Galau dan Eksistensialis
“Galau
adalah perasaan yang kau besar-besarkan untuk menguasai dirimu. Dia adalah
wajar, begitu mempesona dan kau menginginkannya” (Winata: 69).
Galau
itu gejolak pikiran dan pikiran itu penjamin eksistensi (ujung-ujungnya
pilihan). Galau muncul karena kenyataan tak sesuai dengan yang diharapkan lalu
jadi gelisah dibawa ke pikiran, nah mikir deh. Tapi pikiran juga jadi galau
soalnya belum aja menemukan relasi yang oke antara hal-hal yang dipikirkan
apalagi membayangkan suatu keputusan nanti. Kalo galau dibawa ke pikiran lalu
mencoba tenang dan merangkai satu hal dengan lainnya, dapat titik temunya, nah
itu asyik tuh jadi pemikiran.
Pointnya:
galau itu sumber pengetahuan/ pemikiran, renungkan, dengan galau beranilah
hadapi realita. Berat sih, ga sanggup? Paling larinya doa. Tapi kalo minjem
kategori dari filsuf pencipta aliran filsafat eksistensialisme, Soren
Kierkegaard, pemikiran galau itu masih tahapan dasar, estetik. Maksudnya bukan
sekedar esteik = indah, tapi estetik = keindrawian. Galau estetik, sudah dalam
pemikiran namun masih mudah tergoda oleh perubahan kongkrit (Inspirasi dari
Kiekergaard). Galau-etis, pemikiran galau yang menyangkut dengan keputusan atau
tindakan subjektif atas orang lain, menerima atau menyangkalnya.
Galau-religius, nah ini baru kalau galau tak bisa dipecahkan oleh tahap estetik
dan etis, lompatlah ke Tuhan (Inspirasi dari Kiekergaard).
Jadi
tahap-tahapan galau itu, yang terinspirasi dari Kiekergaard: Manusia harus
lebih dulu ngurusin soalnya sendiri, jangan langsung lompat pada Tuhan.
Kiekergaard pernah kena galau-etis, sudah siap-siap nikah tau-tau batal
seketika karena ketakutan kalo cintanya justeru tidak membebaskan. Itu persis
Arthur Schopenhauer, tapi tak ada tahapan. Langsung ke “Die Leiden” (Nikmat itu
Derita). Ya, Schopenhauer itu yang memperkenalkan galau dengan hashtag
#nowplaying. Seni dan musik untuk kontemplasi kehendak pribadi. Schopenhauer
itu galaunya kebangetan. Ngegabungin filsafat timur – Kant theorem dan Filsafat
Weda – Upanishad.
Umumnya
para eksistensialis galau-gagal dalam soal cinta (wanita)? Contoh Nietzsche,
Kafka, Camus, Goethe. Nietzsche mau kawin dengan Lou Salome, tapi tidak
diijinkan ibunya, ditambah sakit. Sartre punya kekasih meski hanya punya
hubungan tanpa nikah dengan Simone Beauvior seperti Heidegger dan Hanna Arenth.
“Indahnya
cinta tanpa perlu ikatan lembaga dan yang bisa dipertahankan bersama sampai
liang kubur”. (Sartre). "Cinta itu sejatinya
hanya cukup untuk dirasakan. Bila kau menginginkannya itu sudah bukan cinta
lagi, melainkan nafsu" (Winata:69)
Komentar
Posting Komentar