Filsafat Kenabian

Peristiwa kenabian merupakan salah satu fase yang membentuk fakta al-Qur’an, dan memperluas kategori wahyu Yahudi-Kristen yang fundamental ke dalam dunia Arab. Dua lobang harus dihindari dalam usaha menangkap fungsi operatif dan fungsi direktif kenabian. Sikap positivis cenderung meminimalisir makna penting pengalaman keagamaan dan sikap orang fanatik yang tidak menggunakan pengalaman keagamaan karena sejarah dan secara bersemangat cenderung kepada figure simbolik yang disucikan. Jadi para ahli sejarah barat hampir tidak pernah memanfaatkan hagiographa dengan tujuan untuk mamahami proses-proses dan tingkat-tingkat transfigurasi tokoh-tokoh sejarah, sehingga memasukkan ke dalam mekanisme mental yang mengembangkan pemikiran dan memotivasi tindakan. Orang-orang yang beragama secara fanatik, dipihak mereka sendiri, telah menyingkirkan Nabi dari lingkungan kehidupan nyata, di mana Nabi menata energi kreatif dan kekuatan mobilisasinya, disamping menyebarkan pengaruhnya terhadap umat manusia dan peristiwa-peristiwa.
Esensi fungsi kenabian, menurut al-Qur’an dan kehidupan Muhammad terletak pada penyeimbangan sempurna antara pengalaman keagamaan dan aksi sejarah. Setiap aksi konkret Nabi membuka harapan baru bagi manusia. Apakah itu perang melawan musuh Allah, keputusan politik atau hukum, maupun transformasi pemujaan lama atau hubungan social, selalu dikukuhkan oleh apa yang terletak diluar ruang dan waktu, di mana peristiwa itu terjadi dan muatan-muatan langsung dari semangat yang memahami dan melaksanakan tindakan. Itulah pengertian wahyu yang “diturunkan” kepada Muhammad, setiap kali ia melakukan takdir spiritual umat dengan cara mengambil suatu keputusan. Orang-orang yang ironisnya mengamati bahwa Tuhan kadang-kadang campur tangan dalam saat keberhasilan untuk membangun kembali autoritas Nabi-Nya telah kehilangan pijakan mendasar ini: “Homogenitas” sempurna “antara kata dan aksi”, yang merupakan ciri utama kenabian. Baik mendahului atau mengikuti peristiwa kehidupan nyata, maka kata-kata yang diucapkan selalu mentransendensi dan memberi makna universal kepada aksi tertentu.
Pada masa al Farabi dan Ibnu Sina,teori kenabian merupakan fenomena baru yang khas islami karena tidak ditemukan teori-teori kenabian ini. Oleh karena itu teori yang dihasilkan oleh para filosof muslim merupakan wujud nyata dari tanggung jawab moral mereka untuk menjelaskan secara rasional dogma-dogma ajaran islam yang mereka anut.
Filosof muslim telah memberikan sumbangan yang penting, yaitu tentang penemuannya pancaindera batin yang ditambahkan pancaindera lahir yang terkenal. Salah satu indera batin yang relevan dengan teori kenabian ini adalah imajinasi. Imanjinasi yang disebut Ibnu Sina sebagai imajinasi kompositif, adalah daya mental yang dapat menggabung-gabungkan bentuk fisik yang telah dicerap oleh indera lahiriah kita ke dalam bentuk-bentuk yang unik, yang tidak ditemukannya di alam fisik.
Selain imajinasi, teori yang dapat menopang filsafat kenabian adalah teori metafisika emanasi, khusus nya yang berkenaan dengan ittishal yang membicarakan kemungkinan bagi akal manusia untuk mengadakan kontak dengan akal aktif, yaitu akal ke sepuluh (Malaikat Jibril). Melalui doktrin Ittishal (kontak dengan akal aktif), para filosof menunjukkan bahwa kontak dengan agen spiritual merupakan inti dari nubuwah.


Komentar

Postingan Populer