai kesempurnaan.
Dalam analisisnya
Pfeffer mengamati, bahwa orang-orang yang fokus pada pemikiran mereka sering
bernafsu untuk menerapkan ide tersebut ke dalam realitas, tanpa peduli dengan
dampak dari penerapan ide itu bagi orang lain. “Fokus mereka,” demikian tulis
Pfeffer, “…melenyapkan segala yang menghalangi jalan mereka – juga perasaan
mereka yang ada di dalam kategori ini (penghalang).” (Pfeffer, 2010).
Dengan kata lain
orang yang memiliki ide besar sering tidak peduli dengan perasaan serta situasi
orang lain, ketika mereka sedang menerapkan ide itu ke dalam realitas. Mereka
menghalalkan cara apapun untuk mencapai tujuan, walaupun itu dengan menyakiti
orang lain.
Pfeffer mengingatkan
bahwa orang-orang hebat di dunia bagaimanapun adalah manusia yang tidak
sempurna. Mereka hidup dengan kelemahan. Mereka memiliki sikap-sikap yang baik,
dan juga yang buruk, pada waktu yang sama. Namun dalam keseharian kita sering
menilai mereka terlalu sempit. Jika mereka berbuat jahat, kita langsung
mengkategorikannya sebagai orang “jahat”. Dan jika mereka berbuat baik, kita
otomatis mengkategorikan mereka sebagai orang “baik”. Sesederhana itu. Namun
bagi Pfeffer cara berpikir ini sangat merugikan. (Pfeffer, 2010).
Ada empat argumen
yang diajukannya. Pertama, sikap sempit ini menutup kemungkinan kita untuk
belajar lebih jauh. Jika orang sudah mencap orang lain sebagai “jahat”, maka ia
akan merasa, bahwa ia tidak akan bisa belajar apapun dari orang itu. Bagi
Pfeffer sikap ini salah. “Kita”, demikian tulisnya, “harus fokus untuk belajar
dari setap orang dan dari setiap situasi.” (Pfeffer, 2010).
Kedua, analisis yang
sempit dengan mengkategorikan orang melulu pada satu kotak, yakni baik atau
buruk, dapat menipu kita. Analisis semacam itu menurut Pfeffer mempersempit
perilaku dan kehidupan manusia yang amat rumit. Sekilas cara pandang sempit
sederhana semacam itu memang terlihat jelas dan mudah dimengerti, namun
sebenarnya menutupi kebenaran itu sendiri yang sebenarnya amat kompleks.
Tiga, analisis
sempit membuat kita tidak bisa menangkap perilaku yang sebenarnya dari orang
yang ingin kita pahami. Ketika sudah mengkotakkan orang ke dalam satu kategori,
maka kita berhenti untuk melihat perilaku apa adanya dari orang tersebut, dan
memilih untuk menyerap segala sesuatu yang ia lakukan sesuai dengan kotak yang
telah kita punya. Akibatnya sikap kita jadi tidak obyektif. Interaksi kita
dengannya pun menjadi tidak sehat, karena kita sudah tertutup oleh prasangka.
Empat, bagi Pfeffer
kotak jahat dan baik itu seringkali menipu. Kita lupa bahwa orang paling suci
di dunia pun selalu memiliki sisi gelap dan jahat. Manusia itu tidak sempurna.
Ia memiliki cacat dan justru itu yang membuatnya menjadi manusia. Yang perlu
dibangun adalah keyakinan, bahwa orang-orang yang tidak sempurna juga dapat
melakukan hal-hal baik. “Para pemimpin, orang-orang lainnya,” demikian Pfeffer,
“yang mengenali bahwa baik dan jahat ada di dalam diri setiap manusia, akan
lebih bijaksana, tidak terlalu percaya diri, dan lebih rendah hati.” (Pfeffer,
2010)
Di dalam film maupun
dongeng-dongeng di seluruh dunia, ada dua kubu yang selalu bertentangan, yakni
si baik dan si jahat. Pelaku bisnis tidak bisa secara sederhana dikategorikan
di dalam dua kotak sederhana itu. Begitu pula praktek bisnis yang sukses tidak
bisa hanya dijalankan dengan menilai seturut dua kategori yang simplistik
tersebut.
Di akhir tulisannya
Pfeffer menyatakan, “jika kita ingin memahami perilaku sosial, kita akan jauh
lebih mengenali bahwa kunci menuju sukses tidak bisa sesederhana itu.”
(Pfeffer, 2010) Tidak ada jalan pintas untuk mencapai sukses, entah itu jalan
baik atau jalan buruk. Kita hanya perlu menjadi manusia, dengan segala sisi
baik dan sisi jahatnya.
Beberapa prinsip yang perlu diingat:
Kita harus:
1. Memahami
kerumitan manusia sebagai mahluk yang sekaligus baik dan jahat
2. Belajar dari
siapapun termasuk yang kamu anggap lebih bodoh atau kurang darimu.
3. Mencoba obyektif
dalam memahami orang sekitarmu
4. Memahami bahwa
orang suci pun adalah manusia yang tidak sempurna.
Kita tidak boleh:
1. Mengkategorikan
orang sebagai jahat atau baik secara simplistik
2. Berhenti belajar
dari orang-orang sekitarmu, apapun latar belakang mereka.
3. Menilai orang
dengan prasangka atau emosi sesaat yang sempit.
4. Mencari jalan
pintas untuk mencapai sukses.
Komentar
Posting Komentar