Filsafat untuk Kebahagiaan dalam Hidup
Banyak orang masih berpendapat, bahwa filsafat itu
bikin pusing. Ia tidak praktis. Isinya banyak teori abstrak, dan tidak langsung
berhubungan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Akhirnya, banyak orang takut
untuk belajar filsafat. Banyak orang juga mengira, bahwa belajar filsafat itu
bikin orang tidak percaya agama. Filsafat mendorong orang untuk menjadi ateis,
yakni orang yang tidak percaya tuhan. Dengan cap semacam ini, semakin banyak
orang yang takut untuk belajar filsafat.
Setelah anda mempelajarinya mungkin anda akan
berpikir bahwasanya filsafat itu tidak abstrak, melainkan sebaliknya: ia
berbicara tentang kehidupan manusia yang nyata dengan segala kerumitannya.
Filsafat juga tidak mendorong orang untuk menjadi ateis atau tidak beragama.
Filsafat membentuk cara berpikir yang kritis, masuk akal dan reflektif. Ateis
atau tidak, itu pilihan pribadi. Selama manusia masih berpikir dan bertanya,
filsafat tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini. Filsafat lahir dari
dorongan alamiah manusia. Energi dibaliknya adalah rasa heran, rasa kagum dan
rasa ingin tahu. Perkembangan filsafat akan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan.
Ini lalu bisa memberikan sumbangan besar untuk melestarikan dan mengembangkan
kehidupan secara keseluruhan.
Lalu, apa hubungan antara filsafat dan kebahagiaan
hidup? Hidup yang bahagia berarti hidup yang dijalani dengan cara berpikir yang
tepat. Kerangka berpikir dari berbagai macam sudut pandang inilah yang
ditawarkan filsafat. Kita hanya perlu memilih, sudut pandang mana yang pas
untuk hidup kita. Filsafat adalah sebuah kegiatan revolusi. Filsafat tidak
hanya terjadi di dalam hidup pribadi, tetapi juga mendorong revolusi sosial
politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan lebih
makmur. Hasil dari proses berpikir filosofis yang mendorong revolusi ini adalah
hidup yang bahagia. Kebahagiaan, dengan kata lain, lahir dan berkembang,
setelah orang mengalami revolusi berpikir di dalam hidupnya. Kebahagiaan adalah
hasil dari revolusi hidup.
Hidup yang bahagia menyentuh tiga tingkatan. Yang
pertama adalah hidup yang bernilai dari kaca mata pribadi. Artinya, kita
menganggap cara hidup kita itu penting dan menarik untuk diri kita sendiri.
Yang kedua adalah cara hidup tersebut tidak hanya bernilai secara pribadi,
tetapi juga bermakna untuk orang lain. Orang lain terbantu dengan cara hidup
yang kita pilih. Yang ketiga adalah, hidup kita lalu bergerak terlepas dari
nilai pribadi dan makna sosial. Kita melampaui diri pribadi serta tuntutan
sosial, dan menjadi bebas sepenuhnya. Hidup kita lalu menjadi alamiah
sepenuhnya, serta mampu menanggapi segala keadaan yang terjadi secara tepat.
Inilah yang saya sebut dengan kebahagiaan sebagai pencerahan batin. Hegel,
filsuf Jerman abad 19, menyebut hidup yang bernilai secara pribadi sebagai
moralitas, dan hidup yang bermakna sosial sebagai hukum. Yang pertama
memberikan kepuasan pribadi. Yang kedua memberikan kesesuaian dengan kehidupan
sosial. Namun, keduanya lalu dilampaui ke dalam Sittlickeit, yakni tata moral
yang mendamaikan tegangan antara keinginan pribadi dan tuntutan sosial
masyarakat. Michael Bordt, dosen di Hochschule für Philosophie München,
menyebut hidup yang bahagia sebagai hidup yang berhasil (das gelungene Leben).
Ia memberikan kepuasan pribadi maupun makna kepada orang lain. Tidak ada
pertentangan antara prinsip hidup pribadi dan nilai-nilai sosial masyarakat.
Dengan cara berpikir semacam ini, orang lalu bisa menjalani hidupnya dengan
bahagia. Bordt juga menegaskan, bahwa kita kini hidup di dalam masyarakat yang
serba tidak pasti. Identitas diri kita pun lalu juga tidak pasti.
Referensi : https://rezaantonius.files.wordpress.com/2015/11/bahagia_kenapa_tidak-reza_aa_wattimena.pdf
Referensi : https://rezaantonius.files.wordpress.com/2015/11/bahagia_kenapa_tidak-reza_aa_wattimena.pdf
Komentar
Posting Komentar